KH. Wahid Hasyim, Tokoh Kemajuan Indonesia - Humaniora - www.indonesiana.id
x

Belajar via https://images.app.goo.gl/2vdK8btXGDT8oUeC6

muhammad rizal

Pemula dan terus belajar
Bergabung Sejak: 27 Maret 2022

Kamis, 2 Juni 2022 06:48 WIB

  • Humaniora
  • Topik Utama
  • KH. Wahid Hasyim, Tokoh Kemajuan Indonesia

    Menteri Agama pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki pandangan ke depan. Berusah meyakinkan ayahnya sendiri bahwa perubahan bisa dilakukan dari lingkungan terdekat, yaitu pesantren. Perubahan yang membawa dirinya dan Nahdatul Ulama (NU) lebih maju serta memberikan pengaruh besar terhadap kemerdekaan negeri ini, Indonesia.

    Dibaca : 851 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pada 1 Juni 1914 yang kelak akan menjadi hari lahir Pancasila, lahirlah seorang tokoh besar bernama Abdul Wahid Hasyim, anak dari seorang tokoh penting lainnya, KH. Hasyim Asy'ari yang beribukan, Nafiqoh, istri kedua Hasyim Asy'ari. Dalam buku Wahid Hasyim, Untuk Republik Dari Tebuireng, dalam Seri Buku Saku Tempo bahwa awalnya Wahid Hasyim diberi nama oleh sang ayah Muhammad Asy'ari. Namun, sang bayi dalam satu bulan pertama selalu sakit-sakitan dan menyebabkan badan bayi kecil tersebut menjadi semakin kecil yang menyebabkan makin lama menjadi sangat kurus. Sang ayah berpikir hal tersebut karena nama yang diberikan olehnya terlalu berat, akhirnya digantilah menjadi Abdul Wahid Hasyim yang kemudian biasa dipanggil oleh ibunya "Mudin".

    Berjalannya waktu, Wahid Hasyim kecil menjadi sosok yang menonjol dari kecil. Saat umur lima tahun Wahid Hasyim sudah belajar Al-Quran. KH. Hasyim Asy'ari sendiri yang mengajar putranya agar dirinya mampu memberikan segala pengetahuannya kepada anaknya yang biasanya dilakukan sesuai salat zuhuer dan maghrib. Untuk pengetahuan agama lain, Wahid Hasyim belajr di Pesantren Tebuireng, milik ayahnya pada pagi hari. Masih pada sumber yang sama, karena kemampuannya yang di atas rata-rata pada usia tujuh tahun dirinya sudah belajar "kitab" seperti: Fathul-Qarib, Minhajul Qawim, dan kitab Mutammimah. 

    Di saat dirinya berusia 13 tahun, Wahid Hasyim minta izin kepada ayahnya untuk melakukan pengembaraan dari satu pesantren ke pesantren lainnya yang diijinkan oleh ayahnya. Perjalannya dimulai ke sejumlah pesantren yang diawali dengan menyantri di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo selama 25 hari saat bulan Ramadhan. Kemudian berlanjut dengan berpindah ke Pondok Lirboyo, Kediri yang merupakan pesantren yang didirikan oleh teman dekat Hasyim Asy'ari dan merupakan alumnus Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Karim. Setelah selesai dari pesantren tersebut, selama dua tahun dirinya tetap konsisten melakukan pengembaraan ke berbagai pesantren hingga akhirnya kembali ke Pesantren Tebuireng, tempatnya tinggal.

    Berdasarkan salah satu artikel di NU Online, disaat usia 17 tahun Wahid Hasyim mulai mengajar di Pesantren Tebuireng milik ayahnya. Pada tahun 1932 dirinya berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sembari memperdalam berbagai cabang ilmu agama Islam lainnya yang berlangsung kurang lebih dua tahun. Pada tahun 1933 waktu usia memasuki usia 19 tahun, Wahid Hasyim mengusulkan sebuah ide kepada ayahnya untuk membuat madrasah yang memperbanyak mempelajari ilmu di luar ilmu agama. Dasar pemikirannya adalah karena tidak semua santri pada akhirnya menjadi ulama, jadi membutuhkan ilmu baru yang mampu membuat para santri bisa berkembang. Ditambah dirinya pun merasa bahwa sistem pendidikan pesantren yang berdasarkan sorogan atau bandongan yang biasanya hanya mendengarkan guru membacakan kitab membuat santri menjadi pasif dan minim dialog.

    Namun, dalam Wahid Hasyim , Untuk Republik Dari Tebuireng menjelaskan bahwa ayahnya tidak mengijinkan untuk merubah sistem pendidikan Pesantren Tebuireng secara ekstrem namun diijinkan oleh ayahnya mendirikan sebuah madrasah sendiri yang diberi nama Madrasah Nizamiyah. Di dalam madrasah ini para santri tetap mendapatkan pelajaran agama, namun porsinya dikurangi dan diberikan porsi lebih banyak untuk pelajaran umum seperti pengetahuan umum serta pelajaran bahasa, seperti bahasa Jerman dan bahasa Belanda. Berjalannya waktu, karena dianggap kurang efektif dalam satu pesantren terdapat dua madrasah, dimana pada saat itupun terdapat madrasah lain yang bernama Madrasah Salafiyah. Akhirnya dilakukan peleburan dimana keduanya digabung dengan bernama Madrasah Salafiyah karena dianggap lebih tua, namun dari penggabungan dua madrasah tersebut tidak menghilangkan pelajaran umum walaupun tidak sebanyak sebelumnya.

    Perubahan yang dilakukan ini pun dirasa merubah sebuah paradigma sederhana bahwa untuk melawan penjajah pada saat itu, kita harus mempelajari apa yang mereka pelajari agar bisa lebih kuat lagi. Abdul Wahid Hasyim, yang waktu itu pun melihatnya sebagai salah satu upaya mengangkat para santri Nahdatul Ulama dan lembaga Nahdatul Ulama. Layaknya seorang tokoh lain, dirinya pun mampu menunjukkan bahwa santri NU yang identik sebagai ahli agama pun bisa mempelajar keilmuan di luar agama agar mampu memberikan dampak lebih kepada NU dan kemerdekaan yang diperjuangkan saat itu.

    Ikuti tulisan menarik muhammad rizal lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.