Hisop - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Gambar oleh Hands off my tags! Michael Gaida dari Pixabay

Almanico Islamy Hasibuan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 22 November 2021

Sabtu, 11 Juni 2022 11:16 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Hisop

    Seorang abang yang tidak sengaja membuka topeng yang selalu dipakai orang-orang dewasa. Si Abang akhirnya mengetahui bentuk asli mereka dibalik topeng itu dan bersumpah untuk melindungi keluarganya.

    Dibaca : 707 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

                Aku sangat benci orang dewasa. Mereka tidak memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Mereka adalah makhluk yang egois. Aku sudah melihat itu semua dengan mata kepalaku sendiri. Aku merasakannya dengan seluruh ragaku. Aku harus menderita akibat keputusan mereka. Aku tidak akan pernah lelah untuk mengatakannya. Aku benci orang dewasa.

                Keluargaku memiliki toko bunga. Ibuku biasanya menjaga tokonya, sedangkan ayah bekerja sebagai dokter. Setiap pulang dari pekerjaannya ayahku selalu membeli bunga kami dan memberikannya kepada ibuku. Aku tidak mengerti waktu itu, tetapi jika dipikirkan mereka adalah pasangan yang harmonis. Aku yang masih bocah selalu senang melihat itu. Ibuku juga memiliki hobi naik sepeda motor saat sore hari. Dia bahkan adalah seorang ketua preman saat masih SMA. Ayahku hebat sekali. Dia tidak pernah lupa hingga meninggalkan tokonya. Aku akan menjaganya saat dia pergi dan terpaksa meninggalkan kegiatan melukisku, namun suatu hari ibu tidak pernah pulang. Dia tidak pernah pulang. Tentu saja kami semua terpukul. Aku tidak tahu apakah dia mengalami kecelakaan atau terus mengendarai sepeda motornya sampai meninggalkan kami. Ayahku mengalami depresi yang berat. Akulah yang menjadi penjaga toko bunga kami. Ayahku juga semakin bertingkah aneh. Dia selalu pulang larut malam yang meninggalkan aku dengan kedua adikku. “Andi, bapak akan pergi ke luar kota. Bapak diberikan tugas oleh kantor. Jaga adikmu baik-baik ya,” ujar ayahku. Aku mempercayai perkataan ayahku, namun ayahku tidak pernah pulang. Penderitaan itu ditambah dengan adikku yang jatuh sakit. Lukisanku juga gagal meraih penghargaan. Aku berusaha membeli obat, tetapi uangku hanya bisa membeli makan malam. Pertama kali dalam hidupku, aku mencuri. Aku kemudian ketahuan oleh pemiliknya. Warga berkerumun mendengar teriakannya. Kau pasti menganggap jika pencurinya adalah anak-anak mereka tidak akan menghajarnya. Kau salah besar. Mereka menghajarku seperti melampiaskan penderitaan mereka kepadaku. “Anak siapa ini? Aku yakin orang tuanya pasti juga tidak beres,” ujar pemilik tokonya. Ah, kau benar. Ini semua adalah salah mereka. Semuanya sudah jelas. Mereka adalah sumber penderitaanku.

                Hari itu, aku berjanji tidak akan bergantung pada orang-orang yang mengatakan mereka dewasa itu lagi. Aku sendiri yang akan melindungi kedua adikku. “Bang, jika muka abang seram seperti itu pelanggan tidak akan datang," ujar adik perempuanku yang sudah duduk di bangku SMP. Adikku paling kecil juga sudah duduk di bangku SD. Aku terpaksa meninggalkan semuanya. Sekolahku, teman-temanku, dan cita-citaku. Aku mengantarkan paket di pagi hari dan menjaga toko sampai malam. Aku masih bisa menghidupi kami dengan itu. Bagaimana dengan keluarga besarku? Mereka bahkan tidak menganggap keluarga kami. Ayah dan ibuku menikah tanpa restu keluarganya. Aku yang semakin mengenal mereka semakin membuatku muak dengan mereka yang disebut sebagai orang dewasa. Tetangga kami hanya memuji kami tanpa memberikan bantuan apa pun. Aku tidak membutuhkan pujian murahan dari kalian.

                Suatu hari adik laki-lakiku mengalami kecelakaan. Dia langsung dibawa ke rumah sakit. Aku bergegas menutup toko dan pergi ke rumah sakit. Aku yang melihat kondisi adikku dan kondisi keuangan kami membuat lututku kehilangan kegunaannya. “Maaf nak, apakah kau keluarganya?” Dokter itu mengatakannya dengan wajah yang jahat. Mereka semua memiliki wajah yang jahat. Tersenyum lebar dengan niat terselubung. “Bagaimana keadaan Yusuf, adikku?” Dia mengatakan bahwa adikku mengalami luka dalam terutama bagian ginjalnya. Donor ginjal merupakan langkah yang tepat, tetapi ginjal siapa? Jika aku memberikan satu ginjalku, bagaimana aku nanti bekerja keras untuk mereka berdua? Apakah tubuhku akan sanggup? Gina kemudian datang tergesa-gesa. Dia kemudian menangis melihat kondisi adik kami. Apa yang harus aku lakukan? Kami akhirnya memutuskan untuk tidur di rumah sakit.

                “Gina, bangun. Waktunya berangkat ke sekolah,” ujarku. Gina menolaknya dan bersikeras ingin berada di sisi adiknya. “Tolonglah. Aku tahu mengapa kau ingin berada di sini, tetapi jika sekolahmu sampai gagal aku tidak akan tahu harus berbuat apa,” ujarku. Dia akhirnya setuju dan pergi ke sekolah. Aku tetap tinggal di rumah sakit. Aku sudah membulatkan keputusanku. “Bagaimana nak? Apakah kau sudah menemukan pendonornya?” Aku menandatangani persetujuan itu dan dibawa langsung ke ruang operasi. Aku akan melakukan apa pun untuk mereka berdua.

                Gina yang pulang dari sekolahnya langsung menuju ke rumah sakit. Dia melihat aku dan adiknya yang telah sadar. Dia memeluk kami berdua. Gina tidak tahu apa yang terjadi tetapi dia sangat bersyukur adik kami baik-baik saja. “Bagaimana dengan biayanya? Aku tidak memiliki banyak uang,” ujarku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika biayanya sangat mahal. “Tidak perlu. Aku telah melihat dokumen keluargamu dan hal ini tentu saja membuat kami prihatin,” ujar dokter itu. Apa yang dia katakan? Apa tujuan dia sebenarnya berbuat baik seperti itu? “Maaf pak, apa tujuan bapak berbuat seperti itu? Apakah kau akan menangkap kami dan menjual organ-organ kami?” Dokter itu melihat suster di sampingnya dan tertawa. “Kau anak yang memiliki imajinasi tinggi. Tentu saja tidak. Kita harus tolong-menolong sebagai manusia.”, ujarnya. Tidak mungkin, aku tidak percaya. Dia pasti merencanakan sesuatu. “Apakah kau serius?” Dia menepuk kepalaku. Aku melihat ke atas dan wajah dokter itu berubah. Dia tidak lagi tersenyum dengan jahat. Dia terlihat hanya seperti orang biasa. “Sudahlah, kau tidak perlu curiga. Kau bisa pulang atau tetap tinggal di sini sampai pulih. Pilihanmu,” ujar dokter itu. Apakah kau serius? Apakah mereka semua tidak sama? Aku bertekuk lutut dan menangis di kakinya. Aku tidak tahu mengapa aku menangis seperti itu. Aku bahkan tidak menangis saat mereka berdua meninggalkan kami bertiga. Aku juga melihat kedua adikku yang menangis. Aku hanya bisa berharap jika peristiwa ini bukanlah sebuah kebahagiaan sesaat. Aku selalu berpikir akhir-akhir ini. Apakah mereka semuanya jahat? “Aku selalu ingin membayar jasamu. Jika aku membalasnya kepada anakmu, apakah kau menerimanya?” Dokter itu pun melanjutkan pekerjaannya.

                Suatu hari, hujan turun dengan derasnya di sore hari. Kami akhirnya menutup toko lebih cepat. Kedua adikku membantuku untuk menjaga toko bunga kami. Suster-suster itu memberitahu bahwa aku tidak bisa kerja keras lagi. Aku kira aku mengatakannya untuk dirahasiakan. “Andi, Gina, Rudi, apakah kalian ada?” Aku tidak ingin melihatnya, aku tidak ingin mendengarnya, itulah pemikiranku saat mencoba melihat siapa yang memasuki toko kami. “Ibu?,” ujar Gina dengan ketidakpercayaannya. Mengapa? Mengapa dia datang ke sini? Gina dan Yusuf langsung menuju ke arah ibuku. Aku menahan mereka berdua. “Mengapa bang? Ibu sudah pulang ke rumah!” Aku bahkan tidak mau tahu alasan dia datang ke sini. “Apa yang kau inginkan? Apakah kau mau mengambil uang kami? Apakah bensinmu sudah habis? Atau kau ingin sepeda motor yang baru? Kami tidak memiliki uang banyak. Maaf, mohon cari tempat lain!” Aku tanpa sadar berteriak kepada ibuku. Apakah aku sudah termasuk anak yang durhaka? Aku hanya ingin melindungi mereka berdua dari tipuan kaum mereka. “Andi, maafkan ibu. Ibu hanya ingin melihat kalian bertiga,” ujar ibuku. Aku tidak akan termakan rayuan manis mereka lagi. Aku akan melindungi kedua keluargaku. “Bang!” Teriakan adikku menyadarkanku. “Apakah abang tidak akan membiarkan masuk ibu kita? Bukankah abang yang paling sedih saat ibu pergi jauh?” Aku tahu itu. Aku sedih bukan karena kalian meninggalkanku. Aku sedih karena kalian tidak memberitahukan aku kalian pergi ke mana. Apakah kami bertiga merupakan beban bagi kalian? “Andi, maafkan ibu selama ini nak.”, ujar ibuku. Mengapa? “Mengapa kau melakukan itu? Apakah kalian berdua tidak tahu akibat perbuatan kalian? Aku bahkan harus meninggalkan lukisanku! Teman-temanku! Sekolahku! Aku meninggalkan semuanya. Semuanya, hanya karena keegoisan kalian. Apakah kalian memikirkan itu saat kalian meninggalkan kami?” Ibuku hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia akhirnya pergi meninggalkan kami. “Bang, apa yang kau lakukan? Ibu sudah pergi di hujan berat seperti ini!” Aku melihat kedua adikku yang masih mengharapkan kehadiran ibuku. Aku tidak bisa membiarkan mereka berdua seperti aku. “Sial!” Aku pergi mencari ibuku di hujan lebat. “Woy! Di mana kau? Woy!” Sial, ke mana dia pergi? “Mengapa kau harus selalu pergi dari kami? Apakah kami sebagai beban bagi kalian? Tolonglah, jawab! IBU!!!!” Ibuku tiba-tiba berada di belakangku. Aku melihat dia yang sudah mengeluarkan air mata. Aku sudah pasti akan masuk neraka. Aku menawarkan payung kepadanya. “Ayo. Kedua anakmu sudah menunggu.”, ujarku. Dia menahan bahuku. “Bagaimana dengan anakku yang satu lagi?” Apakah kau bercanda? Kalian berdua meninggalkan kami. “Sudah lima belas tahun.”, ujarku. Ibuku tidak dapat menahan kesedihannya dan bertekuk lutut di tanah. Aku akhirnya membawa dia ke rumah kami.

                Malam itu, ibuku menceritakan semuanya. Hubungan dia dengan ayah yang tidak harmonis. Dia yang pergi lari bersama pria lain. Dia yang bercerai karena ingin bersama kami. Aku yang tidak bisa lagi mendengarnya pergi ke dapur untuk memasak. “Lihatlah ibu, abang sudah pandai memasak," ujar Gina. “Tidak sepertimu," ujarku. Kami pun akhirnya berkelahi di dapur. Ibuku yang melihat kami berdua berkelahi tidak kuasa menahan tawanya. “Apakah ibu senang?”, tanya Yusuf. Ibuku tersenyum lebar sambil mengusap kepala Yusuf.

    Ikuti tulisan menarik Almanico Islamy Hasibuan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    4 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 593 kali