Kesusastraan Indonesia Periode Sebelum Kemerdekaan hingga Saat Ini - Analisis - www.indonesiana.id
x

https://pin.it/1cAwSTB\xd foto dari pintrees

safitriani

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Bergabung Sejak: 7 April 2022

Sabtu, 18 Juni 2022 07:33 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kesusastraan Indonesia Periode Sebelum Kemerdekaan hingga Saat Ini

    Sejarah sastra adalah sejarah perkembangan sastra yang terdiri atas rangkaian peristiwa dalam periode-periode perkembangan sastra suatu bangsa mulai lahir sampai perkembangan terakhir. Dalam sejarah sastra dikenal adanya periodesasi. Periodesasi merupakan pembagian waktu atau masa. Di sini kita membahas mengenai Sastra. Periodesasi sastra merupakan pembagian atau pembabatan waktu dalam dunia kesusastraan. Untuk mengetahui sastra lebih jelas perlu adanya pengetahuan mengenai sastra itu sendiri baik dari segi pengertian maupun sejarahnya. Maka dari itu perlu pengetahuan mengenai periodesasi sastra. Berikut ini periodesasi sastra sejak sebelum kemerdekaan hingga saat ini.

    Dibaca : 346 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Sejarah Sastra Indonesia periode Sebelum Kemerdekaan

    Pembahasan pertama dalam sejarah sastra indonesia periode sebelum kemerdekaan ialah sastra melayu Tionghoa. Sastra ini terkadang tak dianggap karena dulunya orang Tionghoa tidak dianggap masyarakat indonesia. Sastra melayu tionghoa merupakan karya sastra yang ditulis oleh peranakan tionghoa yang berkembang sejak abad ke-19 hingga pertengahan 20. Pada kenyataannya orang-orang tionghoa sudah berbaur dengan orang indonesia. Hall tersebut dapat dilihat dari karya-karya yang mereka tulis. Orang-orang tionghoa menulis tentang kisah-kisah mereka di tengaah-tengah masyarakat setempat. Kisah-kisah dalam Karya Sastra Melayu-Tionghoa menggambarkan pergulatan mencari identitas dan pengakuan yang dialami etnis Tionghoa di Indonesia. Tampak pula keragaman dalam masyarakat Tionghoa yang berorientasi ke tanah leluhur, memuja kolonialisme Belanda atau berusaha menjadi orang Indonesia. Sebuah fakta lagi yang menguak betapa heterogennya masyarakat Tionghoa di Indonesia, dimana sering disamaratakan dengan stereotipe tertentu.

    Tahun 1914 muncul ungkapan Bacaan Liar yang pertama kali diucapkan oleh Ringkes. untuk membuat tulisan-tulisan kaum pergerakan, baik berupa novel, roman, puisi, artikel, maupun buku pemikiran. 

    Sastra Koran.Sastra Koran adalah sebutan untuk karya sastra seperti puisi, cerpen, dongeng Dan sebagainya yang diterbitkan di koran. Publikasi karya sastra melalui koran sudah sangat lama terjadi di Indonesia. Hampir semua sastrawan Indonesia memanfaatkan koran sebagai media untuk “mengiklankan” karya (dan nama) mereka kepada publik. Sebut saja Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Taufik Ikram Jamil, Nurzain Hae, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, dan Fakhrunnas M.A. Jabbar (tentu masih ada sederetan nama lainnya). Berkat karya-karya korannya, nama mereka pun menjulang cakrawala. Harus diakui bahwa sastra koran memiliki keterbatasan-keterbatasan.

    Di samping keterbatasan ruang dan waktu (karena sifat koran: terbatas dan sementara), sastra koran juga memiliki keterbatasan ide (karena harus menyesuaikan dengan selera redaktur, yang bisa jadi tidak berlatar belakang sastra). Mungkin hal seperti itulah yang membuat Katrin Bandel (pengamat sastra Indonesia di Universitas Hamburg, Jerman itu) terheran-heran atas fenomena sastra koran di Indonesia. Menurutnya, fungsi halaman sastra di Indonesia agak “luar biasa” karena menyeleweng dari peran koran pada umumnya: sebagai media informasi di berbagai bidang untuk orang awam. Sementara itu, di Indonesia koran justru menjadi media komunikasi antar orang sastra dan sekaligus menjadi media utama untuk mensosialisasikan karya-karyanya.

     

    Sejarah Sastra Indonesia Periode Pasca Kemerdekaan

    Selepas Indonesia merdeka banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai bidang termasuk budaya. Perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba pada saat setelah proklamasi. Selama masa pendudukan Jepang sudah terjadi tandatanda perubahan yang diperlihatkan beberapa sastrawan tetapi tidak segera muncul ke permukaan karena tertekan oleh kekuasaan Jepang. Proklamasi Kemerdekaan menciptakan suasana jiwa dan penciptaaan bebas dan merdeka yang sebelumnya terkekang. Berkat kebebasan tersebut berbagai pemikiran dan penciptaan karya sastra kembali marak. Hal ditandai dengan muncul berbagai penerbitan seperti Panca Raya, Panji Masyarakat, Genta, Basis, Pembangunan, Siasat, Nusantra, Gema Suasana, Mimbar, Pujangga Baru, dan Seniman.

    Di antara penerbitan tersebut yang paling menonjol adalah siasat dengan lampiran kebudayaannya “Gelanggang”. Siasat adalah mingguan yang diterbitkan oleh Soedjatmoko dan Rosihan Anwar. Lewat Gelanggang itu para seniman yang dimotori Chairil Anwar, Asrul sani, dan Idrus berkumpul dan merealisasikan kemerdekaan dan mengisinya dengan menciptakan karya-karya penting sehingga melahirkan sebuah generasi baru yang berbeda dengan pujangga baru dan generasi sebelumnya. Mereka membentuk perkumupulan kebudayaan yang bernama Gelanggang Seniman Merdeka dan mengklaim sebagai Generasi Gelanggang.

    Namun, ternyata mengisi kemerdekaan tidaklah semudah yang diangankan. Berbagai penyelewengan menyebabkan timbulnya berbagai krisis, krisis ahlak, krisis ekonomi dan berbagai krisis yang lainnnya. Hal tersebut diperparah dengan pertikaian-pertikaian antar golongan yang juga melibatkan sastrawan yang berbeda aliran dan pandangannya. Maka, periode ini lahirlah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mendukung realisme sosial yang berbeda dengan Generasi Gelanggang yang mendukung Humanisme Universal. Berbagai pertikaian itulah yang akhirnya membuat para sastrawan tidak lagi menulis karya-karya penting yang diterbitkan menjadi sebuah sehingga beberapa pemerhati sastra menganggap kondisi waktu itu sebagai “krisis sastra”. Beberapa karya muncul lebih banyak di berbagai majalah yang memunculkan isitilah “sastra majalah”. 

     

    Sejarah Sastra Indonesia Periode Orde Baru

    Pada masa ini, sastra sangat dipengaruhi oleh institusi Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dan Manifes Kebudayaan (Manikebu). Pada tahun 1961, Lekra yang merupakan organisasi PKI yang memperjuangkan komunisme yang dideklarasikan sebagai lembaga budaya yang menganut slogan "Politik adalah panglima". Manifes Kebudayaan (Manikebu)adalah sebuah konsep atau gagasan di bidang budaya, reaksi terhadap ketakutan budaya yang ditimbulkan oleh masyarakat Lekra saat itu. Manifest budaya harus dihapuskan dari Indonesia karena dituduh anti-manifest dan kontrarevolusioner.

    Selama periode ini, ada banyak pergolakan antara dua kubu yaitu Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan pengarang yang menjadi anggota Manifes Kebudayaan (Manikebu). Mereka saling menyerang dan menjatuhkan. Bahkan oleh Lekra, pengarang-pengarang dalam Manifes Kebudayaan disebut “Manikebu” (Rosidi 1998:168). Ini adalah istilah yang sangat menghina. Di masa pemerintahan Soekarno, perbedaan ideologi yang demikian tajam nasionalisme, agama, komunisme juga berdampak langsung terhadap perkembangan sastra Indonesia, yakni dengan merasuknya ideologi dalam diri sastrawan maupun dalam karya sastra yang dihasilkan. Karena hal itu, Lekra memiliki paham-paham realisme sosialis yang menjadi filsafat seni komunis. Pemahaman ini mengandaikan "seni untuk manusia". Di sisi lain, pengarang dari Manifes Kebudayaan memiliki konsep universal humanisme yang menetapkan yaitu "seni untuk seni".

     

    Sejarah Sastra Indonesia Periode Reformasi hingga sekarang

    Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik. Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru.

    Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra puisi, cerpen, dan novel pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat dengan media online: duniasastra.com -nya, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial politik mereka. Periode terakhir dalam perkembangan Kesusastran Indonesia modern ini ditandai kemunculan pengarang-pengarang perempuan yang karyanya tidak hanya banyak dipuji dari pengamat sastra tetapi diapresiasi oleh masyarakat dengan banyaknnya buku yang terjual. Tema-tema yang mengekplorasi masalah seks bersanding dengan tema-tema Islami yang ditulis pengarang Islam yang bernaung dibawah Forum Lingkar Pena  (FLP) sebuah komunitas penulis yang tidak hanya tersebar di kota-kota di Indonesia tetapi memiliki cabang di luar negeri.




    Referensi

    Razif, Bacaan Liar : Budaya dan Politik pada Zaman Pergerakan. Edi Cahyono’s Experience, 2005

    Erowati, R. dan Bahtiar, A. Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat: Lembaga Penelitian UIN 

    Syarif Hidayatullah Jakarta. 2011.

    ABudiman, Arif and, Chairil Anwar, Sebuah Pertemuan. Jakarta : Wacana Bangsa, 2007

    Ikuti tulisan menarik safitriani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Adiatman

    5 hari lalu

    Bernalar Kritis

    Dibaca : 598 kali