Problematika Penulisan Sejarah Sastra - Analisis - www.indonesiana.id
x

Izza Zahraniah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 10 April 2022

Kamis, 23 Juni 2022 09:01 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Problematika Penulisan Sejarah Sastra

    Penulisan Sejarah Sastra memiliki aspek yang beragam dan rumit

    Dibaca : 234 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Penulisan sejarah sastra memiliki aspek yang beragam dan jika ditulis dari satu sudut saja akan menunjukkan betapa kurang gambaran yang dapat kita peroleh dari penulisan tersebut.

    Penulisan sejarah sastra sangat komplek dan rumit, hal ini dikarenakan batas-batas atau pemahaman sastra Indonesia sangat kabur. Banyak sudut pandang dan argumentasi dari para ahli yang berbeda menjelaskan asal mula sastra Indonesia. Hal ini menyebabkan titik tolak yang berbeda bagi perkembangan kesusastraan Indonesia.

    Perbedaannya juga terletak pada pemusatan perhatian pada setiap peristiwa atau persoalan yang berkaitan dengan kehidupan sastra. Oleh karena itu dalam pandangan seorang penulis suatu peristiwa dianggap penting sehingga layak dimasukkan dalam sejarah kesusastraan Indonesia. Namun penulis lain mungkin berpendapat lain, sehingga peristiwa tersebut tidak perlu dicatat dalam Perkembangan Kesusastraan Indonesia. Beberapa peristiwa yang berkaitan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan beberapa pengarangnya belum pernah dibicarakan, atau dibicarakan hanya dengan sebagian kecil para penulis dan pemerhati sejarah sastra Indonesia.

    Kesulitan lain adalah meskipun masa sastra Indonesia tidak sepanjang masa sastra negara lain, objek karya-karyanya sangat kaya. Penelitian Ersnt Ulrich Kratz mendokumentasikan 27.078 judul karya sastra dalam majalah berbahasa Indonesia yang terbit tahun 1922 -1982 (dalam Bibliografi Karya Sastra Indonesia yang diterbitkan di surat kabar dan majalah). Pamusuk Eneste mencatat bahwa dalam Bibliografi Sastra Indonesia terdapat 466 judul buku novel, 348 judul kumpulan cerpen, 315 judul buku drama, dan 810 judul buku puisi.

    Sementara itu A. Teeuw mengemukakan, bahwa dalam 50 tahun terakhir (1918-1967), hanya ada 175 penulis asli sastra Indonesia Modern dengan sekitar 400 karya. Jika kita hitung sampai tahun 1979, sebanyak 284 penulis dan 770 karya. Di atas tidak termasuk karya yang diterbitkan di surat kabar, majalah, lebih-lebih yang terbit pada masa silam.

    Jakob Sumardjo menyatakan bahwa dari tulisan Merari Siregar yaitu Azab dan Sengsara (1919) hingga 1986 telah dihasilkan 1.335 karya sastra berupa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, roman, atau novel, lakon/ drama, terjemahan sastra asing dan kritik serta esai sastra. Tercatat juga 237 nama sastrawan penting (1970-an). Hampir setengah dari karya sastra kita adalah puisi (49,3%), kemudian cerita pendek (47,6%), novel (36%), esai (23, 2%), drama (18,9%) dan selebihnya terjemahan serta kritik sastra.

    Kesulitan lain adalah objek sastra yang berupa genre sastra selain karya sastra : puisi, prosa dan drama, tetapi juga objek lain yang sangat luas, termasuk pengarang, penerbit, pembaca, pengajaran, apresiasi, esai, dan penelitian. Perkembangan genre sastra di Indonesia sendiri telah berkembang secara mandiri. Awal pertumbuhan dan perkembangan novel, misalnya, tidak sejalan dengan puisi dan drama. Novel atau roman Indonesia sudah dimulai pada tahun 1920-an sedangkan puisi Indonesia dimulai pada tahun 1928- an. Perkembangan cerpen sangat aktif pada tahun 1950-an meskipun pada pertumbuhan sastra Indonesia cerpen sudah mulai muncul di berbagai media massa.

     

    Tinjauan Pustaka

    Erowati, Bahtiar. (2011). Sejarah Sastra Indonesia. Ciputat : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

     

    Ikuti tulisan menarik Izza Zahraniah lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.