Potret Mbak Sum dalam Film Pendek Komedi Pamean - Hiburan - www.indonesiana.id
x

Febrianisa Amelia

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Juli 2022

Senin, 4 Juli 2022 05:56 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Potret Mbak Sum dalam Film Pendek Komedi Pamean

    “Kakean Gludhug Kurang Udan” yang memiliki makna ”terlalu banyak bicara namun tidak ada kenyataannya”.

    Dibaca : 1.090 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Potret Mbak Sum dalam Film Pendek Komedi “Pamean”

    Penikmat akun youtube Paniradya Kaistimewan pasti sudah paham kalau akun tersebut bukan hanya menyungguhkan informasi tentang keistimewahan Daerah Istimewa Yogyakarta, kegiatan-kegiatan keistimewaan Yogyakarta serta kearifan lokal masyarakatnya saja. Tetapi ada juga beberapa film pendek yang disungguhkan akun youtube Paniradya Kaistimewan.

    Untuk penonton setianya pasti tidak asing dengan film pendek komedi berjudul “Pamean” yang berdurasi hanya 11 menit saja. Film pamean rilis di akun youtube Paniradya Kaistimewan pada 15 November 2020 yang saat ini sudah ditonton sebanyak 3.004.039 kali, dan disukai sebanyak 68 rb. Film ini tidak diperankan oleh banyak pemain, hanya ada Mbak Sumirah atau biasa disebut Mbak Sum sebagai ibu-ibu yang sering pamer. Dek Asih lawan bicara Mbak Sum, suaminya Mbak Sum, Mas pengantar paket dan sisanya hanya peran pembantu saja. Bahasa yang digunakan dalam film ini full menggunakan Bahasa Jawa. Dan berlatar di pekarangan rumah tempat menjemur pakaian Mbak Sri dan Dek Asih.

                Judul “Pamean” diambil dari Bahasa Jawa yang bermakna “Jemuran”. Film pendek komedi ini mengisahkan dua orang tetangga yakni Mbak Sum dan Dek Asih yang sering berbincang-bingcang ketika sedang menjemur pakaian. Sesuai dengan judul film, alur cerita ini terjadi ketika mereka sedang menjemur pakaian.

    Berawal dari anak-anak yang bermain sepeda hampir menabrak Mbak Sum dan motor barunya lalu berlanjut ketika Mbak Sum dan Dek Asih menjemur pakaian. Dimulai dari Mbak Sum yang banyak bicara mengenai kehidupannya memiliki barang-barang baru dan mahal atau biasa disebut sebagai pamer kepada Dek Asih. Setiap menjemur pakaian pasti ada saja barang baru Mbak Sum yang dipamer mulai dari kemeja, baju batik, celena dalam, kopi, beras, penanak nasi, emas sampai sepeda motor. Hingga suatu ketika Mbak Sum ketahuan darimana asal-usul barang-barang yang selama ini dipamernya. Sampai ia rela menyuap Dek Asih untuk menjaga rahasia tentang asal-usul barang yang dipamernya.

                Jika dilihat dari judulnya Pamean yang bermakna “jemuran” rasanya tidak nyambung dengan pesan yang ingin disampaikan. Namun, ternyata jemuran menjadi saksi bisu obrolan dua tetangga dan menjadi tempat di mana pesan itu disampaikan. Disutradarai oleh Thomas Kris meskipun “Pamean” film bergenre komedi tapi film ini sarat akan pesan di dalamnya.

    Jika ditelisik dari sosiologi sastra film ini sangat menggambarkan kehidupan nyata, bahwa ada saja tetangga kita yang berkepribadian seperti Mbak Sum yang terlalu banyak bicara dan suka pamer tapi tidak sesuai dengan kenyataan. juga tetangga seperti Mbak Asih yang lebih banyak diam. Kepribadian tetangga seperti Mbak Sum pun bukan hanya ada di perdesaan saja, bahkan di kota-kota besar pun banyak yang seperti ini, hanya saja mereka memamerkan sesuatu dengan cara yang berbeda.

    Film bergenre komedi satir ini memberikan sebuah pesan kuat bahwa orang yang banyak bicara belum tentu tau segalanya dan belum tentu apa yang diucapkannya sebuah kenyataan, serta menyindir seorang yang hanya bicara tinggi tapi tidak pernah membuktikan ucapannya. Seperti pribahasa dalam Bahasa Jawa “Kakean Gludhug Kurang Udan” yang memiliki makna ”terlalu banyak bicara namun tidak ada kenyataannya”.

    Dan perlakuan Mbak Sum yang menyuap Dek Asih juga banyak kita temukan pada kehidupan nyata. Betapa royalnya mereka rela mengeluarkan uang untuk menutup kesalahan dan citra buruk mereka. Hal ini yang menjadi kebiasaan seseorang untuk suap-menyuap demi menutupi kesalahannya agar selalu mendapatkan citra baik di mata orang lain, padahal sebetulnya ini merupakan tindakan yang tidak patut dilakukan.

    Ikuti tulisan menarik Febrianisa Amelia lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.