Detoksifikasi Media Sosial, Upaya Perlindungan Kesehatan Mental Milenial - Urban - www.indonesiana.id
x

Dewi Septiyani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 20 November 2021

Rabu, 20 Juli 2022 17:37 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Detoksifikasi Media Sosial, Upaya Perlindungan Kesehatan Mental Milenial

    Kehadiran media sosial layaknya dua mata pisau yang mempunyai dua sisi. Media sosial mempunyai dampak positif tetapi akan diikuti dampak negatif jika kita tidak bijak dalam penggunaannya.

    Dibaca : 1.156 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Fenomena digitalisasi terjadi di sebagian besar sektor kehidupan mulai dari pendidikan, kesehatan, politik, budaya, sosial, dan ekonomi. Teknologi terbaru juga turut andil dalam menggantikan metode konvensional yang sudah ada. Media sosial menjadi salah satu hal yang berkembang pesat dalam sektor komunikasi. Misalnya pada zaman dahulu seseorang bertukar kabar dengan surat dalam berkomukasi. Membutuhkan waktu yang lama agar surat tersebut dapat dibaca oleh penerima. Melalui perkembangan teknologi yang begitu pesat, seseorang dapat bertukar pesan dalam hitungan detik. Lebih cepat dan efisien tentunya dibandingkan metode konvensional.

    Media Sosial

    Kehadiran media sosial layaknya dua mata pisau yang mempunyai dua sisi. Media sosial mempunyai dampak positif tetapi akan diikuti dampak negatif jika kita tidak bijak dalam penggunaannya. Tidak semua informasi yang tersebar di media sosial berasal dari fakta. Belakangan ini sering terjadi penyebaran informasi/berita hoax yang diperoleh dengan mudah. Informasi seperti ini mudah tersebar dengan adanya teknologi digital seperti sekarang. Untuk menanggulangi hal tersebut, seseorang perlu menggunakan media sosial dengan bijak terutama generasi Millenial dan Gen Z.

    Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyebutkan, setidaknya 30 juta anak-anak dan remaja di Indonesia merupakan pengguna internet, dan media digital saat ini menjadi pilihan utama saluran komunikasi yang mereka gunakan.

    Detoksifikasi media sosial di era digital

    Di era digital seperti sekarang, manusia begitu dimudahkan dengan adanya teknologi yang serba canggih. Kemudahan komunikasi dengan media sosial seperti whatsapp, instagram, twitter, linkedin, facebook serta aplikasi lainnya memberikan berbagai dampak bagi penggunanya. Tidak semua media sosial memberikan dampak positif bagi penggunanya. Milennial dan Gen Z merupakan pengguna terbesar media sosial. Mereka menggunakan media sosial untuk mengabadikan setiap moment seperti liburan, prestasi, healing serta trend yang sedang viral bahkan banyak dari mereka yang sekadar curhat di media sosial.

    Media sosial sangat terbuka dengan konten postingan para penggunanya sehingga berdampak buruk bagi mereka yang belum bisa memfilter informasi dengan baik. Seseorang akan terus membandingkan dirinya dengan seseorang yang lebih sukses dari berbagai hal seperti dari segi prestasi, karier, kekayaan, dan lainnya. Hal ini akan menyebabkan seseorang menjadi insecure terhadap pencapain diri. Apabila hal tersebut terjadi secara berkepanjangan maka akan mengakibatkan tekanan mental dan frustasi. Tingkat kecemasan (anxiety) menjadi tinggi tentang hal yang bahkan belum terjadi karena berlebihan dalam bermedia sosial. Oleh karena itu perlunya melakukan detoksifikasi media sosial agar kesehatan mental tetap terjaga.

    Detoksifikasi dapat dilakukan perlahan tanpa harus menghentikan penggunaan media sosial. Menggunakan media sosial seperlunya, bukan menghentikan penggunaan namun lebih kearah pengurangan untuk hal yang kurang bermanfaat. Memberikan jadwal tertentu untuk membuka media sosial agar tidak tejebak terlalu lama dalam scrolling konten. Hal yang tak kalah penting adalah selektif dalam memfilter konten yang ingin dilihat, pilihlah konten yang bermanfaat dan memotivasi diri agar berkembang, bukan untuk membandingkan diri. Media sosial digunakan agar lebih produktif dan berpikir positif.

    Tak bisa dipungkiri dampak pandemik Covid-19 sangat berpengaruh kesehatan terutama kesehatan mental. Pembatasan sosial menyebabkan kurangnya interaksi langsung yang biasa terjadi tiap harinya. Penggunaan media sosial menjadi salah satu alternatif penyambung komunikasi. Peningkatan penggunaan media sosial meningkat tajam selama pandemik Covid-19. Media sosial memiliki dampat positf dan negatif. Penelitian Zhao & Zhou, menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebih menyebabkan kesehatan mental yang buruk. Di sisi lain, media sosial juga menjadi alat komunikasi dan membangun self-branding yang baik jika digunakan dengan bijak.

    Dengan melakukan detoksifikasi media sosial, Millenial diharapkan mampu lebih mawas diri terhadap kesehatan mental serta lingkungan sekitar. Mari bersama berkontribusi membangun negeri dengan mental yang sehat.

    Ikuti tulisan menarik Dewi Septiyani lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.






    Oleh: web seo

    Minggu, 7 Agustus 2022 06:24 WIB

    Tip Merawat Sliding Door Mobil agar Tetap Awet

    Dibaca : 348 kali