Reinkarnasi - Sebuah Renungan tentang Toleransi - Hiburan - www.indonesiana.id
x

cover buku Reinkarnasi

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 25 Juli 2022 17:04 WIB

  • Hiburan
  • Topik Utama
  • Reinkarnasi - Sebuah Renungan tentang Toleransi

    Novel pendek karya Lan Fang ini menceritakan percintaan yang berlanjut dari Dinasnti Ming ke masa kini. Lan Fang menggunakan reinkarnasi sebagai sarana pembelajaran toleransi. Sebab Sang Pangeran di Jaman Dinasti Ming berinkarnasi dalam diri Hadi seorang pimpinan bank dari Surabaya yang beretnis Jawa, sementara Sang Dayang dari Jaman Dinasti Ming berinkarnasi kepada Jane Lauw (china modern asal Hongkong) dan Sinta (Jawa).

    Dibaca : 893 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: Reinkarnasi

    Penulis: Lan Fang

    Tahun Terbit: 2012 (cetakan ketiga)

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

    Tebal: 110

    ISBN: 978-602-03-6453-7

     

    “Saya kurang suka novel Indonesia bertema tionghoa karena isinya itu-itu saja. Kalau gak kerusuhan,  perkawinan antarras, atau cina holland spreken yang mendewa-dewakan Belanda yang bukan siapa-siapanya dia,” demikianlah pandangan teman saya yang berprofesi sebagai dokter, tetapi juga penulis novel. Ia mengamati bahwa novel-novel bertema tionghoa tidak terlalu kaya dalam mengekplorasi tema ini.

    Memang harus diakui bahwa tema kerusuhan 1989 dan tema hubungan pernikahan antara orang tionghoa dengan orang Jawa sering – yang kadang dibumbui dengan agama, mendominasi karya-karya fiksi bertema tionghoa. Hanya sedikit yang mengambil tema lain diluar kedua hal tersebut. Padahal tema-tema budaya sangat potensial dipakai sebagai bahan penulisan fiksi bertema tionghoa.

    Salah satunya adalah tentang reinkarnasi.

    Novel “Reinkarnasi” karya Lan Fang ini berkisah tentang kepercayaan bahwa manusia yang meninggal dilahirkan kembali sebagai manusia baru. Reinkarnasi. Kepercayaan tionghoa tentang reinkarnasi adalah bahwa kejadian-kejadian di masa lalu bisa terulang di masa depan. Contohnya adalah percintaan yang gagal, para pelakunya bisa bertemu kembali di masa depan dan bisa melanjutkan asa terhadap cintanya tersebut.

    Lan Fang memilih alur cerita yang sangat sederhana. Kesederhanaan alur ini menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dari novel ini. Dengan alur yang sederhana Lan Fang bisa fokus kepada pesan yang ingin disampaikannya, yaitu toleransi antar umat manusia. Lan Fang bisa memilih Hadi (Jawa), Lauw Mei Lie perempuan modern asal Hongkong dan tokoh masa lalu dari daratan Tiongkok.

    Alur sederhana ini menjadi kelemahan karena pembaca tidak mendapat kejutan sama sekali. Yang kedua karena sederhana, sehingga Lan Fang tidak membahas tentang reinkarnasi secara mendalam. Lanfang hanya menggunakan pengetahuan awam tentang reinkarnasi dalam novel ini.

    Hadi, seorang pimpinan Bank dari Surabaya sedang melakukan perjalanan wisata ke Tiongkok. Karena tunangannya - Sinta, tidak mau ikut, maka Hadi mengajak adik tunangannya yaitu Rizal. Dalam perjalanan wisata ini Hadi bertemu dengan Jane Lauw alias Lauw Me Lie asal Hongkong.

    Supaya cerita tetap sederhana, Lan Fang membuat Jane Lauw lancar berbahasa Indonesia. Dengan demikian Lan Fang tidak perlu memasukkan dialog-dialog dalam bahasa asing (mandarin).

    Dalam kunjunagn wisata itu Hadi dan Jane Lauw menjadi akrab. Jane Lauw mengatakan bahwa Hadi sangat mirip dengan seorang pangeran di masa Dinasti Ming. Jane Lauw kemudian bercerita tentang Sang Pangeran yang jatuh cinta kepada seorang dayang bernama A Mey. Sayangnya A Mey dipilih untuk menjadi selir Raja. Sang Pangeran mencoba menghadap kepada Raja yang adalah ayahnya supaya ia diperkenan untuk menyunting A Mey. Tetapi Raja menolaknya. Daripada menjadi selir, A Mey memilih untuk bunuh diri. Cinta mereka gagal.

    Ketika kunjungan wisata sampai ke kota tua peninggalan Dinasti Ming Hadi mengalami situasi dimana dia bertemu dengan sosok perempuan bergaun panjang berjuntai dengan sulaman bunga berwarna merah muda. Jelas sosok itu bukan Sinta yang sedang dibayangkannya ikut berwisata dengannya. Sosok itu sangat mirip dengan Jane Lauw. Apalagi sang perempuan tersebut memangginya “tuan.” Mula-mula Hadi bertemu saat ia masih berada di hotel.

    Saat di Sitana Dinasti Ming itulah Hadi merasa bahwa ia tiba-tiba berubah menjadi Sang Pangeran yang menghadap kepada ayahnya untuk memperjuangkan cintanya. Critanya persis seperti kisah yang disampaikan oleh Jane Lauw di awal.

    Peristiwa-peristiwa ini membuat Hadi berkesimpulan bahwa dirinya adalah reinkarnasi dari Sang Pangeran, sementara Jane Lauw adalah reinkarnasi dari A Mey. Hadi berusaha meyakinkan Jane Lauw bahwa Jane adalah reinkarnasi A Mey. Namun Jane Lauw malah tak menganggapnya serius. Jane Lauw tidak percaya kepada reinkarnasi, atau lebih tepatnya tidak peduli.

    Hadi yang bingung akhirnya mendapat pencerahan bahwa reinkarnasi bisa kepada dua orang. Dalam kasus A Mey, kecantikannya berinkarnasi kepada Jane Lauw, tetapi sifat-sifatnya menurun ke Sinta. Lan Fang mencari penyelesaian yang win-win-solution.

    Melalui kisah ini Lan Fang membawa pembacanya untuk menyadari bahwa masa lalu kita bisa siapa saja. Bisa bangsa apa saja. Di sinilah toleransi kepada sesama menjadi sangat penting untuk dilakukan.

    Sebenarnya tema reinkarnasi juga sudah pernah dipakai sebagai sebuah tema novel. Salah satunya adalah Kwee Tek Hoay dalam novelnya berjudul “Drama Dari Merapi” dan “Bayangan dari Kehidupan yang Lalu” (Sumajro, 1989. Hal 96. dalam Kwee Tek Hoay, Penyunting Myra Sidharta. Sinar Harapan 1989). Dalam novel “Drama Dari Merapi” Kwee Tek Hoay menggunakan reinkarnasi untuk menjelankan tentang karma. Sedangkan dalam “Bayangan dari Kehidupan yang Lalu” Kwee membahas tentang cinta segitiga yang berlanjut dari masa Majapahit ke masa kini. Jika di masa Majapahit para tokohnya adalah orang-orang Majapahit (Jawa), dalam novel Kwee tokohnya adalah tionghoa.

    Satu lagi novel yang bertema reinkarnasi adalah “Jandi Sepasang Kekasih dari Dinasti Ming” karya Ernest J.K. Wen. Novel ini membahas penebusan dosa di masa lalu.” Novel karya Ernest J.K Wen ini tentu lebih baru dari karya Kwee atau Lan Fang. Lain kali akan saya bahas juga novel ini. 692

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.