Hilangnya Sastra Eksil dari Mata Rantai Sejarah Sastra Indonesia Modern - Analisis - www.indonesiana.id
x

ABDUL HALIM

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 April 2022

Jumat, 5 Agustus 2022 07:32 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hilangnya Sastra Eksil dari Mata Rantai Sejarah Sastra Indonesia Modern

    Keberadaan sastra eksil yang kurang begitu diperhatikan dalam sejarah sastra Indonesia modern menjadikan sastra eksil dianggap sebagai anak tiri, atau bahkan tidak dianggap sebagai bagian dari sejarah sastra Indonesia modern.

    Dibaca : 323 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pengertian dari kata "eksil" merupakan bentuk penyederhanaan kata bahasa Inggris exile yang berarti terasing, atau dipaksa meninggalkan kampung halaman atau rumahnya. Dalam KBBI kata “eksil” termasuk dalam ajektiva yang mempunyai arti keluar; terpinggirkan.

    Merujuk pada pengertian di atas, kita dapat melihat maksud dari kata eksil. Pada pengertian pertama terdapat kata “terasing” yang menandakan suatu tindakan terpisah dari orang lain atau terpencil, yang dilakukan dengan tidak senaja atau paksaan. Kemudian pada pengertian kedua adanya kata “keluar” yang merupakan kejadian di mana mereka dengan senaja mengasingkan diri untuk menghindari suatu peristiwa yang sedang terjadi.

    Sastra eksil Indonesia merupakan karya-karya dari sastrawan Indonesia yang terdampar di luar negeri dan tidak bisa atau tidak diperbolehkan pulang ke tanah air, setelah peristiwa pemberontakan PKI yang dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965. Istilah eksil atau pengasingan memang banyak jenisnya, namun apa yang diistilahkan sebagai karya sastra eksil Indonesia mengacu secara khusus pada tulisan-tulisan para pengarang Indonesia yang terpaksa tinggal di negeri asing karena alasan permasalahan ideologi politik.

    Keberadaan sastra eksil memang kurang begitu diperhatikan dalam sejarah sastra Indonesia modern, hanya segelintir pembaca yang mengetahui adanya sastra eksil Indonesia di luar negeri. Sastra eksil menjadi anak tiri bagi sejarah sastra Indonesia modern.

    Pada umumnya sejarah sastra Indonesia modern di bangku kuliah membahas secara fundamental priodesasi, karakteristik, tokoh, dan peristiwa. Namun para pelajar banyak yang tidak mengetahui tokoh dan karya sastra eksil, hal itu yang kemudian menimbulkan pertanyaan apakah sejarah tentang peristiwa sastra eksil memang senaja disingkirkan dari sejarah sastra Indonesia modern, atau memang tidak diakui sebagai salah satu bagian dari sejarah sastra Indonesia modern.

    Kurangnya pengakuan terhadap sastra eksil merupakan suatu hal yang tidak adil ketika sastra eksil dianak tirikan oleh sejarah sastra Indoneisa  modern, hanya karena masalah persoalan politik dan memiliki catatan sejarah yang kurang begitu baik bagi citra Negara Indonesia. Asumsi liar tentang (tersingkirnya sastra eksil dari sejarah yang disebabkan oleh adanya tabir yang senaja ditutup demi kepentingan tertentu) muncul akibat tidak jelasnya penyebab peristiwa tersebut disingkirkan dari pembelajaran sejarah satra Indonesia modern di lingkungan pelajar.

    Adanya asumsi tersebut membuat para akademisi memiliki rasa keinginan untuk mengungkap peristiwa dan merajut kembali benang sejarah yang sempat putus, banyaknya para akademisi yang melakukan penelitian tentang sastra eksil telah berhasil menerbitkan kembali karya sastra eksil di Indonesia yang terlahir dari para pengarang eksil di Negara asing.

    Hampir semua karya-karya eksil terbit menggunakan bahasa Indonesia, isi tema yang diangkat juga sangat jarang sekali membahas tentang isu Negara asing yang di mana para sastrawan eksil tersebut tinggal, kebanyakan para pengarang eksil membahas kehidupan di Indonesia hususnya di kampung halaman mereka masing-masing

    Eksistensi sastra eksil mulai terangkat dengan terbitnya tulisan para pengarang eksil. 
    Puisi: 23 Sajak Menangisi Vietri, karya Asahan Aidit yang di terbitkan di Jakarta oleh Pustaka jaya pada tahun 1998, dengan tebal 48 halaman.

    Cerpen: Prajurit Yang Bodoh: Kumpulan Cerpen, Karya Sobron Aidit yang diterbitkan di Jakarta oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2006 dengan tebal 86 halaman.
    Musibah: Kumpulan Cerita Pendek, karya Alan Hongeland yang diterbitkan di Amsterdam oleh Stichting budaya pada tahun1990, dengan tebal 80 halaman.

    Salah satu buku yang cukup popular berjudul “Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil” buku ini terbit pada tahun 2002 dan memuat lebih dari 150 puisi dari 15 penyaiar Indonesia yang hidup dalam komunitas para eksil Eropa. Buku ini lahir hasil kerja sama Yayasan Lontar dan Yayasan Sejarah dan Budaya Indonesia (YSBI), sebuah organisasi nir-laba di negeri Belanda yang memelopori penerbitan karangan dan kreasi lain para sastrawan Indonesia Eksil.
     

    Sastra eksil yang terdiri dari banyaknya tokoh satrawan dan telah melahirkan puluhan karya sastra, sepatutnya menjadi salah satu peristiwa penting yang bisa diabadikan dengan menjadikan salah satu kajian materi dalam pembelajaran sejarah sastra Indonesia,yang mana memangsudah seharusnya sastra eksil berbicara dalam kancah sastra Indonesia (menjadi bagian dari sejarah satra indonesia) tidak lagi sebagai sastra minor.

    Daftar Pustaka
    Cambert-loir, Henri. 2018, Sastra dan Sejarah Indonesia, Jakarta: Kepustakaan Popular Gramedia, 316 halaman

    Ikuti tulisan menarik ABDUL HALIM lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.