Di Perbatasan - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Senin, 15 Agustus 2022 13:29 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Di Perbatasan

    Capung/Dragonfly, serangga yang beberapa hari ini mengunjungi ruang terbuka di belakang rumah. Ada kemiripan mitos tentangnya, seperti kehadiran seekor kupu-kupu mengunjungi rumah. Namun capung mungkin, lebih memiliki kesan tersendiri, sebab bisingnya kepak sayap memiliki dua fungsi terhadap mata dan telinga untuk bekerja bersamaan. Terlepas kekaguman saya akan capung saat air yang sedang saya rebus mendidih. Capung serta bising telah membawa saya untuk mengambil suatu keputusan memilih minuman penghangat tubuh; ranting kumis kucing, asam jawa, sirih merah.

    Dibaca : 417 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Capung/Dragonfly, serangga yang beberapa hari ini mengunjungi ruang terbuka di belakang rumah. Ada kemiripan mitos tentangnya, seperti kehadiran seekor kupu-kupu mengunjungi rumah. Namun capung mungkin, lebih memiliki kesan tersendiri, sebab bisingnya kepak sayap memiliki dua fungsi terhadap mata dan telinga untuk bekerja bersamaan. Terlepas kekaguman saya akan capung saat air yang sedang saya rebus mendidih. Capung serta bising telah membawa saya untuk mengambil suatu keputusan memilih minuman penghangat tubuh; ranting kumis kucing, asam jawa, sirih merah.

    Menikmati godogan, sayapun hanyut dalam jeda “But earth, and air, and water, were in one. Thus air was void of light, and earth unstable, and water's dark abyss unnavigable.” [Ovid]

    Suatu kondisi “poly/pele/purvi” kembali marak di berbagai pemberitaan, tetap hangat mengungkap berbagai peristiwa yang selama ini hilang pembacaan, juga, ada nyaring yang menyalak bagaikan dihantaman petir yang tiada berkesudahan. Sebuah fenomena merentang, dalam sebulan melewati kondisi atrisi dengan begitu emosional yang tidak pernah diperkirakan. Bagaimana sebuah kerja otak manusia dalam menyaring seluruh peristiwa dalam sehari dan terhitung selama sebulan untuk dapat bermetamorfisis secara pikiran seperti kepakan sayap seekor capung? Ini menjadi pertanyaan terkonyol tentang aktifitas berpikir dengan pikiran, tentunya. Namun.

    pada bambu runcing, lalu belati

    ditanamkannya flash disk sistem Ai

    laser drone dicicip mentah di gudang rakit

    malam dimatangkan menjadi panggangan roti

    para pekerja dilemburkan selama tiga hari

    hingga seluruh kota, padam pelita kembali

    tapi, paksi jangkar tidak lagi dipenuhi

    manakala barikade udara begitu rapi

    berbaris regangan dalam batas pagi

    atap rumah desain katedral diratapi

    dan bara lebah keram, ditaburi

    uap parafin di antara jerami

    Meskipun sebagian besar peristiwa bukanlah tentang dekade yang selalu menuntut penjagaan atau menghendaki kehilangan, namun seiring waktu, peristiwa yang telah terlewati seringkali menjadi karikatur luar biasa untuk mendominasi kinerja berpikir dengan menempatkan diri sendiri sebagai putusan kesalahan berperilaku dengan banyaknya penolakan yang bersifat dari kondisi poly. Bahkan keberadaan peristiwa yang dialami langsung oleh tubuh ditolak dalam kerangka pikiran dengan cara reduksi petuah dalam psikososial. Ini sungguh tragedi yang memprihatinkan. Suatu penelitian kerja pikiran serta kerja otak memang urusan lain tentang proses metamorfosis berpikir.

    Ini bukanlah suatu proses yang terukur, yang bersifat kuantitas dan kiamat. Tetapi, capung, bising, dan godogan, bisa jadi cara mengingat teka-teki silang dan perubahan antara kertas menuju layar.

    Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.