Bupati Nagekeo: Data menjadi Pondasi Awal Memulai Program Konservasi Ekosistem Laut - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

penangkapan yang dilakukan oleh nelayan

Ende Pancasila

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 14 September 2022 14:18 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Bupati Nagekeo: Data menjadi Pondasi Awal Memulai Program Konservasi Ekosistem Laut

    Kata kunci dari konservasi wilayah pesisir mencakup pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, serta terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan/berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan karena sumberdaya pesisir baik flora, fauna, dan ekosistem memiliki kegunaan dan nilai  ekologis, ekonomis dan sosial yang penting bagi kehidupan manusia.

    Dibaca : 670 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Nagekeo, Tananua flores , Kelompok Nelayan di Desa Kotodirumali dan Desa Podenura bersama yayasan Tananua Flores melakukan kegiatan pembukaan lokasi penutupan sementara yang ditutup selama 3 bulan.  Pembukaan lokasi penutupan sementara itu diselenggarakan di desa Kotodirumali yang dihadiri Bupati Nagekeo Johanes Don Bosko Do pada 13/09/2022. 

    Kegiatan itu diawali dengan seremonial adat pembuka yang dilakukan oleh pemangku adat di lokasi penutupan. Bupati Nagekeo juga terlibat dan menyaksikan seremonial ada tersebut, sekaligus menyaksikan proses penangkapan pertama yang dilakukan oleh nelayan gurita di Desa Kotodirumali. 

    Penangkapan gurita oleh nelayan  itu dilakukan dengan cepat pada lokasi penutupan, kurang lebih waktu 20 menit, nelayan sudah berhasil menangkap gurita dengan berat 2,6 kg jantan dan 2,49 kg betina. 

    Bupati Don dan rombongan menunggu di pinggir pantai menunggu penangkapan yang dilakukan oleh nelayan dengan menyelam di area yang di targetkan untuk penangkapan. Ketika nelayan berhasil menangkap gurita itu Bupati Don bersama rombongan dan undangan langsung memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan bersama-sama. 

    Bupati pegang gurita

    “Cukup mudah ya membedakan jenis kelamin jantan dan betina, dan ini menjadi pembelajaran bersama bagi kita yang hadir hari ini,” kata Bupati Don. 

    Menurutnya jika gurita yang betina kalau sedang bertelur alangkah lebih baik dilepaskan kembali guna meningkatkan produksi gurita yang lebih banyak lagi. Selain itu, gurita memang sewajarnya menangkap di atas 2 kg  agar nelayan bisa meningkat pendapatannya. 

    Usai melakukan seremoni pembuka di lokasi penutupan rombongan dan peserta undangan bersama Bupati bergegas kembali ke tenda pertemuan yang telah disiapkan oleh Kelompok pengelolaan perikanan berbasis masyarakat di Desa kotodirumali dan desa podenura. 

    Di sesi kegiatan itu, para nelayan, peserta undangan diminta berbagi pengalaman dengan bupati dan pemerintah setempat terkait dengan Pengelolaan Ruang laut pada komoditas unggulan yakni gurita. 

    Dari pantauan awak media peserta yang terlibat utusan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT cabang Ende, Nagekeo dan Ngada, Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten, Camat Keo Tengah, para kepala desa, BPD dan pihak keamanan. 

    Dalam Forum resmi itu pengurus Yayasan Tananua Flores Hironimus Pala menjelaskan bahwa keberadaan Tananua Flores di wilayah Kabupaten Nagekeo kurang Lebih  1 Tahun sejak September 2021 hingga september 2022. Hal yang sudah dilakukan oleh Yayasan Tananua Flores adalah mendamping kelompok Pengelola perikanan di dua desa, dengan memberikan pelatihan, melakukan pendataan terhadap gurita, pembuatan profil nelayan, feedback data gurita kepada masyarakat dan melakukan Buka tutup lokasi penangkapan gurita. 

    Saat ini potensi perikanan gurita telah dimanfaatkan oleh nelayan di Desa Kodim dan Pedonura.  Hasil pendataan Gurita dalam periode September 2021 – juli  2022  yang  terdata  dari 28 orang nelayan gurita dengan jumlah tangkapan gurita sebanyak 2.935,28 kg, dengan rincian berat gurita jantan 1.213,76 kg dan betina 1.621,52 kg.   Sedangkan  total  individu gurita yang di tangkap sebanyak 2,215 ekor. Dengan rincian gurita betina 1,217  ekor, dan jantan sebanyak 998 ekor.

    Total pendapatan nelayan gurita  di desa podenura dengan berat gurita 671,65kg x Rp.50.000 rata-rata harga gurita Total pendapatan Rp 33,582,500(tiga puluh tiga juta lima ratus delapan puluh dua ribu lima ratus rupiah) Penangkapan sejak September 2021 hingga agustus 2022.

    Sementara pendapatan Nelayan untuk di desa kotodirumali dengan Harga gurita rata-rata Rp.50.000 x berat gurita 2263,63 , total pendapatan Nelayan sebesar Rp, 113,181,500.  Penangkapan sejak September 2021 hingga Agustus 2022.

    Selain itu ketua pengurus juga menuturkan tentang pentingnya Konservasi ekosistem laut agar lingkungan laut tetap lestari. 

    Kata hironimus bahwa Lingkungan laut merupakan salah satu penyumbang oksigen untuk kehidupan manusia. Disisi yang lain bahwa dengan penerapan buka tutup lokasi tangkap ini nelayan dengan mudah menangkap gurita tidak terlalu jauh melainkan sangat dekat. 

    “ Emas yang ada didepan mata kita harus dijaga dengan baik dan perlu diatur agar emas yang dekat ini tidak jauh, dan  hari ini para nelayan telah membuktikannya”, katannya. 

    Bupati nagekeo dalam sambutannya mengatakan bahwa segala sesuatu untuk memulai program kegiatan harus berawal dengan data, dan beliau memberikan apresiasi kepada Tananua flores yang telah masuk bekerja di wilayahnya. . 

    “ Data merupakan fondasi dasar untuk melakukan program konservasi di areal laut, dan Tananua dan kelompok nelayan gurita di desa ini telah membuktikannya”, katanya. 

    Lanjut bupati Don, Saat ini pemerintah nagekeo akan mendukung penuh program yang sudah dijalankan oleh yayasan tananua dan kedepannya akan diproses dengan cepat program kerja samanya dengan badan dinas terkait. 

    Bupati berjanji akan selalu mendukung apa yang dikerjakan nelayan dengan tujuan lingkungan laut tetap lestari. 

    Selain itu, bupati berharap dengan kegiatan penutupan sementara itu, bisa meningkatkan pendapatan ekonomi nelayan melalui komoditas gurita, dan kegiatan penutupan sementara itu bisa berlanjut di lokasi-lokasi lain. 

    Kata kunci dari konservasi wilayah pesisir mencakup pemanfaatan, perlindungan, pelestarian, serta terjaminnya ekosistem yang berkesinambungan/berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan karena sumberdaya pesisir baik flora, fauna, dan ekosistem memiliki kegunaan dan nilai  ekologis, ekonomis dan sosial yang penting bagi kehidupan manusia.

    oleh : Jhuan Mari

     

    Ikuti tulisan menarik Ende Pancasila lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.