Pemerintah akan Gunakan Panas Bumi Menjadi Pembangkit Listrik Indonesia - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

Pembangkit Listrik Panas Bumi Sarulla di Tapanuli Utara. Foto- Tribunnews.

djohan chan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 November 2019

Jumat, 23 September 2022 07:24 WIB

  • Peristiwa
  • Topik Utama
  • Pemerintah akan Gunakan Panas Bumi Menjadi Pembangkit Listrik Indonesia

    Guna menghemat pengeluaran dana anggaran negra. Pemerintah cendrung mengalihkan penggunaan batu bara, pada panas bumi. Untuk Pembangkit Listrik Negara (PLN) Persero.

    Dibaca : 1.016 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Guna menghemat pengeluaran dana anggaran negara, pemerintah cenderung mengalihkan penggunaan batu bara kepada panas bumi untuk Pembangkit Listrik Negara (PLN) Persero. 

    Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi,vterbentuk dari beberapa fenomena: peluruhan elemen radioaktif di bawah permukaan bumi. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi.

     “Kondisi bentang alam Indonesia dilewati oleh cincin api pasifik atau yang dikenal sebagai ring of fire, yaitu wilayah yang banyak terdapat gunung berapi, merupakan potensi besar untuk pemanfaatan panas bumi dan pembangkit listrik,” kata Dadan Kusdiana, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Dia menjelaskan kepada wartawan, di ruang kerjanya, Jakarta, beberapa waktu yang lalu, bahwa panas bumi itu dikelola dengan cara membuat sumur hingga mencapai titik panas bumi. 

    Panas tersebut dialirkan ke lokasi turbin (Mesin penggerak) untuk mengangkat panas bumi kepermukaan, kemudian diatur pengelolaannya pada suatu tempat oleh pihak perusahaan swasta yang ditetapkan oleh pemerintah khusus di bidang energi.

    Menurut Dadan Kusdiana, pemerintah memanfaatkan panas bumi untuk dijadikan sumber tenaga energi alternatif. Selain mengurangi biaya anggaran dana pemerintah, aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) tidak menggunakan bahan fossil fuel, atau batu bara. Sehingga tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca.

    Secara komersil, program Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) telah diterapkan pada tanggal 6 April 2018 di PLTPB Karaha- Bodas, Jawa Barat. Oleh PT Pertamina Geothermal Energy, kapasitas -30 Megawatt (MW), dan PLTPB Karaha ini mampu melistriki 33 ribu rumah di Tasikmalaya dan sekitarnya.

    “Jumlah tersebut merupakan realisasi dari program yang dijadwalkan pemerintah sebesar 35.000 MW, dan pada triwulan kedua, ditahun 2018. Jumlah itu dikembangkan menjadi 227 Giga Watt hour (GWh), untuk transmisi Jawa-Bali,” kata Dadan Kusdiana.  

    Dadan juga menjelaskan untuk 227 Giga Watt hour (GWh) dengan kapasitas terpasang sebesar 110 MW disalurkan dan dikelolah oleh PLTPB Sorik. Marapi Modullar Unit 1, dan Unit 2. Serta PLTPB Balai Unit 1 Lumut, dan PLTPB Sokoria Unit 1.

    Sampai saat ini pemerintah masih megembangkan penelitian produksi energi dari PLTPB, seperti di wilayah Sarulla, kawasan Gunung Toba dibagi menjadi tiga unit, dikembangkan di dua lokasi. Silangkitang dengan kapasitas 1 kali 110 Mega Watt (MW), dan 2 uni di Namora -I-Langit (NIL) dengan kapaistas 2 kali 110 MW.

    Menurut cataran sejarah, Gunung Toba dahulunya merupakan gunung berapi aktif yang meletus sekitar 7000 tahun lalu. Gunung Toba diprediksi masih memiliki potensi panas bumi dari Air panas yang mengalir keluar dari perut bumi, digunakan sebagai pembangkit listrik terbesar didunia.  

    Dadan Kusdiana juga mengatakan Pembangkit Listrik Sarulla akan menggantikan Pembangit Listrik Panas Bumi  Wayang Windu milik Star Energy sebagai pembangkit listrik tenaga geotermal terbesar di Indonesia.

    Pembangkit Listrik Wayang Windu terletak di wilayah selatan Bandung (Jawa Barat), memiliki kapasitas total 227 Giga Watt hour (GWh). “Pembangkit Listrik Panas Bumi Sarulla adalah langkah penting untuk meningkatkan peran sumber energi terbarukan Indonesia yang bisa di ekspor ke Asia Tenggara,” kata Dadan.

    Berdasarkan data dari Direktorat Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi tercatat sumber daya panas bumi yang telah dikelola mencapai 1.948,5 MW. Terdiri dari 13 tempat PLTPB, pada 11 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), mulai dari wilayah barat sampai timur Indonesia.

    Contoh semisalnya Jawa Barat, ada 6 PLTPB, 1. Geothermal Salak, 2. Wayang Windu, 3. Patuha, 4.Darajat ,5. Kamojang , 6. Karaha, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) ada 2 PLTPB, 1. Matalako, dikelolah PT Perusahaan Listrik Negara, 2. Ulumbu, juga dikelolah PT PLN. Dieng, Jawa Tengah. Dikelolah oleh PT Geo Dipa Energy, dan Sarulla, Sibual-buali, Sumatera Utara. Ulubelu, Waypanas, Lampung. Lahendong, Tompaso, Sulawesi Utara.   

    Dadan menjelaskan pada tanggal 28 Januari-28 Februari 2022 lalu, juga dilakukan tender pekerjaan, untuk  menggarap dan pelaksana survei, serta melakukan eksplorasi panas bumi di daerah Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Selaku pemenang lelang pekerjaan itu adalah PT. DMGE (Geopatra, Sinar Mas Grup).

     “Proses pembangunan proyek ini membutuhkan investasi 1,7 milyar dollar AS. Semula dilaksanakan pada Juni 2014. Pembangkit listrik ini mulai beroperasi pada tahun 2016, dan beroperasi penuh di tahun 2018. Dana untuk biaya ini dikumpulkan melalui pinjaman komersil, Bank Internasional, dan Proyek Sarulla dipimpin oleh konsorsium yang terdiri dari Medco Power Indonesia (37.5%), Itochu Corporation (25%), Kyushu Electric Power Company (25%) dan Ormat International (12.5%),” kata sumber. ***

    Ikuti tulisan menarik djohan chan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.