Di Alam Semesta Sejajar Lain - Fiksi - www.indonesiana.id
x

sumber ilustrasi: nypost.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 27 September 2022 22:45 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Di Alam Semesta Sejajar Lain

    Kamu adalah penata rambut dengan tato di sekujur lengan, poni rambutmu berwarna ungu. Sabuk kulit di pinggang untuk sisir dan klip. Kamu tersenyum pada klien di cermin saat kamu memompa kursi ke ketinggian yang tepat. Kamu menatap mata mereka dan meluruskan kepala mereka. Kamu menjalankan jari-jarimu melalui rambut basah. Kamu mengambil gunting. Kamu menyukai suara renyah yang dihasilkan rambut di antara bilahnya. Kamu menikmatinya jatuh ke lantai seperti daun meranggas di musim kemarau.

    Dibaca : 528 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Kamu adalah penata rambut dengan tato di sekujur lengan, poni rambutmu berwarna ungu.

    Sabuk kulit di pinggang untuk sisir dan klip. Kamu tersenyum pada klien di cermin saat kamu memompa kursi ke ketinggian yang tepat. Kamu menatap mata mereka dan meluruskan kepala mereka. Kamu menjalankan jari-jarimu melalui rambut basah. Kamu mengambil gunting. Kamu menyukai suara renyah yang dihasilkan rambut di antara bilahnya. Kamu menikmatinya jatuh ke lantai seperti daun meranggas di musim kemarau.

    Potongan rambut lebih dari sekadar merapikan. Kamu melihatnya sebagai pembersihan, kesempatan memulai hidup baru. Saat kamu memegang gunting, kamu merasakan siapa orang ini, ingin menjadi siapa, dan membentuknya sesuai dengan itu.

    Saat kamu menyapu untaian yang dipotong dari lantai, seperti mengumpulkan kepribadian yang lama, tubuh yang luruh. Untuk memberinya martabat, kamu membisikkan doa di atasnya.

    Kamu berusia lima tahun saat kamu menyelinap ke gudang dengan gunting. Gunting, gunting, gunting. Sungguh memesona untuk melihat sesuatu yang melekat pada tubuhmu jatuh begitu mudah. Kamu menyukai segarnya tepi kepala setelah dicukur.

    Kamu merangkak keluar dari gudang dan mengembalikan gunting ke tempatnya. Tentu saja, ibu memperhatikan rambutmu yang tidak rata, benang gelap yang kamu tinggalkan di lantai gudang, dan dia dan ayah memarahimu.

    Kesalahan, penilaian yang tidak sehat, potongan rambut yang buruk tidak dapat ditebus. Bagimu, hidup adalah ke mana jari kaki meregang. Kamu tak berani mengambil gunting untuk memotong rambutmu lagi.

    Kamu bukan penata rambut dengan tato di sekujur lengan. Kamu adalah seorang penulis novel roman yang bekerja di laptop di ranjang kamar tidur  dengan cahaya setengah terang. Putrimu adalah bidadari. Rambut hitamnya mengkilap, lembut seperti sutra terbaik.

    Dua tahun setelah pandemi, potongan rambut pertamanya yang sudah lama tertunda.

    Suatu hari Minggu setelah mandi, kamu mendudukkannya di salah satu kursi kecilnya, di meja ruang makanyang berfungsi ganda sebagai ruang penata rambut saat kamu menggantungkan handuk kecil di sekelilingnya, dan mengambil gunting. Suara renyah mengiris apel.

    Di cermin, tato muncul di lenganmu dan poni rambutmu berubah menjadi ungu.

     

    Tangsel, 27 September 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.