x

Foto Antara Pemimpin Amerika Serikat dan Korea Utara

Iklan

Almand Ramadhan Husin Thalib

IR Students Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta
Bergabung Sejak: 24 Oktober 2022

Selasa, 25 Oktober 2022 09:04 WIB

Upaya Amerika Serikat dalam Denuklirisasi Semenanjung Korea pada Masa Pemerintahan Donald Trump


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebagaimana yang telah kita ketahui, pengembangan senjata nuklir adalah salah satu perbincangan yang sangatlah penting untuk menjaga stabilitas keamanan kawasan sekitar 20 tahun terakhir. Adapun salah satu kawasan yang cukup rentan terhadap bahaya nuklir adalah kawasan Asia Timur.

Pada masa pemerintahan Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump, permasalahan nuklir Korea Utara menjadi suatu ancaman yang dapat memberi dampak terhadap peran Amerika sebagai negara adidaya yang mempunyai pengaruh besar di wilayah Asia Timur. Sejalan dengan banyaknya perubahan pada masa pemerintahan Trump, Semenanjung Korea secara konsisten memberikan tantangan terhadap kepentingan Amerika Serikat di wilayah Asia Timur.

Pada sisi yang lain, Korea Selatan telah mengembangkan dan meningkatkan kemampuan militer agar memungkinkan terjalinnya kerja sama dengan Amerika dalam hal menjaga kepentingan keamanan dari masing-masing negara yang bersangkutan. Namun Korea Utara juga tidak tinggal diam, negara dengan rezim otoriter ini turut memperlebar kemampuan nuklirnya dengan mengembangkan rudal dengan pengendalian jarak jauh dan mengancam kepentingan Amerika Serikat di Asia Timur secara langsung.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Upaya untuk menyelesaikan permasalahan nuklir Korea Utara ini tidaklah mudah, dari adanya perdebatan yang panjang dalam menghentikan program nuklir Korea Utara sudah diupayakan agar stabilitas keamanan dari Semenanjung Korea dapat dicapai. Trump memiliki lima opsi yang cukup strategis untuk menghentikan program nuklir yang telah dilakukan oleh Korea Utara.

Opsi pertama, Trump mengambil sikap pasif sebagaimana seperti strategi yang telah dilakukan oleh para Presiden Amerika Serikat yang sebelumnya serta menunggu respon Korea Utara agar sepakat pada perjanjian denuklirisasi. Urgensi yang terus-menerus muncul akibat dari ambisi Korea Utara dalam pengembangan nuklir, opsi ini dapat dikatakan tidak menjanjikan keuntungan bagi Amerika mengingat Presiden Korea Utara saat ini, Kim Jong-un sukses menjalankan pemerintahan yang lebih konsisten daripada rezim yang sebelumnya.

Opsi kedua, Amerika Serikat mengambil tindakan represif, di mana Amerika menekan rezim Korea Utara melalui tindakan non-militer seperti dengan memberi sanksi, tekanan, dan juga kebijakan isolasi yang dibuat untuk memberikan efek yang lebih besar kepada apa yang telah dilakukan oleh Korea Utara selama ini. Opsi ini juga dapat dikatakan masih kurang menjanjikan walau opsi ini sendiri bisa dibilang sebagai opsi yang rasional.

Lalu ketiga adalah dengan mendorong Cina memberikan desakan politik serta tekanan ekonomi terhadap Korea Utara. Menekan Cina dalam memanfaatkan kekuatan ekonomi kepada Korea Utara ini telah dinyatakan oleh Trump untuk menyelesaikan permasalahan nuklir ini, mengingat ekonomi Korea Utara sangat bergantung kepada Cina yang mana hal ini bisa menjadi kunci untuk menyelesaikan masalah nuklir. Opsi keempat, adalah menggunakan militer, di mana opsi ini menggunakan cara ancaman secara langsung untuk mengganti rezim Korea Utara yang sedang berkuasa. Hal ini dinyatakan sendiri oleh Trump bahwa lewat aksi militer inilah yang merupakan skenario yang paling layak dilakukan oleh Amerika Serikat untuk menghentikan program senjata nuklir sekaligus melawan rezim Korea Utara, meski penggunaan militer ini akan menimbulkan resiko terjadinya perang. Perang sendiri akan mengancam stabilitas keamanan, politik, ekonomi, serta sosial di negara-negara kawasan yang terdampak. Tidak hanya sampai di situ saja, perang juga dapat berdampak pada negara-negara yang berada di di sekitar kawasan yang terdampak perang.

Opsi yang terakhir adalah melakukan perundingan secara langsung dengan Korea Utara oleh Amerika Serikat, di mana Trump sendiri telah menyatakan tidak ingin menggunakan strategi yang telah dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat yang sebelumnya. Trump sendiri mengatakan bahwa ia akan membujuk dan berbincang secara langsung dengan Presiden Korea Utara, Kim Jong-un untuk menghentikan program nuklir yang telah dilakukan oleh negaranya.

Opsi ini sangat baik dilakukan, sebab apabila dicapai sebuah kesepakatan, maka akan menjadi sebuah perjanjian damai antara kedua pihak. Hal ini akan berdampak baik untuk kawasan, yang pada akhirnya akan memperbaiki situasi kawasan secara menyeluruh. Perjanjian damai ini dapat dikatakan sebagai satu-satunya opsi yang tepat bagi Amerika Serikat dalam mengatasi defisit keamanan Korea Utara yang merupakan motif dari sebab berjalannya program senjata nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara. Korea Utara sendiri telah bersedia untuk menghentikan programnya tersebut apabila Amerika Serikat menyetujui permintaan mereka untuk mengatasi defisit keamanan negara mereka.

Kelima opsi tersebut sebenarnya telah diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat yang sebelumnya, seperti strategi pendekatan secara parsial yang telah dilakukan pada masa pemerintahan Clinton, Bush, serta Obama kepada Korea Utara. Ini mengartikan setiap kebijakan-kebijakan yang ada saling berseberangan dan tidak selaras. Dengan melihat semakin mendesaknya permasalahan nuklir Korea Utara, Trump pun menggunakan cara yang berbeda, di mana perbedaan itu terlihat dari cara Trump menggabungkan semua strategi yang sudah ada. Trump pun sudah beberapa kali mengubah strategi dan terus mencoba berbagai cara untuk menghentikan program nuklir Korea Utara ini. Upaya Trump dalam mengubah kebijakan sudah dapat dilihat dari strategi kebijakan yang telah dilayangkan olehnya pada masa kampanye.

Dari cara yang dilakukan Trump dalam menghadapi masalah ini secara umum dapat menjadi indikator untuk membuktikan kredibilitas strategi dan juga efektivitas dari pendekatan keamanan Amerika Serikat. Apabila Amerika Serikat tidak ikut serta pada upaya denuklirisasi Korea Utara, maka Amerika Serikat dapat dikatakan secara tidak langsung menyetujui program senjata nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara. Trump sudah semestinya berusaha untuk mengubah kebijakan keamanan Amerika yang signifikan agar kegagalan-kegagalan yang sebelumnya menjadi sebuah gambaran untuk Amerika Serikat ke depannya.

Ikuti tulisan menarik Almand Ramadhan Husin Thalib lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler