Menengok Sumbangan Pemikiran M. Amin Abdullah dalam Dialog Antar Umat Beragama (Bagian 2) - Analisis - www.indonesiana.id
x

Sumber foto https://islamlib.com/

Wahyu Tanoto

Penyuka kopi hitam dan jadah goreng, suka menulis, dan fasilitator isu sosial.
Bergabung Sejak: 4 Agustus 2022

Sabtu, 29 Oktober 2022 06:02 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Menengok Sumbangan Pemikiran M. Amin Abdullah dalam Dialog Antar Umat Beragama (Bagian 2)

    Amin Abdullah, sesungguhnya dengan latar pemikirannya memiliki keinginan untuk memberikan perkembangan pemikiran dalam dunia Islam dengan mecoba jalan tengah dengan untuk menghindari kejumudan dalam berpikir karena adanya gap (jarak) doktrin agama yang dianggap final. Perlu disadari bahwa persoalan keagamaan adalah persoalan umat manusia. Pendapat yang menyatakan hanya ada satu agama yang benar harus dibuang jauh-jauh. Islam bukanlah satu-satunya agama yang hidup pada saat sekarang ini. Mesti direnungkan bahwa saat sekarang ini terdapat banyak agama yang hidup dan mempunyai sistem tata pikir dan seperangkat nilai dan keyakinan sama persis seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam, hanya persoalan mengenai kitab suci, bahasa yang digunakan, nabi-rasul yang dijadikan tokoh karismatik dan panutannya, tata cara ritual peribadatan serta tata letak geografisnya berbeda.

    Dibaca : 735 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Mengenal lebih dekat M.Amin Abdullah

    Muhammad Amin Abdullah, adalah sosok intelektual muslim kelahiran Jawa Tengah, tepatnya di Margomulyo, Tayu, Pati pada 28 Juli 1953 atau 8 tahun pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Dibesarkan di tengah-tengah keluarga muslim yang taat. Telah memiliki buah hati hasil pernikahannya dengan istri tercinta Hj. Nurkhayati, masing-masing bernama; Silmi Rosda,  Gigay Citta Acikenci, Azmi Khubba Adil Paramarta. Masa remajanya dihabiskan untuk menimba ilmu di pesantren Gontor Ponorogo. Amin Abdullah mulai menapaki dunia pendidikan mulai dari Sekolah Rakyat (SR) lulus pada 1966 di tempat kelahirannya, Pati.

    Setelah merampungkan pendidikan Sekolah Rakyat, Amin Abdullah lantas melanjutkan pendidikannya pada Kalliyat al-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI), pada 1972 pesantren Gontor Ponorogo dan menamatkan program sarjana muda pada Institut Pendidikan Darussalam (IPD) di pesantren yang sama. Sebuah pesantren yang sangat ketat menerapkan disiplin kepada para santrinya. Pesantren yang  mewajibkan para santrinya memiliki kemampuan dalam berbahasa Arab dan Inggris dalam aktivitas kesehariannya. Dan, akan ada konsekuensi apabila ketahuan melanggar aturan ini.

    Amin Abdullah menamatkan masa pendidikan di Gontor selama enam tahun, lantas merantau ke Yogyakarta dan memilih melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang Universitas Islam Negeri) Yogyakarta, 1982. Di fakultas inilah, Amin Abdullah mendapatkan masukan-masukan mengenai ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan sang pendiri A. Mukti Ali. Begitu masuk Kota Yogyakarta tahun 1978 sebagai mahasiswa tingkat pertama Jurusan Ilmu Perbandingan Agama di IAIN, Amin sudah merasa kota ini amat kondusif untuk kerukunan hidup beragama. Istilah Amin Abdullah, kota Yogyakarta adalah sosok yang unik dan inspirasional dalam kaitan dialog antar-agama. Semua agama di sini hidup rukun. Yogyakarta dihuni oleh mahasiswa dari semua etnis dan agama. Mereka membaur dalam kehidupan yang plural, kuliah di 98 universitas, institut, dan akademi di kota itu.  

    Setelah menyelesaikan program Sarjana, selanjutnya Amin Abdullah ngangsu kaweruh (menimba ilmu) dan pengalaman di luar negeri atas sponsor Departemen Agama Republik Indonesia dan pemerintah Republik Turki mengambil program Ph.D. bidang studi filsafat pada tahun 1985, di Departmentent of Philosophy, Faculty of Art and Science , Middle East Technical University (METU), Ankara Turki yang diselesaikannya pada 1990. Desertasinya, The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali and Kant, diterbitkan di Turki (Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992). Kemudian mengikuti program Post-Doctoral di McGill University, Kanada pada 1998. Desertasi yang diterbitkan ini, bisa dijadikan gambaran tentang pikiran-pikiran sosok Amin Abdullah untuk melihat kecenderungan berpikirnya yang tertarik dengan perbandingan-perbandingan pemikiran kefilsafatan antara dunia Barat dan Islam. Hal ini bisa diperhatikan lewat goresan tangannya Falsafah Kalam Di Era Post Modernisme atau dalam karya yang lain Studi Islam: Normativitas atau Historisitas?

    Semasa masih menjadi mahasiswa di Turki, sosok Amin Abdullah semakin dikenal luas diantara para pelajar ketika menjadi ketua perhimpunan pelajar Indonesia (PPI) periode 1986-1987. Ketika menghadapi masa jeda Kuliah, Amin Abdullah mencoba menimba pengalaman baru dalam dunia pekerjaan. Amin Abdullah bekerja pada Konsulat Jenderal Republik Indonesia, sekretariat Badan Urusan Haji di Jeddah (1985 dan 1990), Makkah (1988) dan Madinah (1989), Arab Saudi.

    Sepulang dari luar negeri, Amin Abdullah kembali ke almamaternya IAIN Sunan Kalijaga untuk menjadi pendidik di kampus ini. Amin Abdullah tercatat sebagai pendidik tetap di fakultas Ushuluddin yang aktif sebelum diangkat menjadi rektor dengan materi yang berhubungan dengan pemikiran Islam. Amin Abdullah juga tercatat sebagai pendidik di  Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain menjadi pendidik di almamaternya Amin Abdullah juga tercacat dibeberapa perguruan tinggi di Indonesia; UIN Sunan Ampel Surabaya, IAIN Walisongo Semarang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan pengajar di Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

    Pada tahun 1993-1996 Amin Abdullah menjabat sebagai asisten direktur program Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga; 1992-1995 menjabat sebagai wakil kepala Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada 1998 Amin Abdullah mendapatkan kepercayaan menjadi Pembantu Rektor Bidang Akademik  yang berakhir pada 2001. Dan dimasa menjabat sebagai pembantu rektor inilah Amin Abdullah memperoleh gelar sebagai Guru Besar dibidang Ilmu Filsafat.

    Sedangkan dalam organisasi kemasyarakatan, Amin Abdullah menjadi ketua divisi ummat, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), organisasi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta periode 1991-1995. Kemudian, setelah muktamar Muhammadiyah ke-43 di Banda Aceh, Amin Abdullah didaulat menjadi ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-2000) yang sebelumnya dipegang oleh K.H Azhar Basyir. Pasca Muktamar Muhammadiyah pada tahun 2000, yang menetapkan Syafi’i Ma’arif sebagai ketua umum, Amin Abdullah kembali dipercaya ikut terlibat dalam kepemimpinan Ahmad Syafii Ma’arif dengan menjadi wakil ketua.

    Karir jabatannya semakin menanjak manakala Amin Abdullah terpilih menjadi Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selama dua periode. Periode pertama 2003-2005. Sedangkan periode kedua pada 2005-2008. Pada masa Amin Abdullah inilah ada peristiwa sejarah sepanjang masa atas peristiwa konversi Institut Agama Islam Negei (IAIN) Sunan Kalijaga menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga pada 2004.

    Sedangkan beberapa seminar yang diikuti baik dalam ataupun luar negeri antara lain, “Kependudukan dalam Dunia Islam”, Badan Kependudukan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir 1992; tentang “Dakwah Islamiyah”, Pemerintah Republik Turki, Oktober 1993. Lokakarya Program Majelis Agama ASEAN (MABIM), Pemerintah Malaysia, di Langkawi, Januari 1994; Islam and the 21st Century, Universitas Leiden, Belanda, Juni 1996; Qur’anic Exegesis in the Eve of 21st Century, Uiversitas Leiden, Juni 1998. Islam and Civil Society: Messages from south asia Tokyo Jepang, 1999. al tarikh al-Islamy wa azamah al-huwiyyah”, Tripoli, Libya, 2000; international anti-corruption conference, seoul, South Korea, 2003; persiapan seminar New Horizon in Islamic Tought, London, Agustus 2003; Gender issues  In Islam, Kuala Lupur, Malaysia, 2003; Dakwah and Dissemination of Islamic Religious, Authority in Contemporarry Indonesia. Leiden, Belanda 2003; Interfaith Dialogue: Conflict and Peace, The Luthern World Federation (LWF) Kopenhagen, Denmark, Oktober 2003; New Direction of Islamic Thought and Practice: equality and Plurality, Yogyakarta, Indonesia, Juni 2004. Religious Harmony: Problem, Practice and Education, Yogyakarta, Indonesia, Oktober 2004; “The Idea (L) of an Indonesian Islamic University: Contemprary Perspectives”, Yogyakarta, Indonesia, 9-11 Desember 2004; “University Teaching of Islamic Studies at the International Level:Concept, Policy and Trends”, Songkla, Southern Thailand, 19-20 Maret 2005; ”International Rudolf-Otto-Symposion”, Philipps Universitat Marburg, Jerman, 8-10 Mei 2005; ”The Changeable and The Unchangeable in Islamic Thought and Practice”, Sarjevo, Bosnia-Herzegovina, 7-9 Mei 2005; ”From Terrorism to Global Ethics:Religions and Peace”, Moscow, 5-10 Juni 2005; ”Europe and Modern Islam”, Berlin, Jerman, 13-17 Agustus 2005, Peresmian Internasional School oleh PASIAD (Pacific Countries Sosial and Economic Solidarity Association) di Thailand, Kamboja dan Vietnam, 15-21 Januari 2006.[1]

    Beberapa Karya Amin Abdullah

    Selain sebagai pendidik dan aktif menjadi pembicara diberbagai seminar, Amin Abdullah juga termasuk produktif dalam melahirkan karya. Beberapa karya ilmiah yang telah berhasil ditelorkan misalnya The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali & Kant, Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992 (A PhD Dissertation). Buku ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jeman oleh Dr. Atilla Yakut yang diberi judul Universalitat Des Ethik Kant & Ghazali, (Verlag Y. Landeck, Frankfurt) 2003 dan diterjemahkan pula kedalam bahasa Indonesia yang diberi judul Antara Al-Ghazali & Kant : Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan, 2002),  Agama dan Akal Pemikiran: Naluri Rasa Takut dan Keadaan Jiwa Manusia (Jakarta: Rajawali, 1985. Pengantar Filsafat Islam: Abad Pertengahan (Jakarta: Rajawali, 1989). Karya-karya ilmiah lain yang juga diterbitkan antara lain, Falsafah Kalam Di Era Post Modernisme (Yogyakarta: pustaka pelajar, 1995); Studi Agama Normativitas Atau Historisitas (Yogyakarta: pustaka pelajar, 1996); Dinamika Islam Kultural: Pemetaan Atas wacana KeIslaman Kontemporer (Jakarta: Mizan, 2000; Pendidikan Agama Di Era Multikultural Multi Religius (Jakarta: PSAP, 2005); Islamic Studies Di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif (Yogyakrta: Pustaka Pelajar, 2006). Sedangkan beberapa karya ontologinya antara lain, Integrasi Sains-Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains (Yogyakarta: Suka Press, 2004); Islamic Studies Dalam Paradigma Integrasi Interkoneksi (Yogyakarta: Suka Press, 2007); Restrukturisasi Metodologi Islamic Studies Mazhab Yogyakarta (Yogyakarta: Suka Press, 2007).

    Beberapa publikasi internasionalnya antara lain; Gunumuzde Vaiz Ve Metodu (Dha Etkin Irsad icin ne Yapilmalidir?) in I. Din Surasi Teblig Ve Muzakereleri (1-5 Kasim 1993), I, Ankara, Turki, Diyanet Isleri Baskanligi Yayinlari, 1995; The Problem of Religion in Ibn Sina's Philosophy, in Al-Jami'ah, No. 59, 1996. Preliminary Remarks on the Philosophy of Islamic Religious Science, in Al-Jami'ah, No. 61, 1998; Muhammadiyah's Experience in Promoting a Civil Society in the eve of 21st Century, a joint publication between The Institute of Southeast Asian Studies and Sasakawa Peace Foundation, Tokyo, Japan under the title of Islam & Civil Society in Southeast Asia, Nakamura Mitsuo (Eds.), ISEAS, Singapore, 2001. Neighborology and Pro-Existence in Dialogue and Beyond : Christian and Muslims Together on the way, The Lutheran World Federation, 01/2003; The Relationship Between the Moslems and the Non-Moslems in the era of globalization : Looking forward from an Islamic Perspective, Proceedings of International Seminar on Globalization, Religion, and Media in the Islamic World : Intercultural Dialogue, Atmajaya Yogyakarta University, 2003. The Clash of Ideologies : Secularism versus Islamism" in Chaider S. Bamualim (Eds.), Islam & The West : Dialogue of Civilizations in Search of a Peaceful Global Order, Jakarta: PBB UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2003.

    Corak Pemikiran

    Amin Abdullah, sebagaimana dapat terlihat dari karya-karyanya, adalah sosok intelektual muslim yang mencoba konsen pada studi keislaman. Namun, dalam sebagian karya yang telah ditulis didalamnya pasti dimuat persoalan-persoalan keagamaan. Artinya, bahwa dengan berpijak basis keilmuan Islam Amin Abdullah berupaya untuk mengkontekstualisasikan pemikiran-pemikirannya. Peneliti yakin, Amin Abdullah pasti mengalami perkembangan pemikiran dalam melakukan kajian-kajian ilmu ke-Islaman khususnya-dan kajian tentang ilmu studi agama-agama.

    Artinya bahwa pemikiran Amin Abdullah bersifat dinamis dan sangat tergantung bagaimana lingkungan formal-non formal yang mengitarinya. Bukan bermaksud mendikotomi hal ini, tapi logika berpikir yang dikembangkan peneliti adalah biasanya perubahan zaman akan menunutut seseorang dalam memberikan kontribusi berpikir tentang suatu keilmuan.

    Pengetahuan tentang wacana yang sama belum tentu menghadirkan out put (pemahaman) yang sama pula. Minimal, ada kenyataan yang berbeda dalam melakukan  studi keilmuan dikarenakan faktor tempat, waktu dan pengetahuan yang tidak sama dalam setiap individu. Jadi, untuk menggambarkan bagaimana sesungguhnya corak pemikiran Amin Abdullah dapat dilihat dari latar belakang pendidikan dan ide-ide pemikran yang terekam dalam karya-karyanya.

    Menurut Lutfi A. Syaukani bahwa secara garis besar corak pemikir kontemporer Islam terbagi menjadi tiga tipe; pertama transformatik. Pemikir yang bertipe ini lebih mengarahkan pada perubahan-perubahan pemikiran masyarakat tradisional-patriarkhal menuju mayarakat rasional-ilmiah. Para pemikir bertipe ini hampir selalu dalam melakukan terobosan-penyelesaian-suatu masalah berdasarkan perspektif agama. Kedua, bertipe reformistik. Pemikir bertipe ini lebih menekankan pemikirannya pada apa yang disebut sebagai perubahan-perubahan terhadap interpretasi-interpretasi dangan cara penyesuaian konteks zaman.

    Tipe yang kedua ini menurut Lutfi terpecah menjadi dua pandangan. Pandangan pertama menyatakan pada persoalan rekonstruksi bangunan pemikiran dengan tujuan agar hal-hal yang sebelumnya dianggap belum boleh diketahui (baca:tabu) diangkat kembali agar dapat diakses oleh umat secara keseluruhan. Sedangkan yang kedua lebih bersifat dekonstruktif, yakni adanya semacam pembacaan ulang terhadap apa-apa yang terjadi pada masa lalu (tradisi) dengan menggunakan metode masa sekarang dengan catatan jika hal ini masih eksis, relevan, pas untuk diterapkan meskipun masa lalu berbeda dengan masa sekarang.

    Sedangkan corak pemikir kontemporer Islam yang ketiga adalah bertipe idealistik-totalistik. Tipe ini lebih menekankan pada sikap dan pandangan idealis terhadap ajaran-ajaran Islam yang sifatnya total. Begitulah setidaknya yang disampaikan Lutfi A. Syaukani sebagaimana dikutip oleh Mashudi.[2] Artinya bahwa, tipe corak pemikir yang bertipe ini ekstrimnya tidak membutuhkan bantuan ataupun pertolongan pihak luar dalam penggunaan metodenya.[3]

    Merunut yang telah disampaikan Lutfi A. Syaukani di atas yang menyatakan bahwa tipologi para pemikir kontemporer terbagi menjadi tiga maka sosok intelektual muslim seperti Amin Abdullah yang merupakan pemikir kontemporer, yang bertipe dekonstruk-transformatif.[4] Amin Abdullah adalah intelektual muslim yang dapat dikatakan taat menjalankan ritual ibadah, lebih dari itu hal ini dapat dinikmati melalui beberapa karyanya[5] dan tidak terlalu berlebihan disebut sebagai ekspresi mengungkapkan pemikirannya.

    Amin Abdullah tidak saja hanya menghentak dunia akademik namun umat Islam pada khususnya. Perhatikan saja bagaimana tawaran Amin Abdullah yang sempat “memancing” dan mengundang kegelisahan sebagian masyarakat dengan anjurannya kepada umat Islam untuk melihat persoalan wahyu (normativitas) dan perilaku nabi Muhammad (historisitas) sebagai sebuah frame work studi keilmuan Islam. Normativitas-Historisitas bagi Amin Abdullah memiliki ketersinambungan. Apabila pengkajian mengenai normativitas (wahyu) tanpa mengindahkan persoalan historisitas dikhawatirkan putus di tengah jalan dalam pengkajian keilmuan.

    Amin Abdullah adalah sosok seorang intelektual yang sedikit “melawan” kebiasaan. Amin Abdullah tidak menerima begitu saja ketika beragama. Namun berusaha mempelajari terlebih dahulu apa yang ada dalam kitab suci (al-qur’an)-wahyu-baru kemudian disandingkan dengan problem-problem keilmuan studi Islam khususnya. Maka tidak heran bila kemudian, Amin Abdullah adalah salah seorang tokoh kontemporer yang termasuk memiliki “musuh” intelektual di negeri ini. Terbitnya buku ada pemurtadan di IAIN, adalah salah satu kecil contohnya. Buku ini sedikit banyak untuk mengungkapkan ketidak setujuan atas beberapa pandangan Amin Abdullah misalnya, mengenai penggunaan metode hermeneutik dalam menafsirkan al-qur’an yang nota benenya sudah ada penggunaan ilmu tafsir dan takwil untuk memahami al-qur’an dan kebetulan hampir semua umat Islam mengamini metode ilmu tersebut.

    Lebih dari itu, apa yang dilakukan oleh Amin Abdullah sesungguhnya memiliki semacam keinginan untuk mendamaikan antara penggunaan akal versus wahyu (teks). Amin Abdullah adalah sosok yang mencoba menawarkan keseimbangan dalam pola berpikir objektif. Selain seorang muslim yang boleh dibilang taat menjalankan perintah agama, Amin Abdullah merupakan sosok yang rasional. Artinya, tidak ada dikotomi antara wahyu-akal. Karena bagi Amin Abdullah agama haram untuk di kritisi, namun mengkritisi pemikiran keagamaan adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja untuk dilakukan.

    Apa yang ingin dikembangkan oleh Amin Abdullah dalam bidang keilmuan sesungguhnya meliputi tiga hal; pertama bahwa wilayah Islamic Studies bukanlah suatu disiplin ilmu tertutup. Islamic studies adalah bangunan keilmuan biasa yang hendaknya diuji ulang validitasnya lewat perangkat konsistensi, koherensi dan koresonpondensi. Kedua, harus disadari bahwa persoalan keagamaan adalah persoalan umat manusia. Bahwa pendapat yang menyatakan hanya ada satu agama yang benar harus dibuang jauh-jauh. Islam bukanlah satu-satunya agama yang hidup pada saat sekarang ini.

    Tampaknya perlu direnungkan bahwa saat sekarang ini terdapat banyak agama yang hidup dan mempunyai sistem  tata pikir dan seperangkat nilai dan keyakinan sama persis seperti yang dipraktikkan oleh umat Islam, hanya persoalan mengenai kitab suci, bahasa yang digunakan, nabi-rasul yang dijadikan tokoh karismatik dan panutannya, tata cara ritual peribadatan serta tata letak geografisnya berbeda. Artinya bahwa perlunya melakukan re-evaluasi dan reposisi mengenai pemikiran keagamaan yang dalam bahasa Amin Abdullah lazim disebut al-ifkaar al-diin. Ketiga, sebaiknya benar-benar memperhatikan kontak individu maupun sosial. Hal ini dapat dimaknai bahwa untuk saat sekarang ini bumi yang dipijak bukan hanya menjadi tempat tinggal manusia yang terdiri dari berbagai etnik, ras, suku, dan agama. Namun lebih dari itu sesungguhnya tempat yang didiami umat manusia juga akan melahirkan pandangan, pikiran-pikiran, relasi ketika terjadi kontak.[6]

    Amin Abdullah, sesungguhnya dengan latar pemikirannya memiliki keinginan untuk memberikan perkembangan pemikiran dalam dunia Islam dengan mecoba jalan tengah dengan untuk menghindari kejumudan dalam berpikir karena adanya gap (jarak) doktrin agama yang dianggap final. Perhatikanlah bagaimana Amin Abdullah “melahirkan” karya spektakuler paradigma integrasi-interkoneksi keilmuan Islam dan Sekuler. Karya ini sedikit banyak muncul karena adanya semacam desakan perkembangan keilmuan modern-kontemporer sebagai pijakan konversi IAIN menuju UIN dalam implementasi keilmuan zaman sekarang.[7]

    [1] Berkaitan dengan profil, latar belakang pendidikan, aktivitas dapat dilihat pada bebertapa buku karya M. Amin Abdullah; Falasafah Kalam Di Era Post Modernisme (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1995), Sudi Agama: Normativitas Atau Historisitas? (Yogyakarta: pustaka pelajar, 1996), Islamic Studies di perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), Dinamika Islam Kultural Pemetaan Atas Wacana KeIslaman Kontemporer (Bandung: Mizan, 2000), aminabd.wordpress.com.

    [2] Mashudi, Reintegrasi Epistemologi Keilmuan Sekuler (Telaah Paradigma Integrasi-Interkoneksi dan Relevansinya terhadap Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta M. Amin Abdullah. Skripsi Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2008, hlm. 33.

    [3] A. Lutfi Syaukani, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer dalam Paramadina Vol 1 Nomor 1, juli-desember 1998, hlm. 63-65.

    [4] A. Lutfi Syaukani, Tipologi dan Wacana Pemikiran Arab Kontemporer dalam Paramadina, hlm. 63.

    [5] Sebut saja Falsafah Kalam di Era Post Modernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), Studi Agama: Normativitas atau Historisitas? (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1996).

    [6] Selengkapnya lihat M. Amin AbdullahIslamic Studies Di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm. 74-75.

    [7] Mashudi, “Reintegrasi Keilmuan Islam dan Sekuler dalam Perspektif M. Amin Abdullah”,  Skripsi Faklutas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2008, hlm. 34.

    Ikuti tulisan menarik Wahyu Tanoto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.