Intoleransi, Dosa Besar Dunia Pendidikan - Pendidikan - www.indonesiana.id
x

Intoleransi Tidak Mendapat Tempat di Indonesia

Luwis Herawati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 November 2022

Minggu, 13 November 2022 07:30 WIB

  • Pendidikan
  • Topik Utama
  • Intoleransi, Dosa Besar Dunia Pendidikan

    Intoleransi masih sering terjadi di sekolah. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang bisa menjamin terjadinya toleransi.

    Dibaca : 999 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saat ini dunia pendidikan masih memiliki “PR” tentang tiga dosa yang menyangkut kekerasan. Yaitu masih adanya kasus  perundungan, kekerasan seksual dan intoleransi.  Kekerasan yang biasa terjadi bermula dari ketidakmampuan bertoleransi atas perbedaan atau apapun. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia toleransi merupakan sikap atau prilaku yang toleran. Secara istilah, toleransi adalah sikap saling menghormati dan menghargai antar individu atau antar kelompok lingkungan masyarakat tertentu. 

    Tahun 2021 siswi SMA Negeri 1 Gemolong, Sragen diteror oleh seorang pengurus rohis gara-gara tidak memakai jilbab. Dia mendapat pesan yang berisi intoleransi hingga penghinaan terhadap orang tuanya. Gara-gara masalah tersebut siswi tersebut bahkan sampai pindah sekolah ke kota lain. 

    Sikap toleransi harus dikedepankan dalam kehidupan di sekolah untuk menghadapi banyaknya perbedaan yang ada. Kita harus menggangap bahwa perbedaan adalah hal yang biasa terjadi. Sehingga perbedaan tidak akan menyebabkan terjadinya perpecahan melainkan perbedaan akan semakin memperkuat dan menjadikan suatu potensi untuk terus berkembang lebih baik.

    Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk dapat memupuk rasa toleransi dalam dunia pendidikan antara lain dengan berteman dengan semua orang. Kita tidak boleh membeda-bedakan dalam memilih teman walaupun berbeda status sosial ekomomi, agama dan keyakinan. Kaum mayoritas tidak boleh merundung kaum minoritas. Karena hal ini akan dapat menimbulkan perpecahan.

    Agar karakter toleransi menjadi pembiasaan berkembang di sekolah, berikut beberapa solusi yang dapat diterapkan sekolah.

    1. Berikan dispensasi bagi siswa berbeda agama untuk tidak ikut belajar agama yang bukan dianutnya. Sediakan guru yang seiman. Kalau memang tidak ada, siswa tersebut bisa diberikan kegiatan lain seperti membaca buku di perpustakaan, membantu kegiatan di UKS, atau kegiatan positif lainnya di sekolah.
    1. Lakukan sosialisasi rancangan program keagamaan sekolah kepada orang tua siswa. Minta dukungan orang tua untuk terus mendukung keberagaman yang ada di sekolah.
    2. Berikan dispensasi dan kemudahan pada siswa yang tidak mampu. Jadikan hal itu rahasia sekolah agar tidak melahirkan bullying kepada sang anak.

    Memastikan intoleransi tidak terjadi di sekolah adalah tanggungjawab semua semua warga sekolah. Butuh kerja sama dari semua pihak untuk berbenah agar karakter toleransi menjadi pembiasaan di sekolah.

    Mengaplikasikan akhlak yang baik pada setiap individu dapat membuat keberagaman bangsa ini menjadi Indah. Semoga tidak lagi terjadi intoleransi dalam dunia pendidikan kita.

    Ikuti tulisan menarik Luwis Herawati lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.