x

Iklan

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 22 November 2022 08:54 WIB

Suatu Siang di Depan Kantor Pak Menteri


Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

"Kita tidak bisa terus menerus diam. Ini soal penghancuran martabat kemanusiaan. Kekejian paling puncak," kata Karina, mahasiswi Fisipol Universitas Buana Cipta Yogyakarta.

"Benar," sahut seorang mahasiswa yang duduk di samping kiri Karina dengan suara keras sambil mengepalkan tangannya.

Lalu mahasiswa yang lain menyambung dengan berbarengan,"setuju!" Tak kurang dari 25 mahasiswa duduk melingkar di taman kampus belakang gedung Fisipol. Mereka sedang bermusyawarah rencana ke Jakarta.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

"Kita sudah terlalu sabar. Tiga kali sudah kita menuntut bertemu Dewan Etik, tetapi mereka tak ada yang bersedia menemui kita," lanjut Karina.

Ia kini berdiri, lalu berjalan di tengah lingkaran. Matanya tajam menatap satu per satu peserta pertemuan. Bagian belakang jilbabnya terus bergerak tertiup angin. Daun-daun kering berwarna cokelat tua berjatuhan, sehelai daun jatuh tepat di ujung hidung Karina.

"Jalan ini telah buntu. Maka kita harus membuat  baru.," katanya.

Karina memang dikenal sebagai mahasiswi kritis di kampus. Kalau bicara tegas, runtut dan selalu disertai dengan data yang valid. Sulit sekali dibantah dan dipatahkan.

Kalau sudah melihat ada ketidakadilan, Karina akan bersuara lantang, tak lagi peduli dengan siapa pelakunya. Pernah sekali waktu ia menuntut seorang dosen untuk diskors tidak boleh mengajar karena dosen itu mengaitkan nilai mata kuliah dengan pembelian bukunya.

Ia juga pernah menuntut rektor untuk mengeluarkan mahasiswa yang melakukan kekerasan terhadap pacarnya. Mahasiswa itu memaksa pacarnya melakukan hubungan seks sampai hamil. Dalam sidang, mahasiswa itu dinyatakan terbukti bersalah, dan medapat hukuman 5,5 tahun penjara. Rektor menyetujui tuntutan Karina dan teman-temannya untuk mengeluarkan mahasiswa itu karena mempermalukan civitas akademika.

Kali ini, Karina sedang menuntut Menteri Pendidikan menurunkan Prof. Goenadi dari jabatan rektor, dan memecat dengan tidak hormat. Pasalnya, rektor telah melakukan kekerasan seksual terhadap mahasiswi saat melakukan konsultasi penulisan skripsi di ruang kerjanya.

Sudah lebih dari dua bulan tuntutan itu disampaikan. Tetap saja tidak mendapatkan respons dari Dewan Etik. Sementara laporan ke polisi juga belum diproses. Alasannya menunggu hasil rapat Dewan Etik.

"Kita istirahat dulu sedang ada Azan Zuhur," kata Hendri. Mahasiswa berambut gondrong itu dikenal sebagai anak pemilik hotel di berbagai kota. Selain kaya, ia juga loyal.

Buktinya, siang itu, ia mentraktir semua peserta rapat dengan Indomie, dan bebas memilih sesuai dengan selera masing-masing. Sontak mereka memesan berbagai rasa, ada yang mie goreng, dan juga rebus dengan ragam rasa, ayam bawang, dan rasa soto.

Santer terdengar sih desas desus Hendri sebenarnya jatuh cinta kepada Karina. Hanya saja ia belum berani mengungkapkan isi hatinya. Ia sadar diri, meski kaya tapi kepandaiannya jauh tertinggal dibandingkan Karina.

"Ia takut ditolak mentah-muntah," kata Suci teman akrab Karina.

Karina terbahak mendengar cerita itu. Ia bukan tidak tahu perasaan Hendri, dan juga bukan tidak suka dengan Hendri anak Sastra yang kaya raya dan senang membantu. Hanya saja, ia ingin fokus dengan kuliahnya, dan tidak ingin terganggu dengan urusan cinta yang acap kali bisa menjadi rumit.

Belum lagi tidak ingin mengecewakan ibunya di kampung yang berharap dirinya lulus, dapat kerja, dan bisa membantu biaya pendidikan dua adiknya. Maklumlah, Karina kadang berpikir pragmatis, sebab ibunya adalah perempuan kepala rumah tangga.

Saat Karina dan teman-temannya sepakat akan ke Jakarta untuk menuntut Menteri Pendidikan menurunkan rektor, Hendri berdiri dan maju ke depan. Tentu saja sebagian peserta bertepuk tangan. Dan Suci memainkan mata ke arah Karina.

"Maaf ...," kata Hendri setelah berdiri di sebelah kanan Karina.

"Untuk ke Jakarta, teman-teman siapkan saja materi dan alat-alat demonya. Seluruh biaya transportasi, konsumsi, dan menginap di Jakarta biar saya yang urus, " lanjutnya.

Peserta rapat kontan berdiri, dan berjingkrak-jingkrak. Sebagian ada yang saling berpelukan, ada juga yang menggendong temannya. Karina bahkan langsung hadap kanan, dan memeluk Hendri. Yang dipeluk tentu hanya berdiri kaku, dan bengong saja.

Suci tampak gelisah. Ia berlari ke belakang Hendri, dan memberi isyarat ke Karina agar segera melepaskan pelukan itu. Tanda itu terlambat, teman-teman Karina sudah bergerak lebih cepat, yang perempuan mengangkat Karina, dan yang laki-laki mengangkat Hendri.

"Pengantin demokrasi!" Begitu mereka berteriak-teriak tak henti-henti.

Dua hari menjelang keberangkatan, Karina pingsan di kantin Fakultas. Tentu saja muncul berbagai spekulasi tentang kemungkinan Karina dicekalai orang-orangnya rektor.

"Enggak pernah ada apa-apa. Sehat-sehat saja," kata Suci sambil terus mengusap-usap wajah Karina yang tampak pucat. Tubuh Karina terbujur kaki di ruang perawatan Rumah Sakit Milik Bersama.

"Bagaimana, orangtuanya kita beritahu?" tanya mahasiswa yang berdiri di belakang Suci.

"Hendri sudah menyusulnya," kata Suci.

Dokter menyatakan Karina tidak menghadapi masalah serius. Ia pingsan karena terlambatnya pasukan oksigen ke otaknya. Sekarang sudah normal kembali.

Mendengar penjelasan itu, puluhan mahasiswa yang ada di ruang perawatan itu sorak sorai. Tentu saja ini menimbulkan kegaduhan. Perawat yang mendampingi dokter langsung memberi aba-aba agar tidak ada lagi yang berteriak.

"Ini rumah sakit saudara-saudara," katanya.

"Siapa yang bilang gedung olah raga," celetuk seorang mahasiswa yang disambut ledakan tawa bersahutan.

Tanpa mendapatkan komando, semua teman Karina keluar bangsal. Ibu dan adik-adik Karina masuk ruang perawatan. Suci dan Hendri keluar paling akhir.

"Saya tak mengira, Karina dari keluarga yang sangat miskin," kata Hendri.

"Makanya dia enggak mau terganggu studinya. Ia ingin membantu ibunya membiayai pendidikan adik-adiknya," ujar Suci.

"Ya, ya, saya mengerti."

"Kita dukung habis-habisan rencana demo di Jakarta besok hari," kata Suci.

"Ya, ya, itu pasti," jawab Hendri.

Demonstrasi di depan Kantor Kementerian Pendidikan berjalan damai. Karina terus menerus memberi pesan kepada semua temannya agar mengendalikan emosi. "Demonstrasi ini untuk melawan kekerasan. Jangan sampai melakukannya dengan kekerasan," katanya

Hendri terus berasa di sisi Karina mengantisipasi jika terjadi sesuatu kepada pimpinan Demonstrasi itu. Satu jam menanti di bawa terik matahari, Wisnu, Menteri Pendidikan akhirnya keluar menemui para demonstran. Para mahasiswa berteriak keras-keras sambil mengepalkan tangannya.

"Tenang, tenang. Maaf, saya baru bisa menemui teman-teman mahasiswa," katanya.

"Saya sudah berkoordinasi dengan Dewan Etik Universitas. Dan mereka menyatakan rektor terindikasi bersalah. Untuk itu, rektor akan dinonaktifkan, dan akan diberhentikan dengan tidak hormat setelah ada keputusan tetap pengadilan yang menyatakan rektor bersalah," lanjutnya.

Pak Menteri menjabat tangan Karina. Entah apa yang mereka bicarakan. Mereka berdua saling membalas senyum. Karina tampak mengangguk, dan menunduk dalam. Sebelum masuk gedung Pak Menteri melambaikan tangan.

Angin siang berhembus, terasa sangat kering. Sebagian singgah menyapa daun-daun pohon di halaman gedung Kementerian Pendidikan. Bising kendaraan di jalan terus saling meningkahi. Beberapa pejalan kaki berhenti sejenak di trotoar jalan menyaksikan para mahasiswa yang mulai tampak berkeringat, dan lelah.

Karina meminum air mineral. Tak lama, ia terjatuh kembali. Hendri yang memang sejak awal terjaga, langsung menangkap tubuh Karina. Di pangkuan Hendri, Karina tersenyum, dan menyembul bulir bening di kedua sudut matanya. Wajah itu menyiratkan rasa sakit yang amat sangat.

"Kau tak akan apa-apa," kata Hendri.

Suci memijat-mijat pundak Karina. Matanya mulai memerah, air mata tak lagi bisa bertahan.

"Saya tak mampu menahan sakit yang berdenyut keras di ulu hati. Tapi aku masih sangat ingin menikahimu," kata Karina.

Semua demonstran berkumpul dalam lingkaran besar. Para pegawai keluar dari ruang kantornya, dan turut berkumpul menyaksikan pernikahan itu. Lima menit setelah ijab qobul, Karina menghembuskan nafas terakhirnya.

Hendri memeluk erat Karina. Air matanya mengalir deras jatuh tepat di wajah istrinya.

"Karina pasti diracuni. Saya akan bongkar kejahatan rektor," katanya sambil menggendong Karina ke arah mobil pribadinya. Puluhan mata mengekor, dan puluhan bibir bergetar mendoa.***

Gambar oleh niekverlaan-80788 dari pixabay

Ikuti tulisan menarik Mukhotib MD lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB

Terkini

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 23 Februari 2024 20:47 WIB