Tenggat Waktu dan Hukuman - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: findlaw.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Selasa, 29 November 2022 10:33 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tenggat Waktu dan Hukuman

    Aku menguburkannya di antara pohon sawit tua di kebun yang terbengkalai di luar kota. Bukannya begini rencananya selama ini, tapi ternyata begitu terjadinya. Pada awalnya, yang aku inginkan hanyalah menakuti dia sedikit, kamu tahu? Buat dia melihat ke belakang dan berpikir dua kali tentang hal-hal yang dia lakukan. Dan itu berhasil, bukan? Aku mendapat pengakuannya. Aku bisa menghabiskan berjam-jam mengerjakannya di kamar interogasi dan dia tidak akan mengatakan sepatah kata pun. Lencana ini dulunya berarti sesuatu; digunakan untuk menakut-nakuti penjahat secara langsung. Sekarang, kamu harus berbelok dari hukum untuk mendapatkan keadilan. Tidak ada orang lain di kantor yang tampaknya peduli. Mereka bilang aku bekerja terlalu keras, atau menyuruhku untuk bersantai. Mereka tidak peduli dengan keadilan. Tidak seperti yang kulakukan. Mereka tidak mau melakukan apa yang perlu dilakukan.

    Dibaca : 626 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Aku menguburkannya di antara pohon sawit tua di kebun yang terbengkalai di luar kota. Bukannya begini rencananya selama ini, tapi ternyata begitu terjadinya.

    Pada awalnya, yang aku inginkan hanyalah menakuti dia sedikit, kamu tahu? Buat dia melihat ke belakang dan berpikir dua kali tentang hal-hal yang dia lakukan. Dan itu berhasil, bukan? Aku mendapat pengakuannya. Aku bisa menghabiskan berjam-jam mengerjakannya di kamar interogasi dan dia tidak akan mengatakan sepatah kata pun. Lencana ini dulunya berarti sesuatu; digunakan untuk menakut-nakuti penjahat secara langsung. Sekarang, kamu harus berbelok dari hukum untuk mendapatkan keadilan. Tidak ada orang lain di kantor yang tampaknya peduli. Mereka bilang aku bekerja terlalu keras, atau menyuruhku untuk bersantai. Mereka tidak peduli dengan keadilan. Tidak seperti yang kulakukan. Mereka tidak mau melakukan apa yang perlu dilakukan.

    Dia tidak jauh berbeda dari kasusku yang biasa. Faktanya, dia sama seperti pelaku lain yang pernah kutangani. Mereka mengikuti pola yang sama: pria baik, pria berkeluarga, pekerjaan bagus. Tapi ada sesuatu di sana, di bawah permukaan. Hal yang muncul dengan sendirinya hanya kalau kamu tahu apa yang harus dicari.

    Dan aku tahu apa yang harus dicari. Aku bisa mencium baunya pada mereka, para penjahat ini. Bau yang praktis menempel di lengan baju mereka.

    Aku membuntutinya selama beberapa hari sebelum mendekatinya. Itu yang selalu kulakukan. Aku ingin merasakannya. Cara dia mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anak-anaknya di pagi hari. Mobil yang dia kendarai. Merek rokok yang dia sedot. Bagaimana dia menyesap kopinya. Apa yang dia baca sebelum tidur. Sial, aku ingin tahu merek dan ukuran pakaian dalam apa yang dia kenakan sebelum aku mendekatinya. Aku mengikutinya ke mana pun dia pergi: bekerja, ke toko, ke kedai kopi, makan siang, makan malam. Aku adalah dia pada saat melakukan kontak.

    Mereka selalu kaget saat aku melakukannya. Selalu mengaku tidak bersalah dan berusaha kabur. Konyol kalau mereka pikir mereka bisa membodohiku.

    Aku memberi tahu mereka, setiap kali, bahwa aku tahu persis apa yang telah mereka lakukan, dan jika mereka tidak berterus terang, aku pribadi akan membuat mereka membayar kejahatan mereka di kamar interogasi. Itu selalu cukup untuk mengubahnya menjadi pucat. Biasanya cukup mengirim mereka berlari ke kantor untuk mengaku. Tapi kali ini tidak.

    Aku menghentikannya di tempat parkir di luar kantornya. Aku bersandar di kap mobilnya, merokok sebatang kretek. Dia ketakutan, seperti tidak tahu kenapa aku ada di sana.

    Aku memberinya peringatan: mengaku, atau berurusan denganku. Dia tidak mau kalah.

    Aku mencengkeram kerahnya dan mengangkatnya dari kakinya. Aku katakan padanya bahwa aku tahu semuanya. Semua sudut kecil tempat dia menyembunyikan korbannya, berdesakan di rak. Aku tahu dia bersalah. Dia terus memprotes dan berdebat, jadi aku menjelaskan semuanya untuknya. Memberitahu dia, secara rinci, setiap aspek kejahatannya, dan tahukah kamu? Bajingan ini, orang gila ini, tertawa di depan wajahku.

    Dia mengakuinya. Berkata dia tidak peduli. Dia menertawakan tanda yang dia tinggalkan pada mereka. Dia tidak memiliki penyesalan. Hanya mengatakan ini saja membuatku mual.

    Aku telah berurusan dengan semua jenis monster, tetapi ini adalah sesuatu yang lain. Ini bukan manusia. Dia hanya terus tertawa.

    Aku tidak tahan lagi. Aku menjejalkan pistolku tepat di bawah dagunya. Aku kira dia tidak mengira aku berani menekan pelatuk.

    Aku bilang padanya bahwa ini sudah berakhir. Jika dia tidak merasa menyesal, aku akan membuatnya. Bukan itu yang aku inginkan ketika semua ini dimulai. Aku orang yang sederhana. Aku hanya ingin menegakkan hukum. Aku hanya ingin keadilan.

    Kulemparkan tubuhnya ke dalam bagasi. Aku mampir ke rumah untuk mengambil sekop dari gudang. Aku menyeret tubuhnya ke atas bukit, ke pohon sawit tua dan menggali kuburan yang dangkal. Itu lebih baik dari yang pantas dia terima untuk kejahatan yang dia lakukan.

    Orang-orang seperti dia seharusnya tidak pantas mendapat kehormatan ini. Mereka yang tidak mendapat hukuman atas kejahatan yang telah mereka lakukan. Mungkin mereka pikir itu bukan masalah besar, mereka pikir mereka bisa lolos dengan melewatkan tenggat waktu yang diatur oleh Undang-Undang. Mereka pikir mereka bisa menipu kita.

    Tapi bukan aku. Orang-orang sepertiku akan memastikan orang-orang ini menghadapi keadilan. Aku membuat mereka membayar. Dan jika mereka tidak mau membayar denda perpustakaan mereka, maka aku harus berurusan dengan mereka secara pribadi.

     

    Bandung, 29 Novmeber 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.