Tosca - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: kompas.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 30 November 2022 10:57 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Tosca

    Bagaimana dia tahu? Dan mengapa hari ini dari sekian banyak hari lain? Bagaimana anjing ini, yang tidak pernah dia inginkan, dan yang dia sesali biaya untuk makanan dan pengeluaran energi harian yang dibutuhkan hanya agar hewan sialan itu bisa buang air besar, tahu membawanya ke sini?

    Dibaca : 645 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bagaimana dia tahu? Dan mengapa hari ini dari sekian banyak hari lain?

    Bagaimana anjing ini, yang tidak pernah dia inginkan, dan yang dia sesali biaya untuk makanan dan pengeluaran energi harian yang dibutuhkan hanya agar hewan sialan itu bisa buang air besar, tahu membawanya ke sini?

    Haz menatap batu bata jembatan yang gelap dan kotor, dan Tosca mendongak bersamanya. Labrador retiever cokelat tua itu menariknya lalu menggeram, menggeram, dan menggonggong sampai Haz, seperti biasa, mengalah, dan anjing itu membawanya ke sini.

    Lampu jalan di kejauhan gagal menerangi bentuk jembatan, tetapi setiap mobil yang mendekat – jarang terjadi pada malam musim hujan– mengubah permukaan hitam menjadi kilau geometris.

    Tosca adalah nama yang bodoh untuk seekor anjing, Haz selalu berpikir, tetapi Jodi menyukainya. Haz pernah mencari artinya sekali, dan menemukan bahwa Tosca adalah sebuah opera gubahan Giacomo Puccini. Bayangkan! Namun, yang benar-benar membuatnya kesal – lebih dari yang seharusnya – adalah bahwa Tosca dalam opera adalah tokoh perempuan, dan Tosca si anjing adalah jantan.

    Anjing itu tidak peduli, dan Haz menduga bahwa Jodi juga tidak peduli, tetapi entah bagaimana hal itu selalu membuatnya marah ketika dia memikirkannya.

    Haz tidak pernah menginginkan seekor anjing. Dia tidak ingin repot mengurusnya. Sudah cukup repot dengan anak-anak, tetapi setidaknya ada Julia untuk itu. Dengan dia pergi dan anak-anak pindah bersamanya, dia bisa melakukan urusannya sendiri. Begitulah, sampai saudara laki-lakinya sekali lagi menunjukkan betapa tidak pengertiannya dia, dan Haz mendapati dirinya bersama Tosca.

    Selama setahun sejak dia memiliki anjing itu, Haz jarang bisa berjalan ke tempat yang diinginkannya. Anjing itu menuntunnya ke jalannya sendiri. Mungkin tempat-tempat yang biasa dilalui Jodi dengannya, pikir Haz.

    Mereka berdua berakhir di hutan, menyusuri sungai, berjalan melewati bekas pabrik pemintalan yang dibiarkan terbengkalai, bunga-bunga liar tumbuh melalui celah-celah lantai alat tenun tua.

    Namun malam ini, dalam dingin dan gelap, Tosca membawanya ke sini.

    Mereka belum pernah ke sini sebelumnya, dan Haz masih bertanya-tanya bagaimana anjing itu tahu tentang tempat ini. Haz sendiri baru kembali sekali setelah kecelakaan itu, dan tidak terlalu memikirkannya sejak itu, tapi ini dia lagi.

    Dia membisu menatap batu bata, berwajah kosong dan mengingat malam tepat setahun yang lalu, ketika mendapat berita. Keesokan harinya ke rumah saudara laki-lakinya dan diberitahu oleh bahwa jika tidak ada yang mengambil Tosca, maka anjing itu mungkin akan ditidurkan. Terlalu tua untuk dicarikan tuan yang baru, kata mereka.

    Dia ingat, dan menatap ke atas, melamun. Tangannya terulur lalu menggaruk lembut bagian atas kepala anjing itu. Tosca menggeram pelan–hampir seperti mengerang–dan Haz merasakan angin dingin menyengat wajahnya saat menghapus air matanya.

     

    Bandung, 30 November 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Itha Abimanyu

    4 hari lalu

    Rindu dan Cinta

    Dibaca : 139 kali