Rest Area - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: hariane.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 2 Desember 2022 13:10 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Rest Area

    Biasanya, pada hari Ahad karena itu adalah hari libur mereka, Jono dan Dina suka berjalan kaki menuju menerobos tembok pembatas rest area yang menjadi tempat mangkal truk-truk antar pulau. Tentu saja, jika hujan deras sehingga dingin menusuk tulang, mereka akan tinggal di bedeng, tetapi untungnya tinggal di pesisir utara Banten cuacanya hampir selalu panas, jadi hari-hari itu jarang terjadi. Jono biasanya akan memakai celana khakinya yang terlalu tipis untuk dipakai berkebun, dan Dina akan mengenakan gaun terusan batik kuning yang dibelikan Jono untuk ulang tahunnya dua tahun lalu yang masih terlihat hampir baru karena jarang dipakai, dan tidak pernah dipakai lama.

    Dibaca : 686 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Biasanya, pada hari Ahad karena itu adalah hari libur mereka, Jono dan Dina suka berjalan kaki menuju menerobos tembok pembatas rest area yang menjadi tempat mangkal truk-truk antar pulau. Tentu saja, jika hujan deras sehingga dingin menusuk tulang, mereka akan tinggal di bedeng, tetapi untungnya tinggal di pesisir utara Banten cuacanya hampir selalu panas, jadi hari-hari itu jarang terjadi. Jono biasanya akan memakai celana khakinya yang terlalu tipis untuk dipakai berkebun, dan Dina akan mengenakan gaun terusan batik kuning yang dibelikan Jono untuk ulang tahunnya dua tahun lalu yang masih terlihat hampir baru karena jarang dipakai, dan tidak pernah dipakai lama.

    Jarak dari bedeng ke warung sekitar lima kilometer, tetapi itu adalah jalan yang menyenangkan dari jalan dua jalur menuju kebun yang tidak pernah sibuk pada hari Ahad. Sepanjang jalan, mereka melewati rumah besar dan lumbung tempat manajer perkebunan tinggal bersama keluarganya dan sering mereka melihat anak-anaknya bermain di halaman. Jono dan Dina akan melambai ketika mereka lewat, tetapi anak-anak biasanya mengabaikan mereka, dan itu tidak masalah, karena Jono dan Dina melambai hanya untuk bersikap sopan.

    Anak-anak itu agak nakal, sungguh.

    Mereka berjalan melewati deretan pohon kurma dan tanaman melon. Terkadang hijau dengan tanaman, terkadang hanya tanah yang sedang diolah, tergantung musim. Keduanya beruntung bahwa mereka adalah pekerja yang tekun, dan bahwa mereka berbicara bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, sehingga manajer kebun menyukai mereka dan menggaji mereka sepanjang tahun, dan, lebih baik lagi, membiarkan mereka tinggal di bedeng kecil dari kayu lapis yang dibangun sementara di bawah pohon kersen dekat saluran irigasi. Mereka tidak akan menjadi kaya, tetapi menghasilkan cukup uang untuk bertahan hidup dan bahkan menabung sedikit.

    Pada hari Ahad, di rest area tempat mangkal truk di jalan tol, mereka akan makan siang yang enak di salah satu warung atau rumah makan. Mereka akan makan sambil duduk di salah satu meja dekat jendela sambil memandang pompa bensin, dengan pandangan yang jelas tentang kendaraan roda delapan belas yang datang dan pergi. Jawa, asal mula nenek moyang keduanya. Tempat-tempat yang tak satu pun dari mereka cukup beruntung untuk dikunjungi. Dina melihat kilatan di mata Jethro saat dia melihat para pengemudi truk berjalan di sekitar truk besar mereka, dengan sepatu bot berat dan celana jins bernoda minyak. Mimpinya adalah untuk mendapatkan izin mengemudi truk dan berkeliling dengan penuh gaya, yang akan baik-baik saja dengan Dina, kecuali bahwa dia tahu bahwa Jono hampir tidak bisa membaca atau menulis, dan dia cukup yakin itu akan mencegahnya mendapatkan SIM sama sekali. Jangankan SIM B2 Umum yang dibutuhkan untuk mengemudikan truk besar, izin mengemudi mengendarai sepeda motor saja Jono tak layak.

    Untuk saat ini, tidak apa-apa, hanya mimpi besar yang menyenangkan, dan dia berusaha untuk tidak memikirkan pekerjaan yang menunggu mereka pada Senin pagi.

    Pipa irigasi akan dipindahkan, bibit melon yang akan disemai, pelepah kurma yang akan dipangkas.

    Setelah makan siang, mereka akan berjalan-jalan menyusuri lorong-lorong pendek di minimarket dan Jethro akan menunjukkan barang-barang baru, lalu mereka akan mengambil sesuatu untuk pencuci mulut di bagian makanan ringan, dan akhirnya kembali menyusuri jalan menuju perkebunan dan bedeng kecil mereka. Mereka akan berpegangan tangan saat mereka berjalan, dan Jono akan meremas tangan Dina, mencoba mengabaikan godaan di hatinya saat bunyi-bunyi dari jalan tol memudar di belakangnya di kejauhan, dan gemerisik angin di pohon kersen semakin riuh di depan keduanya.

     

    Bandung, 2 Desember 2022

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.