SD-SD Semangat Dahsyat SD Putra Bangsa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Cover buku SD_SD Semangat Dahsyat SD Putra Bangsa

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 4 Desember 2022 08:58 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • SD-SD Semangat Dahsyat SD Putra Bangsa

    Penuturan Lanndy Anggawaty, seorang perempuan pegiat pendidikan dari Klaten.

    Dibaca : 510 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Judul: SD-SD - Semangat Dahsyat SD Putra Bangsa

    Penulis: Djie Siang Lan

    Tahun Terbit: 2008

    Penerbit: Wisma Sambodhi

    Tebal: 379

    ISBN:

     

    Seperti ketika mendirikan TK, pendirian SD inipun adalah untuk memenuhi keinginan orangtua yang anak-anaknya belajar di TK. Atas desakan orangtua yang ingin anak-anaknya belajar dengan cara yang luar biasa saat di TK, Djie Siang Lan bersama dengan timnya mendirikan SD Putra Bangsa. Pada awalnya Djie Siang Lan alias Lanny Anggawaty (Lanny) ragu. Sebab Lan sudah merasa tua dan kesehatannya sudah menurun. Terutama kondisi lututnya yang sudah tidak sempurna. Apalagi Lan mempunyai kesibukan baru, yaitu menterjemahkan kitab Tripitaka.

    Namun desakan orangtua dan semangat para juniornya, membuat Lanny dan Wena akhirnya setuju untuk membuat SD. Lanny dan Wena mengawali kiprak seriusnya di bidang pendidikan dengan mendirikan Kursus Bahasa Inggris Columbia Edu-Center  pada tahun 1978. Selanjutnya duo perempuan hebat ini mendirikan Playgroup Putra Persada (1984) dan dilanjutkan dengan TK Putra Bangsa (2005).

    SD Putra Bangsa sendiri berdiri pada tahun 2007. Artinya 2 tahun setelah TK Putra Bangsa berdiri.

    Lanny mengungkapkan kegalauannya saat para orangtua mendorongnya untuk membuat SD. Melihat bahwa para juniornya, yaitu Endang, Eko, Adi dan Yadi mendukung penuh rencana pendirian SD tersebut. Lanny sendiri menganggap bahwa Endang adalah putri mahkota yang akan meneruskan usaha karma baik Lanny dan Wena di bidang pendidikan.

    Seperti di buku kelima “TK-TK Tanam Kebajikan Melalui TK Putra Bangsa (https://www.indonesiana.id/read/159566/tanam-kebajikan-melalui-tk-putra-bangsa) Lanny menceritakan bagaimana ia mulai merancang pendirian SD Putra Bangsa. Mula-mula tentu memikirkan siapa yang akan mengelola sepenuh waktu. Endang dan kawan-kawan yang bersedia untuk mengurus SD yang akan didirikan membuat Lanny lega. Selanjutnya mereka memikirkan SD seperti apa yang harus didirikan? Kalau hanya SD dengan kualitas biasa, tentau tak ada gunanya. Mereka merancang SD yang tidak hanya fokus kepada pengembangan kognitif siswanya. Mereka ingin anak-anak yang belajar di SD Putra bangsa berkembang kedelapan kecerdasannya. Sebab 8 kecerdasan ini dibutuhkan untuk bekal masa depan anak-anak tersebut. Tak segan-segan, Lanny dan tim belajar dari sekolah-sekolah yang sudah lebih dahulu berdiri. Termasuk belajar ke SLB Slawi, sebuah sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

    Persoalan berikutnya yang harus dihadapi adalah gedung sekolah dan perlengkapannya. Selain masalah lahan, masalah kebutuhan sarpras supaya anak-anak bisa belajar dengan baik adalah sebuah tantangan. Lahan SD harus tidak jauh dari TK dan Playgroup yang sudah ada. Namun  tidak ada orang yang mau menjual lahan yang dekat komplek TK tersebut. Akhirnya dengan bantuan seorang arsitek, penataan ulang lahan TK dan Playgroup yang sudah ada, memungkinkan untuk SD dibangun di tempat tersebut.

    Berbeda dengan buku kelima, buku ini lebih banyak memuat tulisan atau kesaksian dari orangtua siswa dan tim itu sendiri. Jika di buku kelima kita disuguhi kesaksian para orangtua, di buku keenam ini selain kesaksian dari para orangtua juga dimuat kesaksian para anggota tim Putra Bangsa. Di bagian 5 dimuat tulisan dari Wena, Rudy, Hung-Hung, Endang, Eko, Adi dan Yadi. Curahan mereka para anggota tim ini melengkapi tuturan Lanny tentang bagaimana dinamika pendirian dan pengelolaan SD Putra Bangsa ini.

    Seperti di buku-buku Lanny sebelumnya, di buku keenam ini pun Lanny mengungkapkan bahwa Tuhan dan alam semesta mendukung upaya perbuatan karma baik. Lanny mengungkapkan bantuan dari berbagai pihak yang tak dipikirkan sebelumnya. Orang-orang yang dikenal maupun yang kurang dikenal tiba-tiba begitu saja siap membantu. Istilah Lanny mereka ini ikut tergerak untuk membuat karma baik.

    Bagian terakhir buku ini memuat kisah beberapa siswa yang belajar di SD Putra Bangsa dengan segala keunikannya dan juga kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh siswa-siswi tersebut. Bukankah setiap anak adalah unik dan berbeda dari yang lain? Maka sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa membantu anak-anak tersebut mencapai potensinya secara maksimal. Guru-guru harus mempunyai perhatian kepada setiap individu siswa. 720

     

    Ikuti tulisan menarik Handoko Widagdo lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.