Pemerintah Desa di Kabupaten Manggarai Timur Berkomitmen Mengalokasikan Dana Desa untuk Aksi Pembangunan Berketahanan Iklim

Rabu, 21 Desember 2022 06:34 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemerintah Desa Se-Kecamatan Kota Komba berkomitmen memberi perhatian pada aksi Pembangunan Berketahanan Iklim dalam penggunaan Dana Desa tahun 2023 untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Pernyataan komitmen secara tertulis ini disepakati pada kegiatan Diskusi bersama Pemerintah Kecamatan dan Desa se-Kecamatan Kota Komba untuk Mendorong Penggunaan Dana Desa dalam Aksi Pembangunan Berketahanan Iklim, Senin,(19/12/2022) bertempat di Aula Kantor Camat Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur

Pemerintah Desa Se-Kecamatan Kota Komba berkomitmen memberi perhatian pada aksi Pembangunan Berketahanan Iklim dalam penggunaan Dana Desa tahun 2023 untuk mengatasi dampak perubahan iklim. Pernyataan komitmen secara tertulis ini disepakati pada kegiatan Diskusi bersama Pemerintah Kecamatan dan Desa se-Kecamatan Kota Komba untuk Mendorong Penggunaan Dana Desa dalam Aksi Pembangunan Berketahanan Iklim, Senin,(19/12/2022) bertempat di Aula Kantor Camat Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Kegiatan sehari ini merupakan salah satu kegiatan dalam program VICRA (Voice for Inclusiveness Climate Resilience Actions/menyuarakan aksi ketahanan iklim secara inklusi) di Kabupaten Manggarai Timur, Kerjasama Yayasan Ayo Indonesia, Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, dan PATTIRO.

Florianus Hasi, District Officer program VICRA menjelaskan bahwa Program VICRA bertujuan untuk mendorong keterlibatan kelompok rentan, seperti Petani, Perempuan, Orang Tua Lanjut Usia (Lansia) dan para Penyandang Disabilitas menyuarakan aksi pembangunan berketahanan iklim di Manggarai Timur yang sedang mengalami perubahan iklim.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Kementrian PPN/Bappenas, kata Flori, telah menetapkan Kabupaten Manggarai Timur sebagai lokasi superprioritas untuk mengimplementasikan pendekatan pembangunan berketahanan iklim (PBI) sebab tingkat kerentanan dan resiko bencana akibat Perubahan Iklm sangat tinggi. Sementara di sisi lain, kelompok masyarakat rentan tersebut masih memiliki keterbatasan pengetahuan, pemahaman, kapasitas, dan pengalaman untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

 

Kami berharap pada diskusi kali ini, ungkap Flori, para kepala desa dengan kewenangannya dalam mengelola dana desa dapat memasukan beberapa aksi pembangunan berketahanan iklim dengan fokus pada upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan untuk bisa mengatasi dampak perubahan iklim ke dalam anggaran pendapatan dan belanja desa setiap tahun termasuk  yang tidak kalah pentingnya adalah penyediaan benih tanaman pangan dan bantuan ternak.

 

Flori mengingatkan para peserta, bahwa perubahan iklim sangat berdampak kepada sektor pertanian pangan dan perkebunan, jika tidak diatas segera kita semua akan menghadapi krisis pangan dan para petani kita pasti mengalami kehilangan sumber penghidupan.

 

Regina Malon, Camat Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, pada kesempatan memberikan kata sambutan untuk membuka diskusi Bersama Pemerintah Kecamatan dan Desa se-Kecamatan Kota Komba untuk Mendorong Penggunaan Dana Desa Dalam Aksi Berketahanan Iklim, menyampaikan terima kasih kepada para kepala desa dan lurah yang berpartisipasi dalam diskusi ini,  yang akan membicarakan tentang perubahan iklim dan apa yang akan dilakukan untuk mengatasinya dalam konteks pembangunan desa.

 

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Yayasan Ayo Indonesia, jelas Regina berkomitmen untuk mengatasi dampak perubahan iklim yang sedang terjadi dan sangat terasa dampaknya saat ini di wilayah Kabupaten Manggarai Timur, khususnya di Wilayah Kecamatan Kota Komba. Agar komitmen ini bisa berjalan, yaitu untuk meminimalisir dampak perubahan iklim, kata Regina, maka kita semua diundang pada diskusi yang baik ini,  supaya kita semua bersama-sama berpikir dan berdiskusi, kira-kira apa solusi yang kita ambil untuk mengatasi dampak perubahan iklim supaya masyarakat kita tidak terdampak, khusus  masyarakat rentan yaitu para petani, baik petani perempuan maupun petani laki-laki.

 

Akhir-akhir ini, lanjut Regina,kita semua mendengar atau membaca berita tentang perubahan iklim di media cetak, media online dan elektronik yang ditandai dengan adanya cuaca/iklim ekstrim, seperti musim hujan  dan kemarau berkepanjangan yang menyebakkan terjadinya banjir, tanah longsor, debit air berkurang, kekeringan dan air tergenang di mana-mana. Kondisi ini mengakibatkan perubahan ekonomi masyarakat, pendapatan mereka menurun, ada juga yang mengalami kehilangan penghasilan, dan di bidang kesehatan, perubahan iklim menyebabkan timbulnya penyakit yang berkaitan dengan lingkungan, seperti demam berdarah yang telah menyerang beberapa warga bahkan penyakit ini telah membawa korban jiwa 1 orang di Kecamatan Kota Komba pada tahun 2022.

 

Dia juga menambahkan, selama kunjungan kerjanya ke beberapa desa, antara lain Desa Mbengan, Rana Kolong, Lembur, Komba,Pong Ruan, dan Rongga Koe para petani melaporkan bahwa tanaman perdagangan yang merupakan  sumber pendapatan utama mereka, khususnya cengkeh, pada 3 tahun terakhir tidak berproduksi atau berbuah sebab pada fase pembungaanya hujan turun dengan intensitas tinggi.

 

Sedangkan Rikhardus Roden, Koordinator Program VICRA pada diskusi itu kepada para peserta mengatakan, hasil studi lapangan terkait dampak perubahan iklim dengan menerapkan metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara mendalam (Indepth Interview) dengan Kelompok Tani, Tokoh Masyarakat, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di 2 desa (dataran tinggi) dan 2 kelurahan (dataran rendah), ditemukan fakta, bahwa pada 20 tahun terakhir, tanda-tanda telah terjadi perubahan iklim sudah dirasakan oleh masyarakat, dimana musim hujan lebih pendek, curah hujan sangat tinggi, musim kemarau semakin Panjang dengan durasi 7- 8 bulan dan suhu udara pada bulan tertentu sangat panas. Frekuensi terjadinya bencana kekeringan semakin sering terjadi, hal ini berdampak kepada penurunan hasil padi di sawah beririgasi tehnis, sawah tadah hujan dan tanaman perdagangan utama petani, yaitu kopi dan cengkeh,

 

Berdasarkan data produksi padi yang dirilis oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur tahun 2021,jelas Rikhard, baik  di lahan sawah beririgasi tehnis maupun di sawah tadah hujan, produksi padi sawah menurun, sebesar 18,23 persen (23.981,95 ton) dari 131,492,4 ton menjadi 107.510,45 ton, jauh lebih tinggi dari data penurunan produksi padi secara nasional, sebesar 0,43 persen (Data BPS Tahun 2021).  Sedangkan produksi padi sawah tadah hujan menunjukkan kecenderungan menurun cukup besar mencapai 53.94 persen atau sebanyak 2.780,6 ton, dari 5.154,98 ton menurun menjadi 2.374,37 ton.

 

 

Yensen Ngambut, Kepala Desa Rana Kolong, salah satu peserta diskusi ketika memberikan tanggapan mengatakan kita semua harus menentukan aksi berketahanan ilim dalam situasi perubahan iklim sekarang ini, sebab perubahan iklim telah menyebakan petani tidak mendapatkan hasil dari usaha taninya pada 5 tahun terakhir. “Selama ini kita berhadapan dengan pandemi covid 19 yang membuat kita tidak bisa keluar rumah dan saat ini kita berhadapan dengan persoalan perubahan iklim yang mengakibatkan tanaman milik petani tidak mengeluarkan hasil atau berproduksi, seperti padi, jagung dan tanaman pisang,“tuturnya.

 

Maka tawaran saya, ungkap Yensen, kita perlu mengembangkan sorgum untuk pangan, gizi dan peningkatan ekonomi dengan menggunakan dana desa dari alokasi anggaran untuk program Ketahanan Pangan sesuai Permendesa PDTT Nomor 8 Tahun 2022 tentang prioritas penggunaan dana desa tahun 2023.

 

Pada akhir diskusi Pemerintah Desa Se-Kecamatan Kota Komba berkomitmen untuk melaksanakan Aksi Pembangunan Berketahanan Iklim menggunakan dana desa dengan memberi perhatian secara khusus pada upaya ;

  1. Melakukan aksi pembangunan berketahanan iklim di sektor pertanian pangan melalui pengembangan sorgum sebagai salah satu tanaman pangan yang adaptif terhadap Perubahan Iklim untuk tujuan menjamin ketersedian pangan dan peningkatan ekonomi mengacu kepada Peraturan Bupati Manggarai Timur Nomor 34 Tahun 2021.
  2. Peningkatan Kapasitas Petani terkait pertanian yang berketahanan iklim melalui pelatihan-pelatihan keterampilan yang relevan
  3. Pengadaan ternak untuk ketahanan pangan hewani
  4. Pilihan sorgum sebagai salah satu pangan untuk pencegahan dan penanganan stunting namun Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur harus mengeluarkan Peraturan Bupati terkait penggunaan dana desa untuk tujuan dimaksud.

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rikhardus Roden

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler