Metafora Indah Rumi Tentang Orang yang Sudah Bebas Dari Belenggu Hawa Nafsu

Senin, 26 Desember 2022 12:08 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Maulana Jalaludin Rumi memiliki sebuah kata mutiara yang dengan indah sekali melukiskan manusia yang sudah bebas dari belenggu atau penjara hawa nafsunya. Bagaimana kata mutiaranya? Silahkan baca terus.

Metafora Indah Rumi Tentang Orang yang Sudah  Bebas Dari Belenggu Hawa Nafsu

 

                                     Bambang Udoyono          

 

Maulana Jalaludin Rumi, sang sufi dari Konya, Turki yang hidup di abad ke tiga belas memang benar benar seorang mastro sastra.  Karyanya yang indah, penuh metafora dan sarat makna mampu menembus sekat sekat sosial politik.  Bahkan di Amerika Serikat sebuah kumpulan karya indahnya mampu menjadi best seller

Oleh karena itu sangat patut kita belajar dari sang maestro Turki ini.  Berikut ini salah satu kata mutiara dari Rumi yang sangat indah dan memesona serta mengandung metafora.

 

When a bird gets free it does not go back for remnants left on the bottom of the cage (Rumi)  Tatkala seekor burung sudah bebas dia tidak akan kembali mencari remah di lantai sangkarnya.

 

Kata mutiara indah dari Maulana Jalaludin Rumi ini mengandung sanépa alias metafora.  Saya memiliki tafsir atas metafora ini. Burung bebas dari sangkar adalah sanépa manusia yang sudah bebas dari penjajahan hawa nafsunya.  Rumi kadang memakai kata sangkar dan kadang memakai kata penjara sebagai metafora hawa nafsu yang membelenggu manusia. Manakala manusia sudah mampu melepaskan diri dari enjajahan hawa nafsunya maka dia ibarat burung yang lepas dari sangkarnya. Dia bebas pergi ke mana saja yang dia mau. 

 

Remah sisa makanan adalah sanépa atau metafora dari keuntungan yang didapatkan ketika seseorang masih berada di dalam ‘penjara’ hawa nafsu.  Maksudnya rejeki tidak halal yang menyebabkan manusia dikuasai oleh hawa nafsunya.   Dari cerita  masyarakat dan berita kita tahu bahwa banyak sekali orang yang menjadi makmur karena korupsi, kolusi, nepotisme. Tidak sedikit yang menjadi tajir melintir karena berbisnis kotor. Ada yang berbisnis narkoba, prostitusi, judi, dan banyak lagi usaha bisnis kotor.

 

Orang yang sudah hijrah dari dunia hitam pasti akan berupaya mencari rejeki halal. Dia tidak mau lagi menjalani bisnis hitam meskipun keuntungannya jauh lebih besar. Karena dia sadar bahwa keuntungan besar dari bisnis hitam akan membawa dampak buruk buat dirinya sendiri, keluarganya dan masyarakat.

 

Maka ketika sudah merdeka dia akan mendapat rejeki halal yang jauh lebih baik dan jauh lebih berkah daripada rejeki haram.   Mungkin rejeki halalnya lebih sedikit aripada rejeki haramnya dulu. Tapi dampaknya kepada dia, keluarganya dan masyarakt jauh lebih baik.

 

Itulah sebabnya dia tidak mau lagi mencari rejeki haram. Dia tidak mau lagi kembali ke ‘penjara’ hawa nafsu.

 

Itulah saya kira maksud Rumi dengan metaforanya.  Kalau Anda punya tafsir sendiri atas kata mutiara Rumi tersebut jangan ragu ragu utarakan juga.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua