x

Iklan

Okty Budiati

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Juli 2022

Rabu, 28 Desember 2022 19:21 WIB

Manunggal

Kebersamaan dalam pertalian aktivitas tradisi dan budaya, hingga menjadikan keberagaman sebagai suatu tanda baca yang memang “terkesan” kompleks, belum lagi, saat bahasa terikat dalam geliat politik yang akan menentukan satu pendapatan dalam sudut pandang kesejahteraan sosial. Beradab menjadi ukuran akan moral etika yang seringkali terbentur di antara ragam dinding-dinding institusi akademi beserta keabsolutan berpikir individu yang terkesan melupa, bahwa hidup hanya tentang gerak. Sayangnya, suatu yang absolut masih menjadi “ikon” bagi masyarakat sebagai bentuk takwa.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Menjelang waktu yang akan tetap bergerak dengan pasti, dan kalender akan mengikutinya bagaikan bayang-bayang perjalanan kehidupan. Ada banyak hal yang menjadikan perjalanan dan pengalaman menyatu tanpa memiliki batas yang pasti. Begitu pula tentang rentang garis yang seringkali menjadi pembatas di antara, hanyalah tentang; “bagaimana merapal perspektif”, yang menjadikannya laku tidak untuk berjalan di tempat yang sama.

Bahwa, perjalanana dan pengalaman setiap mahluk, bahkan kembar, akan memiliki perbedaannya, dan begitulah gerak kebudayaan. Geraknya yang mengemas detail bahasa menjadi ragam metafora untuk suatu simbol bahasa tentang “vision of imagination” dan tentang tercerahkan/illuminatus atas setiap laku spirit/semangat dalam mahluk hidup.

Bahasa Indonesia, sebagai sastra, menjadi gerbang yang tidak akan pernah benar-benar tuntas untuk dipelajari dan dipahami dengan penuh hati-hati dan pengertian, bagi saya personal.

Siang hari di langit yang kelabu, komposisi piano Craig Armstrong berjudul “Paris”, di YouTube memiliki petikan lain sejak lama, khususnya, sebuah quote bertuliskan: “As an artist, a man has no home in Europe save Paris.” [Friedrich Wilhelm Nietzsche]. Kondisi ini mengingatkan saya tentang eksistensi seniman dan penyair yang pada akhirnya memilih ruang soliter.

Ibn Arabi dan refleksi kebudayaan di kota Paris memang tidak berinteraksi secara langsung, namun bahasa seni dan budaya pernah bermukim, bertubi-tubi berjuang, di kota itu.

Kebersamaan dalam pertalian aktivitas tradisi dan budaya, hingga menjadikan keberagaman sebagai suatu tanda baca yang memang “terkesan” kompleks, belum lagi, saat bahasa terikat dalam geliat politik yang akan menentukan satu pendapatan dalam sudut pandang kesejahteraan sosial. Beradab menjadi ukuran akan moral etika yang seringkali terbentur di antara ragam dinding-dinding institusi akademi beserta keabsolutan berpikir individu yang terkesan melupa, bahwa hidup hanya tentang gerak. Sayangnya, suatu yang absolut masih menjadi “ikon” bagi masyarakat sebagai bentuk takwa.

Sesuatu yang begitu hening menggenangi teras rumah menjelang sore hari untuk komposisi musik dari Austin Farwell yang berjudul “Together”. Tepat di momen ini, dan bersama keyboard tua yang begitu setia menemani kegaduhan isi kepala untuk kecambung hati yang enggan reda, saya kembali mengenang bagaimana Bahasa Indonesia mengalami gerak laku akulturasi, sungguhlah beruntung, menjadi bagian dari proses kebudayaan ini.

Eksistensi bahasa, baik secara verbal, tulisan, tetaplah bermuara dari kemajemukan bahasa tubuh, yang menjadikan saya tetap mengingat akan keberadaan makna bahasa sebagai proses pengalaman. “”It is not that “I am empty,” but rather, that “emptiness is I”” (Masao Abe) dan “All that is left to us by tradition is mere words. It is up to us to find out what they mean.” (Ibn 'Arabi). Memahami perjalanan Bahasa Indonesia, yang menyampaikan budaya hibrida manusia melalui proses mono, poli, hingga horti sebagai tradisinya, haru dalam naskah yang terabaikan; “Serat Centhini”.

 

- Jakarta, 28 Desember 2022

Ikuti tulisan menarik Okty Budiati lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler