x

image: iStock

Iklan

Bryan Jati Pratama

Penulis Indonesiana | Author of Rakunulis.com
Bergabung Sejak: 19 Desember 2022

Selasa, 3 Januari 2023 20:13 WIB

Narcissus dan Gema, Sebuah Kisah Tragis tentang Cinta

Bagaimana jika tidak pernah ada “kita” dalam “Sampai maut memisahkan kita”? Yang tersisa hanyalah maut. Kematian datang tergesa-gesa pada ia yang terlalu mencintai orang lain dan pada ia yang terlalu mencintai dirinya sendiri, sendirian. Tanpa adanya “kita”, dalam cinta, hidup hanyalah kisah tragis antara Narcissus dan Gema.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bagaimana jika tidak pernah ada “kita” dalam “Sampai maut memisahkan kita”? Yang tersisa hanyalah maut. Kematian datang tergesa-gesa pada ia yang terlalu mencintai orang lain dan pada ia yang terlalu mencintai dirinya sendiri, sendirian. Tanpa adanya “kita”, dalam cinta, hidup hanyalah kisah tragis antara Narcissus dan Gema.
 
 
Alkisah pada zaman Yunani Kuno, Zeus seringkali datang ke sebuah hutan di gunung Cithaeron secara diam-diam untuk bercumbu dengan para peri. Para peri hutan sangat senang setiap kali dewa langit itu datang. Di dalam hutan yang sunyi itu, mereka saling merayu dan memadu kasih. Lama-kelamaan kabar mengenai 'kelakuan nakal' dewa langit tersebut terdengar oleh sang dewi bumi, Hera, istri Zeus. Dengan dipenuhi rasa cemburu, Hera pun masuk ke dalam hutan menyusul suaminya.
 
Ketika datang, ia disambut oleh peri bernama Gema. Gema adalah peri periang yang menyenangkan. Ia mengajak Hera untuk berbincang mengenai banyak hal yang menarik perhatian sehingga memberikan waktu kepada peri-peri lain –dan Zeus tentunya– untuk kabur. 
 
 
Siasat itu akhirnya terbongkar oleh Hera. Dengan nada marah Hera mengutuk Gema, "Ucapanmu terlalu manis untuk seorang peri hutan. Agar tidak ada lagi yang tertipu, mulai sekarang mulutmu tidak akan dapat mengatakan apapun kecuali kata-kata terakhir yang orang lain ucapkan padamu!"
 
Sejak saat itu, Gema tidak dapat memulai percakapan. Ia kehilangan kemampuan bicara dan hanya bisa mengulangi kata-kata terakhir yang orang lain ucapkan kepadanya.
 
 
Suatu pagi di dalam hutan, Gema yang bersedih menemukan kebahagiaannya kembali karena melihat seorang pemuda. Pemuda itu berperawakan tegap dengan rambut kuning keemasan. Dia adalah Narcissus, anak dari dewa sungai Cephissus dengan seorang peri bernama Liriope. Ia adalah pemuda yang karena ketampanannya, membuat seluruh wanita dari bangsa manusia juga bangsa peri jatuh cinta. Sudah dapat dipastikan, Gema pun jatuh cinta kepada Narcissus.
 
 
Gema mengikuti kemana saja kaki Narcissus melangkah. Seiring dengan bertambahnya langkah, bertambah pula rasa cinta dalam hatinya. Tanpa disadari oleh Gema, Narcissus sebenarnya tahu kalau dirinya sedang diikuti. Ia berteriak, "Siapa di sana?" Karena kutukan dari Hera, Gema hanya bisa menjawab, "Disana, disana, disana." Narcissus mencari pemilik suara tersebut, ia menawarkan, "Jangan sembunyi. Mari kita bertemu!" Dengan perasaan senang yang tak tertahankan Gema berseru "Bertemu, bertemu, bertemu."
 
Muncul dari balik semak-semak dan dedaunan, Gema menampakkan dirinya di hadapan Narcissus. Alangkah terkejutnya Narcissus ketika mengetahui bahwa pemilik suara tersebut adalah seorang peri. Sadar bahwa Gema adalah peri hutan yang dikutuk oleh Hera, Narcissus tak sudi menemuinya. Dan tentu saja, cinta Gema bertepuk sebelah tangan.
 
 
Di balik kesempurnaan fisiknya itu, Narcissus mempunyai sebuah ketidaksempurnaan yang sangat besar keangkuhan. Wajahnya yang tampan membuatnya sombong sehingga ia menolak semua cinta yang diberikan untuknya. Bagi Narcissus tidak ada makhluk yang layak, untuk mencintai dirinya dan menerima cintanya.
 
 
Dirundung kesedihan karena cintanya tak berbalas, Gema mengasingkan diri ke dalam gua. Tubuhnya menjadi kurus kering dan kecantikannya memudar. Ia akhirnya mati dalam duka yang mendalam. Setelah kematiannya, yang tersisa hanyalah kutukan. Kutukan itu tertinggal di dalam gua. Sejak saat itu, gua mengulangi setiap kata-kata terakhir yang diucapkan oleh manusia. Jika ada suara, gua dapat menggema. Gua menggema dengan suara lirih yang perlahan memudar. Lambat laun suara itu menghilang menuju kefanaan, seperti Gema.
 
 
Tidak terima dengan apa yang dilakukan Narcissus kepada Gema, Dewi Aphrodite mengutuk Narcissus. "Jika Narcissus melihat pantulan dirinya maka ia akan jatuh cinta, kepada dirinya sendiri!", begitu bunyi kutukannya.
 
 
Di suatu siang, setelah lelah berburu, Narcissus menjumpai sebuah telaga yang sangat tenang. Ia berjalan ke tepian telaga lalu membungkuk untuk minum. Pada saat itulah ia melihat sebuah bayangan di permukaan air. Narcissus tidak menyadari bahwa yang ia lihat adalah pantulannya sendiri. Ia dimabuk rasa kagum dengan kesempurnaan sosok yang ia lihat serta takjub dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan. Semakin lama ia melihat, semakin bahagialah hatinya. Hingga pada akhirnya, kutukan Aphrodite terpenuhi, Narcissus jatuh cinta kepada dirinya sendiri.
 
 
Keangkuhan sekarang telah berubah menjadi kegilaan karena Narcissus tidak tahan berpisah dengan bayangannya sendiri. Bahkan, ketika Narcissus merasakan dahaga, ia tak mau minum dari telaga tersebut karena akan menimbulkan riak yang merusak pantulan dirinya. Berminggu-minggu tanpa makanan, minuman atau tidur, Narcissus akhirnya mati. 
 
 
Konon, di tempat matinya Narcissus itu tumbuh setangkai bunga berkelopak kuning. Bunga itu tumbuh dengan membungkuk ke arah air bukannya ke arah matahari. Sekarang bunga itu dikenal sebagai bunga Daffodil, bunga yang oleh rakyat Iran dipercaya sebagai simbol tahun baru. Seperti layaknya Narcissus, Daffodil mempunyai rupa yang indah dan beraroma harum. Sayangnya, bunga itu beracun.

Ikuti tulisan menarik Bryan Jati Pratama lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB

Terkini

Semangat

Oleh: Malik Ibnu Zaman

7 jam lalu

Terpopuler

Epigenesis

Oleh: Taufan S. Chandranegara

Jumat, 16 Februari 2024 14:31 WIB