Cak Nun vs Jokowi dalam Bayang-bayang Firaun - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Firaun

Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 Oktober 2022

Kamis, 19 Januari 2023 07:19 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Cak Nun vs Jokowi dalam Bayang-bayang Firaun

    Sebutan Firaun untuk Jokowi itu bikin gempar, dianggap sangat keterlaluan. Sungguh sampai hati Cak Nun sejajarkan Jokowi dengan Firaun. Entah apa yang merasukimu Hingga kau tega menghina presiden kecintaan mayoritas besar rakyat Indonesia?

    Dibaca : 667 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Cak Nun vs Jokowi dalam Bayang-Bayang Firaun

    Sebatas sepak pojok


    “Tak ada ide, tak ada fakta, yang tidak diketengahkan secara vulgar dan jelas”

    (Fyodor Dostoyevsky, 1821 – 1881, Novelis Rusia)
     



    P. Kons Beo, SVD



    Emha Ainun Nadjib, Cak Nun. Hari-hari ini sudah bikin heboh tanah air karenanya. Itu karena Cak Nun lagi bertandang ke Istana. Ia didakwah telah jadi tamu tak terhormat buat Jokowi. Bahkan buat elitis tertentu di lingkaran kekuasaan. Dan adalah Firaun – Haman – Qorun yang dipakai Cak Nun menuju istana itu.

    Sebutan Firaun itu saja sudah bikin gempar. Dianggap sebagai satu keterlaluan, untuk degradasikan Jokowi sebagai presiden. Sungguh sampai hati Cak Nun sejajarkan Jokowi dengan Firaun. Iya, “Cak Nun.. Entah apa yang merasukimu? Hingga kau tega menghina Presiden kecintaan mayoritas besar rakyat Indonesia?”

    Jika Rokcy Gerung beri sebutan sitting duck buat Presiden Jokowi, maka itu serasa biasa. Sebab itulah si Gerung. Karena, bila ditafsir dari Rocky, sepertinya aura Jokowi sebagai presiden sudah meredup. Sudah ‘didudukkan’ dalam Kandang Banteng, PDIP, partainya sendiri. Seperti tak dapat berdiri bebas lagi. Iya, ini namanya saja sebuah opini.

    Tetapi, lain ceritanya, jika ekspresi kontra Jokowi itu lahir dari seorang Cak Nun. Publik pun tersentak. Sepertinya tak nyambung antara kalem dan sejuknya tampilan Cak Nun dengan metafora kegarangan Firaun yang dipanahkan pada Jokowi.

    Reaksi kontra Cak Nun pun muncul bagai angin ribut. Cokro TV, misalnya, serasa terbakar. Kalimat-kalimat tangkisan perlu dibangun. Tesis-tesis apologetik harus dirangkai. Sebab, yang sudah menggeruduk Jokowi dan lingkaran elit kekuasaan ini bukanlah tokoh sembarangan.

    Tapi benarkah Cak Nun lagi bersombong diri untuk mudah menghakimi, seperti kata Guntur Romli? Benarkah ini sepertinya reaksi Cak Nun akibat merasa tak diperlukan, atau tak jadi referensi nasional buat Pak Jokowi, seperti terka-terkaan Rudi S Kami? Bahkan, sepertinya terlalu keras tanggapan Deny Siregar, “Kalau bicara politik, ditertawakan saja. Orang juga harus cari makan...” Jangan begitu lah Bung Deny!

    Betulkah Cak Nun punya isi dan forma argumentum yang murni dan komplit untuk sungguh hanya mau menghina Jokowi sebagai Presiden. Pun berlanjut pada Pak Menteri Luhut dan sederet kaum elit lainnya? Pada belakangan di saat-saat ini, katanya, sudah ada ungkap hati penuh sesal dan kata maaf dari Cak Nun.

    Bagaimana pun Firaun – Qaman – Qorun sudah menjalar ke sana-ke mari. Dan itu sudah jadi sumbuh pendek kobaran api politik. Terlalu mudah untuk main tuduh kiri-kanan. Disinyalir bahwa suara Cak Nun itu sudah diorder oleh keompok pembenci Jokowi. Dan memang sudah dianggap beraroma provokatif.

    Tetapi, tidak bisakah ditelisik, misalnya, dalam satu dua tanggapan variatif bernada teduh? Dari pada hanya terpaku pada rasa marah akan diktum Cak Nun itu? Maksudnya, tidak kah orang mesti juga cross to other side untuk bisa membaca secara terbalik pesan Cak Nun itu?

    Rasanya tak apa lah bila kita sekedar berandai-andai. Walau keluar dari konteks bicara Cak Nun pada waktu itu di Pendopo Cak Durasim, Surabaya.

    Tentu tembakan ‘Firaun’ terhadap Jokowi terasa tak sedap bagi telinga para pendukung dan pencinta setianya. Namun, janganlah sekian fanatik untuk tak terjerumus dalam rawa-rawa pengaguman yang melayang-layang. Dan lalu tanpa sadar lagi akan peristiwa politik yang bakal segera terjadi.

    Bersyukurlah bahwa “Firaun terhadap Jokowi” itu telah bangkitkan kesadaran pada kekuatan besar pro Jokowi. Itu tanda bahwa aura Jokowi tak pudar. Membelanya adalah tanda masih tetap ada ungkapan kecintaan dari sekian banyak elemen masyarakat.

    Tentu, segala counter attack pada Cak Nun, tak hanya sebatas pada Cak Nun secara pribadi. Semuanya bisa jadi tanda peringatan serius pada lawan-lawan politik. Jokowi sekiranya ‘tidak tidur.’ Ia tidak sedang dijadikan sitting duck oleh Bu Mega dan segenap Keluarga Besar PDIP.

    Mungkin kah Cak Nun lagi (sengaja) umpan emosi segala titik-titik Pro Jokowi untuk beranilah bergerak secepatnya demi perhelatan Pilpres 2024 itu? Kalah cepat, artinya konvoi sebelah sudah keburu melaju gesit.

    Atau ditafsir lainnya? Katakan begini, ‘akui sajalah bahwa Jokowi itu Firaun.’ Itu gelaran bagi raja-raja Mesir yang tak boleh hanya ditangkap sebatas nuansa kejam, bengis, dengan sekian sisi otoriternya. Di sisi ini, tentu Jokowi sulit untuk dikatakan sedemikian.

    Namun, tangkaplah sepotong Firaun itu dalam satu klausul penuh wibawa dan punya pengaruh yang menentukan. Di titik ini, mari kita bayangkan saja bahwa ‘Firaun Jokowi’ lagi dalam ketidakstabilan batin. Sekiranya siapakah sesungguhnya yang harus lanjutkan tongkat estafet RI 01 di tahun 2024 nanti?

    Harus buka-bukaan untuk bilang si A atau si B jadi bakal calon saja, kata-kata Jokowi masih terdengar samar. Terkesan gugup begitulah untuk bilang to the point. Yang sepertinya masih terbungkus dalam retorika Cak Lontong, “yang mesti samar tapi jelas tegas.”

    Mesti kah Jokowi harus benar-benar jadi ‘Firaun?’ Yang, misalnya, harus menantang kalimat, “…padahal Pak Jokowi kalau nggak ada PDIP juga aduh kasihan, dah,” miliknya Bu Mega di Pidato HUT ke 50 Partai berlambang Banteng itu.

    Saat Jokowi sungguh dingatkan pada ‘ikatan Kandang Banteng,’ betapa pada saat kini, ia diingatkan pula oleh si Cak Nun sebagai ‘Firaun’ yang memang berkuasa. Yang mesti sanggup memutuskan! Cak Nun, di titik ini, anggaplah tak serius menghina Pak Jokowi sebagai Presiden.

    Yang dilukiskan Cak Nun, jika dibaca dari other side, adalah bahwa “Pak Jokowi sungguh bagai ‘Firaun yang maju kena, mundur pun kena. Bertahan di tempat saja pun lebih kena lagi.’ Sayangnya, sepertinya Jokowi sungguh beda nasib dengan Firaun di Kitab Kejadian dalam Alkitab Dunia Kristen.

    Di Kitab Kejadian itu, Firaun memang sungguh berkuasa penuh. Ia tidak bisa dan tidak mungkin diatur-atur oleh pegawai istana dan kepala pengawal Kerajaan Mesir semisal Potifar itu.

    Hal seperti ini yang bikin Ade Armando, dari Cokro TV, misalnya, tak habis pikir. Mengapa masih saja tertahan gerak politik untuk lanjutkan aura Jokowi demi Indonesia Raya?

    Apa kah kebanyakan masyarakat Indonesia pun demikian?

    Bagaimana pun ini hanyalah sebatas sepak pojok. Yang tentu tak harus pastikan gol dari apa yang sungguh dimaksudkan Cak Nun terhadap Jokowi.

    Entahlah…

    Verbo Dei Amorem Spiranti

    Collegio San Pietro - Roma

    Ikuti tulisan menarik Rikhardus Roden Urut Kabupaten Manggarai-NTT lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.