Wangi Lavender - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Sumber ilustrasi: wolipop.detik.com

Ikhwanul Halim

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 25 Januari 2023 13:25 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Wangi Lavender


    Dibaca : 2.966 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Rambut Kirani hitam panjang, kulit seperti pualam, dan fitur eksotis. Dia menikah dengan Irawan, sahabatku, ketika mereka berdua berusia delapan belas tahun.

    Aku masih ingat bagaimana wajah mereka bersinar ketika mereka mengucapkan sumpah mereka. Aku melihat senyum menyilaukan Kirani saat dia menempel di lengan Irawan, dan jiwaku berubah menjadi hitam pekat.

    Setelah lulus SMA, aku bekerja di bidang konstruksi. Menabung dan memulai bisnisku sendiri. Awalnya berat sampai aku mendekati anggota dewan dan kepala dinas membayar suap untuk pekerjaan yang mereka kirim untukku. Dalam beberapa tahun, aku mengendarai BMW Z4 convertible dan bergonta ganti wanita yang kubawa ke restoran mewah dan klub malam yang trendi.

    Irawan menjadi pialang properti dan terdampak naik turunnya pasar. Kirani menikmati hal-hal yang menyenangkan, dan Irawan sering menghubungiku untuk memnjam uang yang tidak pernah dikembalikan. Aku merasa seperti sedang membelikan sesuatu untuk Kirani, jadi uang tunai apa pun yang saya miliki, adalah miliknya.

    Aku jarang berkencan dengan seorang wanita cukup lama untuk dikenalkan pada Irawan dan Kirani sebagai pasangan. Tapi itu hari ulang tahun Irawan, dan Kirani mengundangku untuk bergabung dengan mereka makan malam di sebuah trattoria Italia.

    Aku membawa Rachael, perempuan berambut cokelat dengan belahan dada yang kutemukan di bar. Kirani menyapaku dengan ciuman di telingaku, dan aku mendesah pada aroma lavendernya. Mungkin karena parfum terkutuk itu, tapi aku terus mencuri pandang ke Kirani. Setiap kali mata kami bertemu, dia tersenyum, dan matanya menari. Rachael menangkap apa yang terjadi dan meletakkan tangannya di pahaku.

    Selama makan malam, pikiranku berputar-putar antara berfantasi dengan Kirani dan mengutuk diri sendiri karena memendam gairah pada istri sahabatku.

    Anggota dewan dan kepala dinas ditangkap karena korupsi, dan mereka menyeretku bersama mereka. Penjara menyiramku dengan kencing pesing.

    Satu-satunya pekerjaan yang bisa kdapatkan setelah dibebaskan adalah sebagai kuli. Irawan adalah satu-satunya teman yang tidak meninggalkanku. Aku terpental di jalan selama hampir setahun, kemudian ayah saya meninggal dunia dan warisanku cukup untuk membuat aku kembali berbisnis.

    Aku mengalahkan tawaran kompetitif apa pun untuk mendapatkan tender dan kontrak, dan memastikan klien benar-benar puas dengan pekerjaanku. Memberikubanyak referensi, dan dalam setahun bisnisku menjadi lebih besar dari sebelumnya. Lucu, bagaimana orang menjadi pintar setelah tiga puluh.

    Aku sedang berada di tempat kerja ketika menerima telepon dari Kirani. Irawan mengalami kecelakaan mobil, dan dalam kondisi kritis di RSCM. Aku bergegas ke sana. Irawan menggunakan ventilator, wajahnya sepucat mayat. Ketika seorang dokter bermata sipit memberi tahu Kirani bahwa cedera otak Irawan sangat parah, dia terkulai pingsan di pelukanku.

    Kirani menghabiskan berjam-jam setiap hari menunggui Irawan, tapi suaminya tidak pernah siuman. Kirani mendapat telepon sekitar jam tiga pagi.

    Setiap orang mati sendirian.

    Kirani menangis selama berminggu-minggu. Kematian membuatmu merasa bersalah, bahkan jika kamu tidak bersalah.

    Aku mengatakan kepadanya bahwa dia bukan Tuhan atau dokter, tidak ada yang perlu disesali.

    Menghiburnya tidak membantu. Aku belum pernah melihat Kirani tanpa riasan, dan aku tersentak melihat kesedihannya yang membuatnya menua. Tapi dia tetaplah Kirani. Dia rentan, dan dia membutuhkanku.

    Beberapa bulan setelah pemakaman, kami minum kopi di ruang tamunya. Dia duduk di sebelahku di sofa, dan lavender menggerakkanku. Belaian pertamaku bersifat tentatif, tetapi dia merespon. Dia menarikku ke tempat tidur dengan rasa lapar yang mengejutkanku.

    Aku pernah bersama wanita yang menganggapku sebagai sepotong daging, tetapi aku tidak berharap Kirani melahapku utuh dalam satu malam. Aku membayangkan Kirani sebagai perempuan yang jauh dari perawan, tapi dia adalah Circe yang dilanda berahi.

    Jangan salah paham, aku menikmati setiap detiknya. Tapi setelah itu, aku bingung. Apakah Irawan atlet ranjang yang mengajari Kirani? Mereka pasti telah mulai melakukannya di saat remaja.

    Setelah ronde kedua, seprai menjadi lembap karena keringat. Kirani meringkuk ke arahku. Aku merasa seperti telah mendaki hingga ke puncak Everest dan mengoceh terengah-engah.

    “Aku cemburu pada Irawan. Kamu adalah wanita ideal yang tidak bisa ditandingi perempuan lain. Tetapi kamu adalah istri sahabatku, di luar jangkauan. Irawan pasti begitu hebat. AKu harap aku dapat mendekatinya.”

    Kirani mencium lenganku. “Fir, kamu luar biasa.” Dia mendesah. “Irawan disibukkan dengan kekhawatiran bisnis dan uang. Dia tidak pernah merasa aman.”

    Kirani menatap wajahku. "Irawan tidak bisa berdiri selama lebih dari setahun."

    Aku menyangga diriku dengan siku. "Tapi kamu tetap setia padanya?"

    “Aku bukan perempuan yang kamu bayangkan. Aku mencari lelaki lain, tetapi aku tidak mempermalukan Irawan dengan memamerkannya.”

    "Berapa banyak?"

    Kirani menggelengkan kepalanya. "Terlepas dari apa yang kamu pikirkan, aku mencintai Irawan."

    “Malam di restoran Italia adalah yang paling dekat yang pernah terjadi untuk mendapatkanmu.”

    “Aku melakukan segalanya untuk menyemangatimu. Rachel melihatnya. Dia hampir naik ke celanamu.”

    Aku merasakan telingaku memanas. "Jadi, kamu melemparkan jaringmu pada siapa saja yang menarikmu?"

    "Aku tahu kamu punya sesuatu untukku."

    “Dan kamu secara rutin mengkhianati Irawan. Berapa kali?"

    Kirani menatap lurus ke wajahku. “Mengapa itu penting?”

    “Irawan pasti tahu. Itu pasti membuatnya menderita.”

    “Aku berhati-hati, tapi kamu benar, perselingkuhan sulit disembunyikan. Tapi dia tidak pernah mengonfrontasikannya denganku.”

    Panas mengalir sampai ke ubun-ubun. Aku mengangkat tangan. Aku berhutang pada Irawan.

    Kirani tetap tenang. "Kamu menyesal telah menunggu untuk memilikiku."

    Tanganku terkulai lemas. Mataku berkedip-kedip. Melempar selimut ke lantai, berpakaian, lalu pergi.

    Aku mempertimbangkan kata-katanya selama berminggu-minggu, dan baru beberapa bulan kemudian menelepon Kirani lagi. Dia senang mendengar suaraku, dan aku mengajaknya kencan.

    Kami berkencan, tapi aku bukan satu-satunya lelaki dalam hidupnya. Satu hal yang kupastikan.

    Dia tidak memakai parfum lavender sialan itu lagi.

     

    Bandung, 25 Januari 2023

    Ikuti tulisan menarik Ikhwanul Halim lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.