x

Iklan

rakhmat_azis

Penulis indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 26 Februari 2023 11:08 WIB

Diam

pandanganku tak kembali, penglihatanku tak akan mampu memandangmu, ucapan, suara, dan tulisanku tak pernah sampai kepadamu, kepadamu yang sudah terdiam.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

            Kamu diam dalam keramaian memanggil diriku yang menyukai keramaian, bukan karena terganggu namun lebih karena aku merasa kamu membutuhkan seseorang disampingmu, membuatmu senyum sedikit atau mengucapkan kata sapaan, aku mulai duduk disampingmu dan menanyakan yang ada dikepalamu bahkan saya lupa memperkenalkan diriku sendiri dengan lancang berbicara tentang pikiranmu.

            Aku melihat dengan jelas kamu yang khawatir dan memberanikan diri untuk tidak lari ketika aku mendekat, membuatku semakin ingin lebih mengenalmu. Kamu hanya tersenyum kaku ketika aku mulai duduk bersamamu dan karenamu untuk pertama kalinya aku susah untuk menjawab ekspresi orang lain.

            Kamu mulai dengan memperkenalkan dirimu dengan muka yang datar dan tanpa menjabat tangan, dan aku mulai menceritakan tentang diriku dengan nada ceria yang biasa aku bawakan, sesaat aku melihat wajahmu nampak tersenyum sekilas yang membuatku senang menceritakan sesuatu padamu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

            Banyak hal tentang diriku yang aku ceritakan, saat aku menceritakan tentang kehidupanku maka akupun menanyakan tentangmu, dalam keceriaanku bercerita aku selalu mencari kesamaan denganmu agar aku bisa lebih dekat denganmu, kamu selalu menceritakan tanpa lebih mendetail seperti diriku namun aku paham ketika ada hal yang sama maka kamu mengatakan sesuai dengan yang aku bicarakan sedang yang tidak kamu alami kamu diam dan mendengarkan semua ceritaku.

            Kamu yang diam dan tenang mendengarkan ceritaku dan sesaat ikut tersenyum membuat aku bersyukur bertemu denganmu bahwa pertama kali aku menemukan orang dengan senyuman seperti dirimu bahkan untuk orang yang banyak bercerita ini.

            Ekspresimu adalah kejujuran, setiap yang aku ceritakan kepadamu seolah tahu bagaimana rasanya menjadi orang didalam cerita tersebut dan setidaknya hal itu yang membuat aku bahagia, selanjutnya cerita itu berlanjut dihari berikutnya dan setiap cerita itu tidak selamanya membahagiakan, saat hal itu akan aku ceritakan kamu seolah merasakan kesedihan yang aku rasakan.

            Dihari pertama aku melihatmu sedang duduk dikursi sendiri, aku datang dan hanya duduk terdiam tanpa kata yang tidak bisa aku jelaskan, ketika aku ingin melanjutkan cerita yang menyedihkan itu seolah kamu tahu aku akan melanjutkannya namun kamu menghentikan dengan gerakan tanganmu agar menahan kisah sedih itu, meminta aku menceritakan ketika semua orang diruang itu pulang dan tinggal kita berdua.

            Ketika semuanya telah pulang dan pergi dan tersisa aku, kamu dan suasana hening di ruang itu, kamu memberikan isyarat untuk menceritakan kelanjutan kisah yang akan berakhir sedih itu, aku menahan tangisku karena dihadapanku ada manusia yang sudah mau melihat keadaan burukku ketika aku sering menceritakan hal yang membahagiakan ketika hidupku.

            Saat kata pertama ingin aku ucap, aku tak mampu menahan tangisku, air mataku mengalir dengan sendirinya karena ketidakmampuanku, dengan beraninya aku meminjam bahumu untuk bersandar dan menyembunyikan muka yang memalukan ini, kamu hanya terdiam dan menyimak cerita yang aku ucapkan, kamu melihatku mengusap air mata yang tidak berhenti mengering ini, kamu mengatakan untuk terus bercerita apa adanya dan memperlihatkan sisi lain dari kehidupan yang selama ini orang lain lihat.

            Setiap aku menjadikan kisah ini menyedihkan kamu menguatkan agar cerita itu bermakna, menurutmu kisah itu tidak akan pernah menarik dan tidak akan menjadi cerita ketika kebahagiaan tidak bertemu dengan kesedihan, pertemuan tanpa perpisahan, dan hidup tanpa kematian. Aku lega ketika ada orang yang mampu menerimaku seutuhnya tanpa memisahkan kebahagiaan dan kesedihan dalam diriku.

            Kata yang kamu ucapkan sangat bermakna karena kamu tidak memisahkan keseluruhan yang ada didalam diriku, saat itu tanpa aku sadari cerita yang aku alami bisa jadi kamu rasakan di kehidupanmu, dan kamu hanya tersenyum ketika aku menanyakan hal tersebut tanpa menjawab iya atau tidak seolah itu adalah benar.

            Aku menyadari sesuatu, ketika kamu sedih siapa yang akan menerima ceritamu itu. Kamu yang terdiam menjawab bahwa aku adalah orang pertama yang mendengarnya dan kamu tetap tegar dengan menyimak semua cerita yang pernah kamu rasakan itu, kamu menjawab bahwa kuat mendengarkan kisah yang sama adalah ketika kita sudah menerima kisah itu sendiri sebagai bagian dari kehidupan kita, tanpa menyalahkan pihak manapun dan tanpa membenarkan siapapun.

            Kamu menjawabnya dengan nada yang halus namun tetap tegas, dengan mengambil sapu tangan yang ada di tasmu dan mengelap muka yang sudah basah karena kesedihan itu, mengatakan jika dirinya menangis dan menceritakan hal sedih itu maka dia tidak akan mampu mendengarkan dan duduk bersama orang yang mengalami hal yang sama termasuk aku.

            Menjadi manusia yang kuat itu ternyata sulit untuk untuk tebak, kamu yang diam itu seolah memiliki kehidupan yang biasa nyatanya lebih menahan dan mengeluarkan kepada orang yang mengerti perasaanmu dan aku yang suka mengekspresikan kebahagiaanku nyatanya tak bisa lebih bahagia dari kamu yang mampu menyalurkan kesedihanmu.

            Kamu mengatakan jika manusia selalu mencari yang mereka butuhkan, termasuk aku yang mencarimu karena kesedihanku yang terpendam kebahagiaan, dan kamu yang bertemu aku karena kebahagianmu yang tertutup kesedihanmu, kita berdua saling membutuhkan agar saling mengingatkan dan menjadikan kita manusia seutuhnya.

            Seolah cerita yang aku ucapkan tidak ingin aku hentikan ketika aku bersamamu, kamu terus menyimak dan tersenyum tanpa lelah mendengarkan suara yang keluar dari mulutku ini. Namun diammu tidak pernah berarti tidak memiliki arti, kamu diam untuk menyimak, sesaat kamu berpikir dan mengingat setiap kejadian yang pernah aku ucapkan.

            Esok pagi ketika cahaya mulai meredup, angin yang dingin menerpa, kamu tidak memandang kearahku tanpa berbicara sedikitpun kata. Keberadaanku yang menatapmu kamu anggap benda, suara yang aku keluarkan kamu anggap bisingnya suara, kamu mengalihkan semua fokusmu pada benda yang selalu bersamamu, buku coretanmu dan cerita yang kamu tulis didalamnya ketika aku mencoba menyentuhmu kamu memanggil orang lain agar membawamu pergi dimana aku tidak ada, boleh jadi ada yang salah dari diriku yang tidak aku sadari, menjijikan rasanya mengetahui ada manusia lain yang selama ini bersama tiba-tiba pergi tanpa memberikanku alasan jelas dan pergi tanpa suara.

            Setiap hari aku berpikir tentang kesalahan dan mengingat kembali setiap tindakan, ucapan yang berkaitan denganmu, dan selalu berakhir pada aku yang tidak tahu kesalahan macam apa itu. Setiap detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, sampai minggu ke minggu aku memikirkan itu, jika aku tersiksa karena membuatmu menjauh karena kesalahanku, aku akan semakin merasa lebih menjijikan dari sebelumnya.

            Selanjutnya ketika kamu pergi dari pandanganku, dan aku pun mengikuti kemauanmu untuk tidak mendekatimu atau berbicara denganmu, aku selalu memperhatikanmu, kamu selalu menulis dibuku coretanmu kemudian membacanya kembali dan kamu selalu membawa buku itu kemana pun kamu pergi, aku memikirkan cerita seperti apa yang kamu tulis itu.

            Bulan berikutnya kamu sibuk oleh tugasmu di ruang itu dan sesaat juga kamu melupakan buku yang kamu tulis, dengan bodohnya aku memegang buku yang bukan milikku karena rasa penasaranku tentangmu itu yang memberanikan diriku mengharuskan bertingkah laku seperti itu, aku membacanya dan satu kata yang menyebut namaku, dan aku membaca tanda petik itu.

            Kalimat bertanda petik itu adalah

kamu yang berbicara tentang dirimu sendiri nyatanya nampak yang disembunyikan, dan aku berusaha untuk tidak menanyakan hal itu, tentang orang yang sedang menjalin hubungan denganmu, orang yang kamu lindungi bahkan tidak menyebut namanya dihadapanku, aku yang mendengarkanmu seolah hanya melihat kebohongan dan harapan yang menjijikan. Semakin menjijikan perasaan yang menjalar itu membuat aku tidak tahan kemudian mencoba mencari yang sedang kamu sembunyikan, aku menanyakan kepada orang yang ada disekitarmu yang menjadi kepercayaanmu, mereka yang seolah memandang jijik kepadaku yang tidak tahu apapun tentang apa yang kamu sembunyikan, mereka berkata jujur untuk hubungan yang kamu sedang jalankan dan semakin aku dengar cerita mereka yang tidak nampak kebohongan itu semakin aku jijik kepada perasaan yang menjalar ini, aku merasa bersalah terhadap diriku sendiri dan menghukum diriku sendiri atas rasa yang aku miliki. Semua yang telah aku lalui ini anggap saja seolah sejarah yang harus terus aku ingat dan tidak akan menerima manusia seperti itu lagi, tidak akan kehilangan akalku, tidak lagi mementingkan perasaanku, dan menghilangkan dirimu dari perasaanku akan menjadi pekerjaan panjang dalam hidupku…

            Dia yang diam nyatanya tahu dan aku yang banyak cerita nyatanya tak mampu bersembunyi dari karanganku, dia pasti sudah merasa sangat bersalah karena tindakan yang aku perbuat dan aku yang tidak bisa mengatakan maaf ini sudah berakhir dan tidak bertanggungjawab atas cerita yang aku buat yang telah melibatkanmu, bagaimana bisa aku terpikir bahwa cerita yang aku buat akan membuatmu bahagia nyatanya membuat kamu menyalahkan dirimu sendiri, menjauh dariku, dan memberikan kamu rasa yang menjijikan itu, maaf ini tidak akan pernah sampai kepadamu, kesalahanku ini sangat fatal diawal. seharusnya aku menyadarinya dan tidak menyepelehkan perasaan orang lain, orang yang sudah menerima rahasiaku dan telah berbagi rahasianya padaku. Aku selamanya akan menikmati rasa bersalah dan rasa yang menjijikan yang tak akan pernah mampu melihatmu kembali, hubunganku denganmu berakhir pada kalimat yang tak tertulis, terucap, terdengar dan terbaca oleh siapapun, kamu yang mampu hidup seperti biasa dan aku akan hidup dengan rasa bersalah.

Ikuti tulisan menarik rakhmat_azis lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler