Cinta yang Tak Pernah Habis

Jumat, 19 Mei 2023 08:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Mereka yang dibesarkan dengan cinta akan hidup penuh cinta. Mereka yang hidup dengan cinta akan membagi cinta ke lingkungannya. Memoar Theresia Emir yang dijuduli “Cinta yang Tak Pernah Habis” ini menjadi bukti bahwa mereka yang dicintai akan mencintai.

Judul: Cinta Yang Tak Pernah Habis

Penulis: Theresia Emir

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tahun Terbit: 2023

Penerbit:

Tebal: 308

ISBN:

Mereka yang dibesarkan dengan cinta akan hidup penuh cinta. Mereka yang hidup dengan cinta akan membagi cinta ke lingkungannya. Memoar Theresia Emir yang dijuduli “Cinta yang Tak Pernah Habis” ini menjadi bukti bahwa mereka yang dicintai akan mencintai.

Berbeda dengan memoar dan biografi yang biasanya ditulis dengan menonjolkan kisah kepahlawanan, “Cinta yang Tak Pernah Habis” ditulis dengan memfokuskan kepada cinta yang mewujud.

Theresia Emir – saya memanggilnya Bulik Threes adalah orang yang hidup dengan cinta. Perjumpaan saya dengan Threes Emir terjadi dalam tiga peristiwa. Pertama adalah saat saya berupaya menerbitkan buku saya di Gramedia. Kedua adalah saat kami bersama-sama menulis buku “#KamiJokowi,” dan ketiga adalah saat kami terhubung dalam sebuah group whatsup para penulis. Interaksi saya dengan Threes Emir melalui tiga peristiwa itu penuh dengan kehangatan cinta. 

Saat saya mengupayakan penerbitan buku saya di Gramedia. Buku saya berjudul “Anak Cino – Pencarian Jatidiri Keluarga Cina di Pedesaan Jawa” sudah terkatung-katung lebih dari 3 tahun. Karena cinta Bulik Threes, buku itu akhirnya terbit. Bulik Threeslah yang meyakinkan Gramedia bahwa naskah saya layak untuk diterbitkan.

Saya jadi penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang sosok yang penuh cinta ini. Rasa penasaran saya terjawab saat membaca memoar yang ditulisnya.

Memoar yang ditulisnya saat usianya menjelang 75 tahun ini memberikan banyak cerita bagaimana Threes Emir dibesarkan dalam keluarga yang penuh cinta; bagaimana mahligai rumah tangga yang dibagung bersama dengan Emiriza Ilham (Emir) juga penuh dengan cinta. Threes Emir juga bercerita bagaimana ia membangun karir di dunia kepenulisan dan penerbitan yang penuh cinta. Tepatlah pilihan judul memoar ini “Cinta yang Tak Pernah Habis.”

Threes Emir mengisahkan dengan sangat menarik tentang ayahnya yang Jawa, Katholik, tentara sekaligus pengusaha. Threes Emir menggambarkan betapa sang ayah mampu meramu nilai-nilai Jawa, Katholik, tentara dan pengusaha menjadi sebuah sikap dan perilaku yang penuh cinta.

Kejawaannya terlihat dari sifatnya yang tidak suka menonjolkan diri. Meski mempunyai pengalaman yang heroik dan peran yang penting di masa Jepang dan Peristiwa Madiun, FX Soeharto sangat jarang menceritakan pengalamannya tersebut. Bahkan keluarganya banyak yang tidak tahu kisah-kisah tersebut. Meski FX Soeharto mempunyai relasi yang sangat kuat dengan orang-orang seperti Presiden Soeharto, Gatot Subroto, Moenadi, Bob Hasan dan pengusaha kelas kakap Indonesia, namun ia tidak menonjolkan relasi tersebut.

Kekatholikannya diwujudkan dalam dipenuhinya nazar untuk membangun gereja jika ia berhasil lolos dari maut saat tertangkap serdadu Belanda. FX Soeharto adalah seorang yang serius menjalankan ritual-ritual Katholik. Tidak aneh jika keluarga FX Soeharto sering melakukan perjalanan religi ke tempat-tempat seperti Lourdes.

Thees Emir mengambarkan ayahnya sebagai seorang yang tegas dan disiplin. Sifat ini tentu mengambarkan bahwa FX Soeharto sebagai seorang tentara. Ketegasan dan kedisiplinan diterapkan kepada keluarganya, di tempat kerja dan dalam pergaulan pada umumnya.

Sebagai seorang pedagang, FX Soeharto memegang prinsip jujur dan tidak mau menipu. Sifatnya yang jujur, tidak mau menipu tersebut membuatnya disukai oleh para bisnismen koleganya. FX Soeharto dipercaya oleh para pengusaha rokok untuk mengurus berbagai hal, seperti misalnya pengadaan cengkih.

Tentang Sang Ibu, Threes menceritakan sesosok perempuan yang terpelajar, sangat peduli dengan kualitas hidup keluarganya dan menjadi sumber cinta. Sosok yang lembut dan gaul. Antoinette Sunarti selalu tampil rapi, meski di dalam rumah. Ia adalah seorang perempuan yang pandai memasak dan sangat peduli dengan kualitas makanan keluarganya. Perempuan yang dijodohkan dengan FX Soeharto oleh Mgr Soegijopranata ini mempunyai pergaulan yang luas. Ia bergaul dengan berbagai kalangan tanpa membedakan kelas sosial, ras dan agama. Wajarlah jika ketiga putrinya meneladani etiket pergaulan dari Sunarti.

Theresia Srihesti lahir di Kudus tahun 1948 dari pasangan Fransiskus Xaverius Soeharto dengan Antoinette Sunarti. Masa sekolah dilalui di Kudus dan Semarang, sebelum akhirnya kuliah di Jogja. Masa sekolah dan kuliah dikisahkan dengan sangat baik. Threes Emir menggambarkan masa sekolahnya diliputi dengan cinta.

Threes Emir menceritakan pertemanannya dengan kawan-kawan sekolah yang berbeda kelas sosial, beda agama dan beda etnis. Threes mengisahkan perkawanannya yang hangat dan penuh cinta di masa sekolah dan kuliah. Ia bisa naik sepeda dengan kawannya yang hidup pas-pasan tetapi juga bisa berdansa dengan teman-teman yang dari kelas menengah. Bahkan beberapa teman semasa sekolahnya masih berhubungan hingga saat ini.

Kisah paling seru yang ada di memoar ini adalah kisah tentang cinta antara Emiriza Ilham dengan Theresia Srihesti. Berpacaran sejak sama-sama kuliah di UGM, pasangan ini menikah secara Katholik. Mereka menikah tanggal 19 Februari 1971 di Katedral Randusari Semarang. Pasangan muda ini kemudian membangun rumah tangga di Jakarta. Pasangan yang berbeda usia 4 tahun ini saling berbagi dalam mengurus rumah tangganya. Ternyata Emir bukan hanya pintar mencari nafkah, tetapi ia juga seorang suami yang bisa mengurus bayi.

Keluarga Emir-Threes sangat peduli dengan kualitas pendidikan anak-anaknya. Mereka juga sangat peduli dengan kesejahteraan batin anak-anaknya. Itulah sebabnya meski keduanya sangat sibuk, mereka selalu punya waktu untuk bersama dengan anak-anaknya. Mereka sering menyempatkan diri untuk berlibur bersama. Keluarga Emir-Threes tak hanya berbagi cinta dengan anak-anaknya. Keluarga ini juga menjadi tempat untuk keluarga yang membutuhkan tumpangan di Jakarta.

Threes merasa sangat kehilangan saat Emir berpulang. Kisah malam terakhir menjelang Emir berpulang sunggah sangat mengharukan. Threes dan Emir masih menonton TIV bersama sambil tiduran. Ucapan terakhir Emir kepada Threes adalah “Thank you ya, Ma…” sebelum esoknya beliau pergi ke alam kelanggengan.

Sungguh keluarga yang penuh cinta. Masih ada cinta meski di malam terakhir.

Memoar ini juga mengisahkan bagaimana Threes Emir membangun karir di bidang kepenulisan dan penerbitan. Threes Emir yang dibesarkan dengan buku-buku saat kecilnya, sangat sukses dalam karirnya di bidang kepenulisan dan penerbitan. Threes menulis dan mengedit lebih dari 50 judul buku. Buku-buku yang ditulis/dieditnya terdiri dari berbagai genre. Ia menulis novel, fesyen dan kecantikan, taman dan interior, masakan, biografi, buku rohani dan politik. Threes Emir adalah Redaktur Pelaksana Majalah Gadis, Pimpinan Redaksi Majalah MODE INDONESIA dan Ketua Pelaksana Harian Marian Center Indonesia.

Theresia Srihesti memang hidup dalam cinta yang tak pernah habis. 750

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua