Gerakan Heroik Berantas Buta Huruf di Atambua

Selasa, 23 Mei 2023 07:27 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Redemptus De Sales Ukat, putra Atambua, menggagas program bimbingan belajar gratis untuk anak-anak eks Pengungsi Timor Leste sejak 2018. Ia fokus pada pembelajaran literasi dasar. Gerakan itu ia mulai secara gerilya hingga pelan-pelan mendapat dukungan warga. Ia adalah salah satu penerima apresiasi dalam Satu Indonesia Award 2022.

Negara Indonesia tidak membutuhkan superhero yang memiliki banyak kekuatan luar biasa seperti sering digambarkan dalam film-film laga layar lebar. Yang dibutuhkan Indonesia adalah para putra-putri yang memiliki sikap heroik dalam mengatasi persoalan-persoalan bangsanya. Sikap heroik adalah sikap militansi patriotik dalam semangat perjuangan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sesuai dengan arah nilai-nilai dan cita-cita negaranya.

Cita-cita negara Indonesia dalam bidang pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa—terdapat dalam Pembukaan UUD 1945. Cita-cita negara Indonesia yang mulia ini terbentur dengan persoalan tingginya tingkat angka buta huruf masyarakat yang bertempat tinggal di daerah-daerah pelosok Indonesia.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adalah Redemptus De Sales Ukat, putra negeri Atambua, yang memiliki gelar S1 Filsafat ini, menerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2022 tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur di bidang Pendidikan yang diadakan oleh PT. Astra. Redemptus menggagas Program Bimbingan Belajar Gratis untuk anak-anak eks Pengungsi Timor Leste sejak tahun 2018 di Kelompok Belajar Oan Lidak yang berfokus pada pembelajaran literasi dasar (membaca, menulis dan berhitung).

Tujuan awal dari Redemptus sebenarnya memberikan pengajaran Bahasa Inggris gratis kepada anak-anak tidak mampu di wilayah itu, terutama anak-anak eks pengungsi Timor Leste. Di situlah Redemptus menemukan fakta bahwa banyak sekali jumlah anak-anak yang buta huruf. Belum bisa membaca, menulis dan berhitung padahal mereka sudah duduk di bangku SD kelas 3 dan kelas 4. Kondisi ekonomi masyarakat yang sangat miskin di sana adalah faktor utama dari persoalan ini. Anak-anak di sana sampai harus menjadi "pekerja anak" dan meninggalkan bangku sekolahnya untuk membantu perekonomian keluarganya yang sangat miskin.

Kesungguhan Redemptus dalam menerapkan Program Bimbingan Belajar Gratis itu tidak main-main. Semasa programnya masih bergerak secara gerilya—belum mendapatkan izin dari Kemendikbud— dia rela mengorbankan uang gaji dan operasionalnya demi memenuhi kebutuhan programnya seperti papan tulis, buku-buku cerita, pensil warna, kertas dan lain sebagainya. Sampai akhirnya ia bertemu dan bergabung dengan Komunitas Buku bagi NTT yang mendonasikan buku, beberapa peralatan belajar mengajar dan teman-teman relawan sebagai pengajar. Hal itu menjadi jalan mulus bagi Redemptus dalam menyediakan akses buku bacaan agar mereka terbiasa dan gemar membaca sejak usia dini.

Selain itu program Redemptus semasa pergerakan gerilyanya pun diberatkan oleh kendala tempat belajar. Awal memulai program Ia dibantu oleh ibu-ibu ini dengan mengizinkannya menggunakan sebuah rumah kosong di lingkungan itu. Tapi baru satu bulan rumah itu dipakai tiba-tiba sang pemilik rumah mengubah rumah kosong itu menjadi rumah billiard dan tempat berjudi. Redemptus kemudian dibantu oleh Ketua RT setempat. Beliau memintanya menggunakan halaman rumahnya sebagai tempat belajar. Sampai saat ini halaman rumah bapak RT ini yang dipakai sebagai tempat belajar. Tempat belajar masih menggunakan tikar dan terpal namun teras alang-alang sudah dibangun menjadi lebih baik. Ada pula kegiatan edukasi tentang cara menghindari virus corona, seperti penerapan protokol kesehatan.

Dalam perkembangannya, Program Bimbingan Belajar Gratis ini memiliki keunggulan tersendiri antara lain:

1) para pengajar merupakan orang-orang terlatih (pernah mengikuti pelatihan sebagai fasilitator pos baca oleh Save the Children dan pelatihan sebagai fasilitator Parenting Positive).

2) Program ini menerapkan model pendekatan yang menyenangkan, ramah dan tidak melakukan kekerasan (baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal).

3) Menggunakan metode yang menarik seperti mendongeng, bercerita, bernyanyi, membuat karya, membuat jurnal, lomba, penugasan dan sahabat pena (melalui buku bagi NTT) serta bakti sosial (membersihkan lingkungan dan pasar dari sampah plastik, kampanye cuci tangan pakai sabun dan kegiatan sosial lainnya).

4) Selalu memberikan waktu 15 menit – 20 menit pertama untuk membaca buku kepada anak-anak.

Tahun 2020 Redemptus dan beberapa kawan relawan telah membentuk sebuah komunitas bernama Komunitas Pensil. Melalui Komunitas ini mereka mengembangkan program Bimbingan Belajar Gratis tidak saja di Kelompok Belajar Oan Lidak, tetapi pada beberapa kelompok lain yang tersebar di Kota Atambua.

Berdasarkan Program SATU Indonesia Awards yang diadakan oleh PT. Astra, orang-orang seperti Redemptus inilah yang patut mendapat apresiasi atas tindakan heroiknya dalam melihat "kekosongan" pada jarak antara Mendikbud dengan masyarakat di daerah-daerah pelosok Indonesia. Program Bimbingan Belajar yang ia gagas itu, dalam istilah fisikawan Edward Lorenz, dapat dinyatakan bahwa telah menjadi efek kupu-kupu bagi cita-cita Negara Indonesia. "Kepakan sayap kupu-kupu di Atambua menghasilkan tornado harapan di SATU Indonesia Awards"

Bagaimana dengan kamu?

Ayo! Segera daftarkan dirimu di SATU Indonesia Awards Tahun 2023 oleh PT. Astra untuk semangat melaju bersama dalam memajukan bangsa.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Jerpis M.

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Kepada Engkau

23 jam lalu
img-content

Hujan dan Angin

20 jam lalu

Baca Juga











Artikel Terpopuler