x

illustr: Mamas Uncut

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 13 Juli 2023 15:21 WIB

Mentalitas dan Moralitas Tercermin Saat Pandai Bersyukur dan Membalas Budi

Mari selalu mengontrol diri. Merefleksi dan mengevaluasi diri. Apakah saya, kita, sudah termasuk menjadi golongan orang-orang yang pandai bersyukur dan tahu caranya membalas budi?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sudah dibantu-ditolong-difasilitasi-diberikan kemudahan, didukung, dibela, ... dan ... . Untuk sesuatu yang diperlukan, dibutuhkan, diprioritaskan bagi kepentingan pribadi, kelompok, golongan, ... dan ... . Namun, sebab rendahnya mentalitas dan moralitas, pelajaran tentang tahu berterima kasih dan tahu diri, hilang tidak bertepi. Bahkan, sekadar komunikasi pun tidak terjadi, apalagi untuk membalas budi.

(Supartono JW.13072023)

Banyak orang kaya pikiran, kaya hati, luas hati. Pandai bersyukur. Selalu tidak berpikir dan berbuat untuk kepentingan dan mencari keuntungan dirinya sendiri atau golongannya atau lainnya, karena apa pun yang diperbuatnya, mencerminkan bahwa dia telah selesai dengan dirinya sendiri. Maka, mentalitas dan moralitas dalam dirinya, senantiasa ada di tempat, situasi, dan waktu yang benar dan baik. Sebaliknya, banyak orang miskin pikiran, miskin hati, tertutup hati. Tidak bersyukur. Selalu berpikir dan berbuat untuk kepentingan dan mencari keuntungan dirinya sendiri atau golongannya atau lainnya, karena apa pun yang diperbuatnya, mencerminkan bahwa dia belum selesai dengan dirinya sendiri. Maka, mentalitas dan moralitas dalam dirinya, senantiasa tidak ada di tempat, situasi, dan waktu yang benar dan baik.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Contoh

Sedih pertama, di lingkungan elite negeri ini. Ada yang orang yang kini menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Pasalnya, yang bersangkutan dianggap kompeten dan memiliki kemampuan mengentaskan beberapa bidang sesuai dengan profesionalismenya. Tetapi, karena langkah-langkahnya hanya sebuah kamuflase demi sebuah tujuan yang lebih tinggi. Maka, bidang-bidang yang diemban pun sekadar sebagai jembatan pengantar. Atau lebih kerennya, orang-orang lebih sering menyebut sebagai kendaraan politik. Identifikasinya, sejak awal menduduki jabatan. Lalu, diagung-agungkan. Tetapi yang seharusnya menjadi pondasi dan ditangani dengan sungguh-sungguh, malah belum pernah disentuh.

Hebatnya, gebarakan demi gebarakan diluncurkan dengan berbagai dalih, meski dengan cara instan. Mau ke arah mana tujuan? Kini, narasi demi narasi pun diluncurkan seiring sejalan dengan jejaknya di atas kendaraan. Media massa, media televisi, netizen, warganet, para buzerRp pun jadi ikut meramaikan. Apa isi narasinya. Untuk siapa diarahkan? Apa maksudnya? Apa tujuannya? Menyedihkan, bila nyatanya, apa yang kini diemban, hanya dijadikan sebagai batu loncatan. Karena demi kepentingan pribadi, kelompok, golongan, partai, dan oligarkinya. Masyarakat yang tadinya mengelu-elukan, sedikit demi sedikit paham atas fakta dan kenyataan dari sikap dan perbuatan yang disajikan sendiri di depan wartawan.

Sedih kedua, di lingkungan masyarakat biasa. Tidak henti saya menemukan orang-orang yang sudah dibantu, sudah ditolong, sudah difasilitasi, sudah diberikan kemudahan, sudah didukung, sudah dibela, sudah titik-titik dan sudah titik-titik. Untuk sesuatu yang diperlukan, dibutuhkan, diprioritaskan bagi kepentingan pribadi, kelompok, golongan, ... dan ... . Namun, sebab rendahnya mentalitas dan moralitas, pelajaran tentang bagaimana tahu cara berterima kasih dan tahu diri, hilang tidak bertepi. Bahkan, sekadar komunikasi pun tidak terjadi, apalagi untuk membalas budi. Itulah dua contoh sedih saya, dari sekian banyak sedih-sedih yang lain.

Saya potret di artikel ini, sesuai fakta-fakta kemanusiaan yang ada di dekat saya, di antara rakyat jelata dan rakyat. Dan, rakyat yang bukan jelata, tergolong elite dan pemimpin. Keduanya melebihi kodrat manusia sebagai makhluk individu, makhluk beragama, makhluk terdidik, makhluk berbudaya, makhluk sosial, makhluk yang tahu ekonomi, dan lainnya. Dari kedua potret kisah sedih itu, mengapa orang-orang sampai mudah melakukan perbuatan seperti itu? Jawabnya, tentu berakar dari mentalitas dan moralitas yang senantiasa tidak ada di tempat, situasi, dan waktu yang benar dan baik.

Pandai bersyukur, membalas budi

Dari deskiripsi yang saya ulas tersebut, kira-kira, saya termasuk golongan orang yang memiliki mentalitas dan moralitas seperti apa?

Mental, memiliki arti yang berhubungan dengan watak dan batin manusia. Dari kata Latin "mens" (mentis) berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Adapun istilah mentalitas menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna aktivitas jiwa, cara berpikir, dan berperasaan. Selanjutnya, mentalitas, menurut KBBI merupakan keadaan dan aktivitas jiwa (batin) atau cara berpikir dan berperasaan.

Moral, menurut KBBI adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Moral, dari bahasa latin atau akhlaq dari bahasa Arab yang bermakna ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Moral merupakan standar perilaku yang memungkinkan setiap orang untuk dapat hidup secara kooperatif dalam suatu kelompok. Moral dapat mengacu pada sanksi-sanksi masyarakat terkait perilaku yang benar dan dapat diterima. Moral juga dipahami sebagai aturan kesusilaan ataupun suatu istilah yang digunakan untuk menentukan sebuah batas-batas dari sifat peran lain, kehendak, pendapat atau batasan perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik maupun buruk.

Kata moral sering disamakan dengan kata 'etika', karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti kebiasaan, adat. Moral juga diartikan sebagai nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Di samping itu, terdapat kata yang berhubungan dengan moral yang merupakan kata berimbuhan yang berasal dari kata moral, yaitu moralitas. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk. Jadi, moralitas suatu perbuatan artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut.

Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Wilayah geografis, agama, keluarga, dan pengalaman hidup, semuanya memengaruhi moral. Moral adalah konsep yang bisa berubah seiring perkembangan manusia. Kebanyakan orang cenderung bertindak secara moral dan mengikuti pedoman sosial. Meski moral dapat berubah seiring waktu, moral tetap menjadi standar perilaku yang digunakan untuk menilai benar dan salah. Moralitas adalah istilah yang sering kali menuntut seseorang mengorbankan kepentingan jangka pendeknya untuk kepentingan masyarakat.

Dari memahami tentang mental-mentalitas dan moral-moralitas, jejak orang-orang yang memiliki mentalitas dan moralitas yang benar dan baik, hidupnya diabdikan untuk kemaslahatan umat karena sudah selesai dengan dirinya sendiri, biasanya akan selalu tahu berterima kasih dan tahu diri. Selalu menjalin komunikasi. Tahu bagaimana caranya membalas budi. Membalas kebaikan orang ketika sudah ditolong adalah dari bentuk rasa terima kasih.

Bukti terima kasih lainnya, tidak melupakan jasa atau kebaikan orang lain. Sebab, tidak menjadi orang yang kacang lupa kulitnya. Orang-orang seperti ini juga selalu menjaga hubungan baik terjalin hingga seterusnya. Mereka juga tahu bahwa membalas kebaikan orang yang telah menolong adalah attitude dasar dalam hidup bersosial. Bahwa jangan sampai kamu hanya mau menerima kebaikan orang saja tanpa melakukan hal serupa pada orang lain. Pada akhirnya, sempatkan membalas kebaikan orang saat kita sudah ditolong, supaya hal itu tidak menjadi utang budi. Meski orang yang menolong melakukannya dengan ikhlas, namun dengan membalas kebaikannya, minimal tidak menjadi beban pikiran kita. Sebab utang budi itu lebih susah untuk dilunaskan daripada utang uang.

Mari, selalu mengontrol diri. Merefleksi dan mengevaluasi diri. Apakah saya, kita sudah termasuk menjadi golongan orang-orang yang pandai bersyukur, tahu caranya membalas budi, karena mentalitas dan moralitas yang benar dan baik. Bukan menjadi orang yang hanya pandai memanfaatkan orang lain, situasi, kesempatan dan lainnya, tetapi hanya untuk keserakahan diri, kepentingan diri, keuntungan diri, kelompok, golongan, dan lainnya. Jangan hanya pandai menerima kebaikan orang lain, tetapi tidak pernah mau belajar untuk pandai berbuat benar dan baik kepada orang lain, pihak lain, dan sebagainya. Banyak di sekeliling kita, orang-orang yang patut diteladani dalam hal mentalitas dan moralitas yang benar dan baik. Ayo, teladani mereka. Yakin, saya, kita, bisa. Aamiin.

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

5 hari lalu