Bandung Jam 9 Malam

Minggu, 16 Juli 2023 18:55 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kring-kring. Ini bukan call center, dan bukan mau lapor pajak. Ini tentang bidadari yang disembunyikan Tuhan selama 24 tahun di Bandung.

“Hoaammmmm…” aku menguap di coffee shop terdengar sedikit keras sampai orang di meja sebelahku menertawakan tingkah lucuku.

Melelahkan sekali, aku akui. Aku mengerjakan script ini agar tidak merepotkanku malam hari nanti. Karna aku mau telponan sama Manda jam 9 malam. Aku sampai udah merencanakan semuanya. Sekarang waktunya aku pulang ke rumah.

Aku melihat jam tanganku. Wadidaww..! Udah jam 7 malam aja nih. Aku langsung buru-buru pulang. Andai doraemon nyata di Jakarta dan kebetulan dia open BO, pasti aku bayarin pintu ajaibnya itu untuk membawaku langsung tiba dirumah.

Setelah aku keluar dari coffee shop berjalan perlahan menuju parkiran, aku mencoba menghirup udara kota Jakarta malam itu.

“Jakartaaa…!! Wanita Bandung itu mau telfon aku malam ini!” teriakku kegirangan dalam hati aja. Kalau aku teriak kenceng beneran malu dong diliatin orang-orang, kecuali mereka pura-pura jadi patung. Dikira orang gila dong aku.

Hahahahaha….

“Ini mobil butut bisa lebih cepat gak sih larinya? Keburu jam 9 nih..” aku mulai menggerutu sendirian di dalam mobil. Sesekali aku melihat waktu di jam tanganku. Layaknya gaya Ojan, aku membius jam tanganku. Tatap mata saya, berhenti.. berhenti.. Yaelaahhhh… waktu terus berputar.

Aduh… aduhh.. Hampir beneran aku tabrak pagar rumah kontrakanku. Kalau bisa sih ditabrak aja biar mobil ini langsung masuk. Hehehe…

Sesampai dirumah, aku langsung buru-buru mandi.

Sat set sat set... kelar deh! Lalu aku liat jam dinding rumahku, waduhh! Bentar lagi udah mau jam 9 nih. Agar tidak merusak kemesraanku bersama Manda nanti, aku kirim file script itu terlebih dulu ke Pak Erwin.

Aku klik tombol “kirim” pada layar laptopku itu. Yeaayyy…!! Aku bernapas lega. Nggak sia-sia emang tadi di coffee shop ngerjain naskah ini sampai ngerasa jompo banget. Aku melihat masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum tepat jam 9 malam Manda menelpon.

Aku teringat diriku belum makan malam deh kayanya.

Hmmm… Enaknya ngemil nih sambil telponan nanti, sabi kali ya. Aku mengambil jajanan favoritku, orong-orong yang udah aku beli satu laci meja kerjaku. Jangan ketawa, ini beneran! Di rumah atau di kantor cemilan ini selalu standby kalau aku pengen ngunyah.

Hehehe…

Kring.. kring... bukan call center, iya bukan mau lapor pajak nih!

Aku melihat dengan sangat jelas dan mataku terbelalak.

Incoming call, Manda.

Aku sengaja membiarkan panggilan masuk dari Manda berdering beberapa detik namun tidak akan aku biarkan sampai terlewatkan lagi. Ini hanya sebuah strategi yang biasa aku, kamu, dan kita lakukan. Gengsi dong kalau langsung angkat disaat dia telpon. Nanti dikira udah nungguin banget, padahal iya.. iya.. iya!

Hahahaha…

Wanita Bandung itu……

Aku terdiam, hening. Aku melihat detik pada panggilan itu berjalan.

“Kok nggak ada suaranya, ya?” ucap wanita Bandung yang berada dalam panggilan suara itu seraya kebingungan.

“Halo…” Manda menyapaku yang masih memilih diam.

Maaf, aku membeku. Kalau kata Tulus pada lagunya yang berjudul Jatuh Suka, sungguh terkunci kata yang tertata. Eaaaakk! Hahahahaha…

“Uhuuukkkk… uhuukkk…” tiba-tiba aku batuk. Bener-bener buat malu deh, malah batuk. Aku tersedak cemilan orong-orongku.

“Kamu kenapa?” tanya Manda khas dengan suara lembutnya itu.

Beginikah surga? Bayangkan bila kau ajakku bicara..

Suara Manda terdengar lembut sekali. Aku belum pernah mendengar suara selembut ini dari wanita manapun. Atau mungkin karna Manda wanita pertama yang aku dekati berasal dari kota kembang, Bandung.

“Nggak apa-apa kok. Tadi aku lagi ngemil sambil nungguin telfon dari kamu,” jawabku dengan suara sedikit gugup.

“Mending kamu minum dulu deh..”

Ya ampun, ini air putih kok rasanya kaya ada manis-manisnya gitu setelah disuruh minum sama Manda? Aku jadi curiga, air kobokan juga rasanya manis kalau diminum sambil telponan dengan Manda.

Hahahahaha…

“Udah kelar minumnya?” tanya bidadari yang berada dalam panggilan suara bersamaku.

“Udah kok. Kamu ngapain aja seharian ini?” tanyaku. Aku mencoba menciptakan obrolan manis di antara kami berdua.

Ciyeelaahhhhh…

Nyatanya udah gugup banget sih. Soalnya ini kali pertama ngobrol dengan cewe setelah lima tahun lamanya aku membujang.

“Hari ini aku nemenin temenku ketemu kliennya,” sahut Manda.

Temannya cowo atau cewe, ya? Kok aku jadi overthinking gini? Kan cemburu dong aku kalau dia jalan sama cowo.

Hahahahaha…

Tiba-tiba wanita Bandung itu menjelaskan, seolah suara hatiku tadi di dengar oleh semesta.

“Aku udah anggap dia kaya saudara kandungku. Namanya Reka Rahayu, dipanggil Reka. Dia baik banget tau anaknya. Nanti deh aku kenalin sama kamu ya…” Manda bercerita. Auto adem nih hati jadinya gak jadi cemburu.

“Salam ya sama Reka..” ucapku mencoba SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) gitu deh..

Kelemahanku banget nih, topik apa lagi yang harus aku bicarakan dengan Manda? Masa diem-dieman sih di telpon, kan gak lucu ya? Perasaan tadi aku udah menyiapkan bahan obrolan. Lain kali aku ketik aja deh di laptop biar gak kelupaan gini. Kok nge-blank sih?!

“Teteh... Udah makan malam?” tanyaku. Basa-basi yang biasa kita lakukan kalau udah gak tau lagi mau nanya apa. Hahahaha…

“Ihh… Kamu jangan panggil Teteh! Panggil Manda aja..”

“Kann.. kamu??”

“Apa? Karna aku lebih tua dari kamu? Atau aku harus sadar diri udah tua, gitu??” Manda menaikkan sedikit nada suaranya sambil diiringi tawa kecilnya yang terdengar sangat manis itu. Tapi Manda benar-benar terdengar tidak seperti marah. Suaranya lembut banget. Kalau baju kalian terbuat dari bahan cotton combed, aku jamin masih kalah dengan kelembutannya Manda yang melebihi serat kapas murni ini.

Hahahahaha….

Aku melanjutkan sambil menahan tawa.

“Kan kita beda 3 tahun, bukannya jauh ya perbedaannya??” aku mencoba memancing dirinya untuk marah. Kayanya sih berhasil.

“Ihh... kesel jeung anjeun!!” ucap Manda yang berhasil membuatku tertawa lepas di dalam panggilan suara itu.

Cieee… ngambeknya pakai bahasa daerah. Manda bilang, kesel deh sama kamu! Itu artinya.

Hahahahaha….

Suasana mulai mencair sepertinya aku tidak kaku lagi. Kata yang tertata namun terkunci itu telah berhasil terbuka karna udah dibuka oleh pemegang kuncinya, Manda.

Ciyeelaaahhhh…

Kami larut dalam obrolan dan canda tawa kami berdua. Gelombang elektromagnetik itu berhasil mengirimkan cinta dan kasih sayang dariku untuk bidadari yang selama ini disimpan oleh Tuhan di Kota Bandung.

Perlahan suara Manda terdengar kecil dari speaker ponselku. Kenapa ya? Aku melihat di layar ponselku, panggilan masuk dari Pak Erwin di aplikasi Whatsapp.

Yaa ampunnn!! Cobaan apalagi sih ini? Kenapa hamba harus diusik mulu dengan naskah-naskah menyebalkan itu? Kenapa dadakan kaya tahu bulat yang digoreng dadakan sih?! Aku meng-kesel di dalam hati aja jangan sampai Manda tau kalau atasanku barusan menelponku.

Malam itu aku terlintas buat ganti kontak Pak Erwin jadi Tahu Bulat Dadakan. Oh, atau jadi Tahu Gejrot. Adakah karyawan yang memiliki keberanian menamai atasannya seperti itu di kontak Whatsapp?

Hahahaha…

For your information walau mungkin nggak penting. Pak Erwin yang paling tampan, atasanku ini memang nge-fans banget sama tahu. Dia sampai punya tempat langganan sendiri di Jakarta ini setiap kali pengen makan tahu. Dan aku cukup sering diajakkin sambil membahas ide-ide untuk sebuah naskah.

Lagi mabok asmara, jadi aku memilih untuk mengabaikan panggilan masuk dari Pak Erwin. Entah apa yang akan terjadi besok di kantor setelah aku mengabaikan satu panggilan masuk dan dua pesan singkat dari Pak Erwin. Aku juga sengaja tidak membaca pesan singkat dari Pak Erwin biar dia mengira kalau aku udah tertidur malam ini.

Hmmm… Memang sebuah taktik gerilya ini mah. Pura-pura baru read pesannya setelah udah berada di kantor besok.

Hahahahaha…..

Dan malam ini terasa begitu indah. Nasi basi pun rasanya seperti silverquin.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Bagikan Artikel Ini
img-content
Acha Hallatu

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Pengin Punya Rumah di Jakarta

Senin, 3 Juni 2024 08:38 WIB
img-content

Aku Kembali

Minggu, 2 Juni 2024 06:48 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua