x

Perbuatan benar dan baik

Iklan

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Jumat, 8 Desember 2023 19:27 WIB

Empat Nyawa Anak Melayang, Cermin Kemiskinan Nyata di Indonesia?

Empat anak meregang nyawa, adalah bukti kemiskinan nyata yang masih mendera +62.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Orang terdekat, keluarga, teman, sahabat, rekan kerja, tentu akan sangat paham dan memahami, sejatinya diri saya apakah masih terkatogori miskin pikiran, miskin hati, miskin harta, secara fakta? Menjalani hidup dan kehidupan, seeorang manusia wajib berilmu. Jangan sampai kita mempunyai banyak harta, bahkan mampu memberikan warisan tanah, rumah, harta benda serta kedudukan/jabatan kepada anak hingga cucu, tetapi tidak ada ilmu tentang bagaimana menjadi manusia dalam hidup dan kehidupan di dunia sebagai makhluk pribadi, makhluk beragama, makhluk bersosial, makhluk berkeluaraga dan kekeluargaan, makhluk bermasyarakat dan bernegara, makhluk berbudaya, makhluk berekonomi, dan lainnya yang dapat kita wariskan. (Supartono JW.08122023)

Kisah tragis, empat anak ditiadakan nyawanya, apakah oleh orangtua sendiri atau orang lain, masih dalam penyelidikan polisi, semakin mendeskripsikan betapa "kemiskinan" di Indonesia khususnya, dan dunia pada umumnya, itu sangat berbahaya dan membahayakan bagi kehidupan manusia baik di dunia mau pun untuk bekal menuju akhirat. Mirisnya, dalam memahami kemiskinan, sampai detik ini, di sebagian besar masyarakat +62, terus berkutat pada paradigma bahwa miskin itu sama dengan kekurangan harta benda atau ketidakmampuan seseorang mencapai suatu kebutuhan hidup tertentu. Ini membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia juga masih miskin.

Artinya, masih gagal mengentaskan sebagian besar rakyat Indonesia, lepas landas dari kemiskinan akal, kemisikinan intelegensi. Ujungnya berakibat pada lahirnya manusia-manusia yang miskin personality, alias miskin hati. Kemiskinan-kemiskinan tersebut, secara kasat mata, dapat dilihat di pangung-panggng drama kehidupan sebenarnya, di semua lini dan segi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegera, seperti dari wujud perkataan, sikap, hingga perbuatan seseorang.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Dan ini, lebih berbahaya serta lebih membahayakan daripada seseorang hanya sekadar miskin harta. Lebih memprihatinkan lagi, selain drama empat anak ditiadakan nyawanya, pentas drama kemiskinan-kemiskinan di kehidupan sebenarnya, di semua lini dan segi kehidupan ini dapat ditonton dan ditemukan mulai dari lingkungan terkecil dalam sebuah keluarga, perkumpulan kekeluargaan, lingkungan Rukun Tetangga (RT), lingkungan Rukun Warga (RW), lingkungan pekerjaan, lingkungan yang bernama perwakilan rakyat dan lingkungan pemerintahan mulai daerah sampai pusat, dari rakyat yang tergolong jelata hingga manusia yang dilabeli elite negeri.

Sementara, dalam ajang Pilpres, masyarakat juga mulai dapat membaca, mana para calon dan pendukung yang yang benar-benar kaya pikiran, kaya hati. Mana yang sudah mulai terdeteksi miskin pikiran dan hati, di luar kekayaan harta halal yang mereka miliki. Bukan harta dari drama berbagi karena ada kepentingan-kepentingan.

Miskin dan kemiskinan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), miskin adalah tidak berharta, serba kekurangan. Karenanya tidak salah bila sebagian besar masyarakat Indonesia memahami miskin itu, adalah tidak berharta. Padahal ada arti lain dari miskin, yaitu serba kekurangan yang saya artikan bukan sebatas hanya berpenghasilan sangat rendah. Serba kekurangan, secara fakta akibat dari miskin, maka akan kekurangan di berbagai lini kebutuhan manusia, terutama kurang dalam hal pendidikan yang buntutnya, lahir manusia-manusia yang belum memenuhi syarat sebagai makhluk pribadi, makhluk beragama, makhluk bersosial, makhluk berkeluaraga dan kekeluargaan, makhluk bermasyarakat dan bernegara, makhluk berbudaya, makhluk berekonomi, dan lainnya.

Dalam berbagai literasi dan ajaran agama, juga ditulis serta diajarkan bahwa miskin dapat diindentifikasi sebagai miskin ilmu, miskin akhlak, dan miskin hati. 1) Miskin ilmu. Menjalani hidup dan kehidupan, seeorang manusia wajib berilmu. Untuk memperoleh ilmu, dapat dengan "membaca" atau menempuh jalur pendidikan. Juga dapat diperoleh dari mana saja dan dari siapa saja, terpenting melalui proses belajar atau pendidikan. Jangan sampai kita mempunyai banyak harta, bahkan mampu memberikan warisan tanah, rumah, harta benda serta kedudukan/jabatan kepada anak hingga cucu, tetapi tidak ada ilmu tentang bagaimana menjadi manusia dalam hidup dan kehidupan di dunia sebagai makhluk pribadi, mahkluk beragama, makhluk bersosial, makhluk berkeluaraga dan kekeluargaan, makhluk bermasyarakat dan bernegara, makhluk berbudaya, makhluk berekonomi, dan lainnya yang dapat kita wariskan, karena miskin ilmu tentang hidup dan kehidupan di dunia dan untuk di akhirat.

2) Miskin akhlak. Miskin akhlak ini dapat diidentifikasi pada seseorang yang sikap dan perbuatannya tidak memedulikan baik atau buruknya perkataan dan perbuatannya. Cenderung bersikap dan berbuat sesuka hati. tanpa memperhatikan dan mempedulikan orang lain, atau lingkungan sekitarnya. Orang yang miskin akhlak, mudah ringan mulut, tangan, dan kaki untuk tidak menerapkan adab dalam bersikap dan bertindak.

3) Miskin hati. Bila kita, tidak memiliki atau belum cukup ilmu tentang bagaimana menjadi manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia sebagai makhluk pribadi, mahkluk beragama, makluk bersosial, mahkluk berkeluaraga dan kekeluargaan, makhluk bermasyarakat dan bernegara, makluk berbudaya, makluk berekonomi, dan lainnya, maka dapat disebut kita tergolong orang yang miskin ilmu.

Saat kita dalam kondisi miskin ilmu sebagai manusia sebagai makhluk pribadi, mahkluk beragama, makluk bersosial, mahkluk berkeluaraga dan kekeluargaan, makhluk bermasyarakat dan bernegara, makluk berbudaya, makluk berekonomi, dan lainnya, apakah kita akan mampu menjadi orang yang kaya hati? Jawabnya, dapat saya katakan mustahil. Terlebih, saat kita dalam kondisi miskin atas ilmu-ilmu tersebut, betapapun banyaknya harta, setinggi apa pun jabatan dan kedudukan, semua itu tidak akan berarti, sebab biasanya kita akan signifikan menjadi orang yang miskin hati pula.

Sudah terbukti, dalam kehidupan ini, orang-orang yang terkategori masih miskin hati, dapat dengan mudah diidentifikasi, sikap, perbuatan, dan tindakannya biasanya, kikir, pelit, tidak peduli, tidak tahu diri, tidak punya simpati, tidak punya empati, maunya dimengerti, tidak sopan, tidak santun, tidak bertanggung jawab, sombong, tidak tahu berterima kasih, tidak berbudi, tidak tahu malu, hingga disimpulkan tidak rendah hati.

Semoga, dalam memahami kemiskinan, masyarakat +62 segera dapat ke luar dari paradigma bahwa miskin itu sama dengan kekurangan harta benda atau ketidakmampuan seseorang mencapai suatu kebutuhan hidup tertentu. Tetapi semakin memahami bahwa miskin itu berakibat pada lahirnya manusia-manusia yang miskin personality, alias miskin hati.

Sekali lagi, orang terdekat, keluarga, teman, sahabat, rekan kerja, tentu akan sangat paham dan memahami, sejatinya diri saya apakah masih terkatogori miskin pikiran, miskin hati, miskin harta, secara fakta? Menjalani hidup dan kehidupan, seeorang manusia wajib berilmu. Jangan sampai kita mempunyai banyak harta, bahkan mampu memberikan warisan tanah, rumah, harta benda serta kedudukan/jabatan kepada anak hingga cucu, tetapi tidak ada ilmu tentang bagaimana menjadi manusia dalam hidup dan kehidupan di dunia sebagai makhluk ribadi, mahkluk beragama, makhluk bersosial, makhluk berkeluaraga dan kekeluargaan, makhluk bermasyarakat dan bernegara, makhluk berbudaya, makhluk berekonomi, dan lainnya yang dapat kita wariskan. Empat anak meregang nyawa, adalah bukti kemiskinan nyata yang masih mendera +62.

Ikuti tulisan menarik Supartono JW lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu