x

Calon Presiden Prabowo Subianto (tengah) berfoto bersama para relawan dalam acara deklarasi dukungan kelompok relawan Matahari Pagi kepada Prabowo-Gibran di Kertanegara 4, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu, 18 November 2023. TEMPO/HAN REVANDA PUTRA

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Jumat, 8 Desember 2023 19:33 WIB

Pemilu 2024: Tak Ada Lagi Politik Identitas, Diganti Wabah Gimik

Gimik telah menggeser hakikat kontestasi dari ke kontes gagasan ke lomba kemasan. Jadinya kampanye Pemilu tak membuat rakyat lebih literate secara politik. Stop gimik dan fokus pada gagasan. Ini Pemilu, bukan panggung komedian!

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Jauh sebelum memasuki fase kampanye banyak pihak mengkhawatirkan Pemilu 2024 khususnya di tahapan kampanye bakal kembali disesaki isu-isu politik identitas. Isu jenis itu akan mengarahkan masyarakat pada situasi pembelahan, polarisasi.

Sejauh ini kekhawatiran itu tidak terbukti. Kita bersyukur tentu saja. Dengan demikian potensi Pemilu bakal berlangsung panas oleh sebab bara api pertengkaran dan perpecahan berbasis suku, agama, ras, dan antar golongan tidak akan kembali muncul. Semoga ini menjadi penanda pemilih kita makin dewasa, cerdas dan rasional.

Sayangnya, di tengah kecenderungan meredupnya isu SARA (dan ini, sekali lagi sangat bagus), ruang kampanye Pemilu 2024 kini disesaki oleh fenomena baru, setidaknya di pentas perhelatan elektoral. Fenomena dimaksud adalah gimik, "tipu-muslihat" (menurut pengertian KBBI), yang makin menjadi primadona para elit politik untuk meraih perhatian, simpati dan dukungan pemilih.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Gimik dan Budaya Kemasan

Dalam kamus bahasa kita, kosakata Gimik dimaknai sebagai "gerak-gerik tipu daya aktor untuk mengelabui lawan peran"; sesuatu (alat atau trik) yang digunakan untuk menarik perhatian; sudut pengambilan khusus untuk menarik perhatian pemirsa dalam produksi program siaran" (https://kbbi.kemdikbud.go.id).

Muasal sejarah penggunaanya, gimik (gimmick) memang lazim dipakai dalam dunia peran (seni) dan marketing (ekonomi). Dalam seni peran, gimik digunakan aktor atau karakter untuk mengelabui lawan perannya. Bisa juga digunakan oleh tim kreatornya (pengarah, kameramen, properti, artistik dll), entah melalui tampilan, aksi-aksi pentas, atau sudut pengambilan gambar.

Dalam dunia marketing, gimik digunakan para perancang pemasaran untuk menampilkan produk-produk jualannya sedemikian rupa sehingga menarik calon konsumen. Bisa dalam bentuk kemasan atau cara mempromosikan. Fokusnya adalah penggunaan kreatifitas yang "berbeda" atau "anti-mainstream", yang dengan cara demikian calon konsumen dengan mudah terpikat dan memutuskan untuk membeli produk tersebut. Isi dan kualitas produk urusan belakangan.

Ringkasnya, gimik adalah istilah umum yang merujuk kepada pemanfaatan kemasan, tampilan, alat tiruan, serangkaian adegan untuk mengelabuhi, memberikan kejutan, menciptakan suatu suasana, atau meyakinkan orang lain, dengan mengesampingkan aspek isi dan substansi.

Fenomena "yang penting kemasan, tampilan dan adegan" itulah yang saat ini tengah berlangsung di pentas kampanye Pemilu 2024. Dan agak konyol, cara ini nampaknya diminati oleh banyak orang, meski disadari atau tidak, cara-cara ini bisa menipu dan mengelabui. Respon masyarakat yang cenderung permisif atau bahkan positif terhadap model-model gimik ini boleh jadi ada kaitannya dengan "budaya wadah" atau "budaya kemasan" yang kuat dalam masyarakat kita.

Eduardo Galeano, seorang jurnalis top Uruguay, menjelaskan dalam "budaya wadah" atau "budaya kemasan" pemakaman lebih penting daripada kematian, pernikahan lebih penting daripada cinta, dan tampilan fisik lebih penting ketimbang kecerdasan. Ringkasnya, dalam "budaya wadah" kemasan dan tampilan dikedepankan, sementara isi dan substansi dihempaskan ke tepian akal sehat.

 

Muslihat Berburu Suara

Kembali ke konteks kampanye Pemilu 2024. Regulasi Pemilu memang tidak melarang para kontestan dan kandidat menggunakan gimik dalam upaya membidik perhatian, meraih simpati dan akhirnya meraup dukungan suara pemilih. Dalam bentuk dan model apapun gimik itu dirancang.

Selama tidak mengandung konten SARA, menebar fitnah dan kampanye hitam, mempersoalkan ideologi Pancasila, serta materi-materi lain yang bertabrakan dengan regulasi disilahkan, tidak dilarang. Bahkan misalnya seorang kandidat Capres atau Cawapres mau koprol atau jumpalitan setiap tampil di panggun kampanye juga silahkan saja. Yang penting menarik perhatian pemilih. Bebas, ini (kampanye Pemilu)  demokrasi !

Hanya saja, sejumlah resiko buruk dan sama sekali tak sehat secara politik bisa muncul ketika gimik menjadi andalan para kandidat, termasuk partai politik dalam memburu dan meraih suara pemilih. Dampak buruk dan tak sehat dimaksud misalnya berikut ini.

Pertama, gimik (terutama ketika menjadi andalan, menjadi prioritas strategi kampanye) bisa menggeser hakekat kontestasi dari kontes gagasan dan program-program substantif ke kontes kemasan, cangkang dan tampilan yang tidak ada hubungannya dengan urusan memperbaiki keadaan negara bangsa ke depan.

Kedua, gimik yang memperoleh respon positif dari masyarakat juga bisa menjadi arus balik yang  buruk  bagi para kandidat dan partai politik. Mereka, karena merasa sudah "cocok dan nyaman" dengan model kampanye bergimikria akhirnya lupa bahwa sesungguhnya mereka dituntut untuk menyampaikan gagasan-gagasan visioner, pikiran-pikiran solutif dan menghidupkan optimisime rakyat dengan cara rasional, obyektif dan realistis.

Ketiga, secara politik gimik sama sekali tidak mengedukasi masyarakat untuk menjadi literate (melek) secara politik, kebangsaan dan kenegaraan. Gimik hanya menghibur, dan boleh jadi hiburannya juga semu, sekedar menjadi semacam "oase" palsu di tengah kepengapan hidup masyarakat menghadapi berbagai problematika sosial dan banalitas kekuasaan yang memuakan.

Maka, ayolah para kandidat dan partai-partai politik, kurangi gimik, stop "tipu-tipu" dengan kemasan dan tampilan. Beralihlah dan fokus pada gagasan. Ini Pemilu, bukan panggung komedian !

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Numerik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu