x

ilustr: thegypsythread.org

Iklan

Wahyu Umattulloh AL

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 5 Maret 2022

Jumat, 29 Desember 2023 17:38 WIB

Sepi yang Membunuh

Dirimu yang hakiki hanya diliputi kesendirian. Kalau saja sendiri ini dan kesendirian itu niscaya engkau tak lain sendiri, tiada orang lain selain diri-Ku

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

SEPI YANG MEMBUNUH

Dirimu yang hakiki hanya diliputi kesendirian.
Kalau saja sendiri ini dan kesendirian itu niscaya
engkau tak lain sendiri, tiada orang lain selain diri-Ku
“.

   Sebuah hutan di tengah gunung adalah gambaran hidup yang sendiri dan menyendirikan dari kecamuk dalam batin. Gambaran hidup adalah keheningan tabu gunung meru. Lautan sabananya harapan luas. Pepohonannya sebagai mimpi, bunga edelweissnya kesendirian, mata airnya semangat bergejolak. Ia di tengah lembah sendiri dan kesendirian.

     Hidupmu adalah sebuah gunung yang tegak dan terlepas dari segala punjuru wilayah. Sekalipun kau berjalan terbungkuk dengan ransel dan bebanmu menuju bukit-bukit yang lain, atau banyak pohon menjulang di sekitaranmu, engkau tetaplah sebuah manusia sunyi dalam kepedihannya, terpojokkan dalam kebahagiaannya, jauh dalam kerinduannya dengan segala rahasia dan misteri yang tak terjamah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

     Aku melihatmu duduk di atas bukit emas. Engkau gembira dengan kesempurnaan mu, besar dengan wajah maskulin serta merasa dalam tiap tangkup emas terdapat tali yang menghubungkan pikiran manusia dengan angan mu, menjerat keinginan mereka dengan kemauaan mu. Bagai seorang penguasa aku menatap kosong bola mata mu yang dihuni lamunan semu. Kau memimpin para wanita yang bersimpuh menuju ruangan kokoh untuk menguasainya. Tetapi aku melihat mu sekali lagi, terlihat sepotong hati yang risau dalam sendiri dan kesendiriannya di balik senyum palsu, serisau burung kehausan di sangkar emas dan perak tanpa air setetespun.

    Aku melihat manusia di sekitaran mu menyanyikan nama mu dan mengagung-agungkan kebaikan mu. Mengenang pemberianmu, memandang kepada mu seakan mereka di hadapan ratu adil yang memberikan keteduhan dengan tekadnya mengitari bintang dan rembulan. Sementara engkau memandang mereka hanya sebagai derajat jiwa bagi raga. Tetapi manakala aku melihat mu sekali lagi, aku melihat sosok dirimu kesepian, berdiri sendiri di pojok ruangan itu dan merintih oleh keterasingan, mendesah oleh kesepian akut.

       Aku melihat sosok dirimu menjulurkan tangan memelas kasih ke semua sudut-sudut kota raya, mengemis pada bayang-bayang yang tak terlihat. Aku melihatnya memandang dari atas kepala manusia pada suatu tempat jauh, pada sebuah tempat yang sepi, terkecuali sendiri dan kesendiriannya. Aku melihat dan merasakan kesendirian itu dipanasnya Kota serta didinginnya Desa.   

      Aku melihat mu dimabuk asmara pada seorang Juita dan hatimu yang meleleh engkau kucurkan pada lesung pipinya, engkau memenuhi telapak tangannya dengan kecupan bibirmu. Sedangkan Juita melihatmu dengan sinar kasih sayang yang terpancar di matanya. Lantas aku membatin, cinta kasih telah mengakhiri kesendirian lelaki itu dan hilanglah kesendiriannya, maka tersambung kembali dengan Keagungan Kekasih yang membuat hati mu sesuci altar.

     Kulihat kedua kalinya nampak lipatan hatimu dimabuk cinta bagaikan hati yang ingin meluapkan rahasia-rahasia pada Juita, namun kau tak kuasa. Aku melihat ada cinta mencair di balik diri mu yang lain, seperti halimun yang ingin berubah pada tetesan air mata di tangkup kekasihmu, namun sekali lagi dirimu tak kuasa. Hidupmu bagaikan rumah sunyi jauh dari permukiman dan perkampungan.

          Hidupmu adalah rumah yang jauh dari kenyataan dan pemandangan kasat mata. Jika hunian mu gelap, maka engkau tak mampu meneranginya dengan lampu orang lain sekalipun milik kekasih mu. Jika itu kosong maka engkau tak mampu mengisinya dengan kekayaan milik mu. Jika rumah mu di puncak gunung, maka engkau tak bisa memindahkannya ke lembah yang dilintasi kaki-kaki manusia selian kakimu sendiri. Sekalipun itu terbangun di tengah gurun, maka engkau tak dapat memindahkannya pada sebuah taman yang di penuhi kembang dan orang lain selain dirimu.

       Dirimu yang hakiki hanya diliputi kesendirian. Kalau saja sendiri ini dan kesendirian itu niscaya engkau tak lain sendiri, tiada orang lain selain diri-Ku. Bilamana sendiri ini dan kesendirian itu niscaya engkau mendengar suaramu, kauduga Aku yang berbicara. Sekalipun kau lihat wajahmu, engkau bayangkan diri-Ku yang memandangimu di dalam cermin.

Surabaya-Babatan V, 18 Desember 2023.

Penulis:

Wahyu Umattulloh AL . 

Ikuti tulisan menarik Wahyu Umattulloh AL lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu

Terkini

Terpopuler

Pagan

Oleh: Taufan S. Chandranegara

3 hari lalu