x

Prof. Dr. Abdul Hadi WM

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Senin, 22 Januari 2024 17:50 WIB

Mengenang Abdul Hadi WM: Persatuan Terancam Karena Pengingatnya Melulu Politik

Kiprah Prof. Dr. Abdul Hadi WM sebagai budayawan tak cuma di tingkat lokal. Sosok dan karyanya mendunia. Gagasannya tentang sastra sufistik dibawanya dalam sikapnya sebagai budayawan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Prof. Abdul Hadi  WM wafat pada usia 78 tahun. Lelayu saya baca pada 19/1 pukul 06.20 WIB di grup WhatsApp “Forum Literasi Indonesia” dari unggahan sahabat Erfik Firmansyah. Isinya meneruskan kabar duka dari putri budayawan  Prof. Dr. Abdul Hadi WM.  Selengkapnya sebagai berikut.

Innalilahi wa innailaihi rojiun.

Telah wafat ayahanda kami Prof Dr Abdul Hadi WM pada pukul 3.36 dini hari.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Jenasah akan disemayamkan di rumah duka: Vila Mahkota Pesona Jatiasih, Bojong Kulur dari RSPAD Gatot Subroto. Dan rencananya akan dimakamkan di taman pemakaman setempat ba'da salat Jumat.

Mohon doa dari teman teman semua ya.

GAYATRI MUTHAHHARI

Budayawan  yang kiprahnya mendunia ini mewariskan ragam pemikiran tidak saja di jagat sastra ladang awalnya ia dikenal. Namun, merambah antara lain ke khasanah filsafat, ekonomi, juga politik. 

Dalam diskusi Forum Ekonomi Politik Didik J. Rachbini melalui Twitter Space pada 2021, penyair Meditasi yang memiliki nama lengkap Abdul Hadi  Wiji Mustari ini pernah melontarkan ungkapan yang menyengat pada diskusi tersebut.

“Pembelahan sosial saat ini akibat melulu hanya membicarakan politik kekuasaan, maka yang terancam adalah persatuan kita,” ujar  Guru Besar Falsafah dan  Agama Universitas Paramadina, Prof. Abdul Hadi Wiji Mustari.

Dalam diskusi saat itu, Prof. Dr. Abdul Hadi WM juga menyinggung, kebinnekaan merupakan realitas, tidak terancam tetapi karena kebhinnekaan tidak dijaga maka persatuan kita terancam karena pengingatnya melulu politik, bukan kebudayaan. Padahal  kebudayaan itu sesuatu yang luas. Ia  tidak hanya berbicara aspek kesenian dan adat istiadat. Pencapaian-pencapaian Iptek, filsafat, teknologi adalah juga rangkuman dari kebudayaan.

“Jadi sekarang masalahnya adalah bagaimana memberdayakan kembali kebudayaan agar kuat dan memperkuat persatuan. Seperti Jepang kebudayaannya kuat dan menjadikan negara itu kuat.” ujarnya.

Abdul Hadi menyatakan bahwa saat ini kita lupa untuk mengembangkan kebudayaan dalam alam pikiran masyarakat Indonesia. Bagaimana dampaknya?

“Akibatnya segala tingkah laku masyarakat, cara berpikir, cara pandang tidak lagi mencerminkan kebudayaan unggul. Hal itu merupakan tanggungjawab sosial dari Pemerintah dan masyarakat sipil secara umum,” katanya.

Menyoroti sistem ekonomi yang hanya mengambil satu sudut kapitalisme saja dan dijalankan di semua pelosok Indonesia. “Padahal kehidupan sosial ekonomi pedesaan kita sejak dulu tidak mengenal sistem ekonomi liberal,” ujar Hadi. 

Ia juga mengungkapkan penyeragaman sistem perundang-undangan, yang juga dipaksakan dan tidak mengikuti alur budaya masyarakat lokal.

Terkait bahasa dan kebudayaan Abdul Hadi mengeluhkan  sejak zaman penjajahan Belanda bahasa lokal kita “dibunuh” dan kemampuan berbahasa kita hanya diperkenalkan dengan huruf latin.

“Padahal budaya dan Bahasa kita sejak lama hanya mengenal empat Bahasa, Bahasa Arab, Bahasa Melayu, Arab Melayu dan Bahasa Jawa pada kesusasteraan dan tinggalan warisan kerajaan-kerajaan di Jawa sebagai lingua franka (Bahasa pengantar),” tuturnya.

Abdul Hadi pun menyarankan agar kita belajar dari kebudayaan orang Jepang yang amat memperhatikan perkembangan Bahasa. Ia mencontohkan Restorasi Meiji di Jepang justru memulai dengan memuliakan kebudayaan dan perkembangan Bahasa Jepang.

Oleh karena kuatnya mempertahankan kebudayaan dan bahasa maka masyarakat di Jepang dari atas hingga ke kalangan bawah mempunyai cara pandang yang sama dalam menghadapi arus perubahan atau modernisasi.

“Berbeda dengan bangsa kita yang gampang sekali larut atau berubah kepribadian gara-gara arus kebudayaan modern barat yang masuk dan tidak ada filter penyaring kebudayaan, terpokok melalui pertahanan Bahasa unggul,” kata dia.

Ia juga mengingatkan agar kita tidak meremehkan perihal pertahanan budaya melalui bahasa, juga kesusastraan. Substansi bahasa ada dalam Sastra.

“Kalau Bahasa bisa dipertahankan dengan baik, maka kemampuan berbahasa anak bangsa bisa digunakan dengan baik untuk berekspresi dan berpikir. Karya-karya sastra unggul jaman dulu lahir dari kemampuan berbahasa yang tinggi dari para pendahulu kita. Intipati kebudayaan itu selalu kreatif dan ada 3 intipati yakni: Kecerdasan, Kebajikan, Kreatifitas.

“Selama itu dipelihara oleh bangsa kita maka kita akan bisa bersaing menjadi bangsa besar. Bijaksana dengan mengambil pelajaran dari masa lampau, pelajari sastra dan apa yang berkembang di Masyarakat, ” ujarnya.

Sastra Profetik

Abdul Hadi WM lahir di Madura pada 24 Juni 1946. Ia merupakan budayawan dan akademisi yang mencetuskan Sastra Profetik  pada sekitar 1976, bersama Kuntowijoyo dan Sujiro Satoto, agar sastra kembali kepada kebersihan hati, kembali ke akar budaya Indonesia, tidak perlu berkiblat ke barat.

“Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang saya rasakan. Sedangkan Taufik Ismail menekankan sisi moralistisnya,” kata Abdul Hadi menangkis anggapan orang yang menyebut dirinya seperti sastrawan Taufik Ismail terkait bentuk karya-karyanya.

Abdul Hadi W.M. menerima penghargaan atas prestasinya dalam bidang penulisan puisi, misalnya dari majalah sastra Horison atas sajaknya "Madura" (1968). Hadiah Buku Puisi Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta diperoleh Abdul Hadi W.M. pada tahun 1977 atas buku kumpulan sajaknya “Meditasi” (1976).

Pemerintah Republik Indonesia, melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, memberi Hadiah Seni bagi Abdul Hadi atas prestasinya dalam penulisan sajak (1979). Tidak ketinggalan, Pemerintah Kerajaan Thailand melalui Putra Mahkota, di Bangkok, memberi Hadiah Sastra ASEAN kepada Abdul Hadi W.M. pada tahun 1985 atas karyanya berjudul “Tergantung Pada Angin” (sajak, 1983).

Abdul Hadi W.M. pernah mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City, Amerika Serikat (1973—1974), mengikuti London Poetry Festival, di London, Inggris (1974), menghadiri Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1974), mengikuti Festival Shiraz, Iran (1976), Konferensi Pengarang Asia Afrika, Manila, Filipina (1976), mengikuti Mirbad Poetry Festival, Bhagdad (1989), dan masih banyak pertemuan sastra dan festival puisi regional dan internasional yang diikutinya, termasuk di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

Sebagai seorang pelaku dan pemikir kebudayaan, Abdul Hadi pernah menjadi redaktur Gema Mahasiswa (terbitan UGM, 1967—1969), redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Tengah di Yogyakarta (1969—1970), redaktur Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat di Bandung (1971—1973), redaksi majalah Dagang dan Industri (IKADIN, 1979—1981), redaktur pelaksana majalah Budaya Jaya (1977—1978), pengasuh lembaran kebudayaan "Dialog" Harian Berita Buana (1978—1990), Staf Ahli Bagian Pernaskahan Perusahaan Negara Balai Pustaka, dan Ketua Harian Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (1984—1990).

Abdul Hadi WM, tercatat sebagai  perintis berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) bersama Allahuyarham, Djazman al-Kind. ***

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan