x

Bidak Catur

Iklan

Slamet Samsoerizal

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 30 Maret 2022

Selasa, 23 Januari 2024 07:26 WIB

Ada Gajah di Pelupuk Mata, tapi Malah Tak Kelihatan

Pernah mendengar ungkapan berbahasa Jawa “esuk kedele,  sore tempe?” Ungkapan ini ternyata pas untuk menganalogikan dengan perilaku sosial yang terjadi jelang Pemilu 2024. Banyak tokoh yang semula kontra dengan sosok tokoh A misalnya, sekonyong-konyong berbalik 179 derajat. Mereka pro, sepro-pronya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ada yang amnesia, bahwa dulunya dulu, ia adalah sosok pejuang, pemberontak yang melawan kemapanan. Lho tetiba, kita menyaksikan dengan pongahnya ia merapat ke ruang yang dulu dinyinyiri, tanpa risi. Risi yang dimaksud ya risi dengan kawan-kawan seperjuangannya. Ia melenggang di atas karpet merah dengan senyum menjijikkan. 

Plinplan tampaknya cocok lain untuk menamakan perilaku yang suka mencla-mencle! Memirsa polahnya asgo (asal goblek) dan yang paling mengkhawatirkan adalah ucapan atau pernyataannya yang ngablu  alias asal-asalan.

Adakah yang diharapkan dari sosok begini? Ada tentunya, terutama buat kepentingan diri. Lalu, teriakannya yang saat unjuk rasa dengan lantang alih-alih  vokalis metal, punk, rock apa memang representasi dari suara rakyat? Sejatinya, mereka tidak sedang memperjuangkan yang diperjuangkan. Namun, sedang latihan memviralkan diri demi popularitas. Demi cari muka. Demi cari celah agar ia bisa masuk ke ruang yang sejuk dan bikin betah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Nenek moyang kita jauh-jauh hari cerdas berperibahasa “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.”  Kamus Besar bahasa Indonesia daring mengartikan peribahasa tersebut dengan: “Kesalahan (kekurangan orang lain walaupun kecil sekaliakan kelihatan, tetapi kesalahan (kekurangan) sendiri (meskipun besar) tidak kelihatan.”

Ironinya, pemilik makna peribahasa ini adalah mereka yang dulu kita kenal sebagai hero yang heroik seakan membela kepentingan rakyat. Sampai pada saat yang ditunggunya tiba dan jabatan dipeluknya, maka kepikunan melanda. Mereka lupakan agenda yang dulu selalu diteriakkan atas nama rakyat. Mereka tak mendengar keluhan derita rakyat, sebab di tempat yang sejuk semua celah tertutup. Mereka asyik dan menikmati perjuangannya.

Peristiwa dalam bentuk perilaku menyimpang memang sedang terjadi dan mempertonkan diri dengan terbuka dan sengaja. Semua jenis manusia itu, hampir tak cela bagi mereka. Terbukti ucapan-ucapannya selalu dikutip media. Sosoknya jadi rebutan sebagai oposisi dengan kemapanan. Hanya karena seringnya tampil, mereka lupa bahwa ilmu yang disampaikan  harus terus di-update.

Karena pernyataan dan  perilaku makin berdampak bikin ger, maka menonton Cak Lontong atau komika alumni Stand Up Comedy sudah tidak lucu. Kelucuannya sudah diambil alih mereka. Ada yang dulu suka mencaci, kini memuji-muji. Saat dikonfirmasi dalam sebuah acara di stasiun tv, dengan santai dia bilang: "Ini kan demi bangsa dan negara!" 

Pemuja dan pencaci  bedanya cuma sekulit ari. Keduanya menjadi budak-budak cinta bagi kekuasaan pada diri dan luar dirinya.  Mereka suka berseteru saat berdebat. Apalagi menyangkut ideologi, konsep, dan belakangan bakal calon yang dijagokannya.

Di mata pemuja, sosok yang diunggulkannya adalah insan kamil. Tak ada aib sedikit jua. Pemujaannya kadang membutakannya dalam segala sisi.  Itu sebabnya, jika ada yang mencaci sosok yang dipujanya, ia rela berkorban jiwa raga.

Di mata pencaci, segala yang baik tak pernah tampak saat mereka menyoroti pesaing sosoknya. Fakta dari sosok yang dicaci berubah fiksi.  Fakta bahwa ada prestasi, dilabelinya dengan ilusi. Fiksi yang dibangun dipaksakan untuk ditaati.

Debat yang mengemuka menampilkan sebuah keegoan. Kebanggaan dan kepintaran yang disuguhkan penuh drama yang bikin mulut jadi  ngakak dan  perut tambah mules.  Konsep diusung. Janji-janji  didengung. Seperti pria yang kasmaran  demi cintanya pada sang wanita pujaan yang   mengatakan gunung kan kudaki; padahal  encok-rematik yang belakangan populer dengan sebutan asam urat adalah penyakit kronisnya. Walaupun di dunia ini 7 benua dan 5 samudera, mereka pun dengan lebay akan bekoar: “9 benua akan kujelajahi dan 9 samudera akan kuarungi demi dikau Adindaku.” Pret!

Memang, belajar konsisten perlu niat. Belajar berperilaku biasa-biasa, perlu proses. Menyikapi tentang pilihan upayakan tidak masuk ke golongan pemuja atau pencaci. Mengemukakan dengan nalar kritis, tidak hanya memerlukan sejumlah fakta dan menuduh bahwa fiksi itu cuma imajinasi. Hal yang diperlukan adalah manusia Indonesia yang literat. ***

 

 

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Slamet Samsoerizal lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler