x

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Rabu, 14 Februari 2024 16:21 WIB

Akhirnya, Jejak Konspirasi dan Syahwat Kuasa

Dirty Vote mestinya bisa membuka pintu kesadaran nurani dan kewarasan akal budi para elit politik yang terlibat dalam konspirasi perancangan kecurangan pemilu. Kenapa mereka malah kalang kabut dengan melontarkan tuduhan-tuduhan absurd dan melapor-laporkan orang?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Dua tiga hari ini ruang digital dibuat heboh oleh film dokumenter Dirty Vote. Bagi yang rajin mengikuti pemberitaan dan diskursus politik tanah air sepanjang perhelatan Pemilu 2024, film dokumenter eksplanatori ini sebetulnya tidak menyajikan hal-hal baru jika dilihat dari sisi informasi. Karena hampir semua isu yang ditayangkan dan diulas adalah fenomena, berita, informasi dan opini yang sudah menjadi rahasia umum. Seliweran di ruang publik.

Kebaruan sajian dalam film ini terletak pada rangkaian fakta-fakta yang semula tercecer dan berserakan menjadi satu lanskap yang utuh dan   dengan mudah dicerna dan difahami.

Dirty Vote digarap oleh Dhandy Dwi Laksono, Founder WatchDoc yang juga seorang jurnalis. “Dibintangi” oleh 3 pakar hukum tata negara yang bertindak sekaligus sebagai narator, yakni Zainal Arifin Mochtar (Uceng), Bivitri Susanti dan Feri Amsari. Selain akademisi, ketiganya juga merupakan aktifis pro demokrasi yang rajin mengkritik pemerintahan Jokowi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Konspirasi dan Syahwat Kuasa

Film berdurasi hampir 2 jam itu memuat narasi; mengurai fakta-fakta, menjelaskan persitemalian antara satu fakta dengan fakta lainnya, serta opini analitik perihal desain kecurangan Pemilu 2024.

Mulai dari inkonsistensi pernyataan-pernyataan Jokowi terkait isu pencalonan Gibran dan soal netralitas aparat negara, penempatan orang-orang Jokowi di sejumah daerah dalam jabatan Pejabat Gubernur, Bupati dan Walikota, percepatan pemekaran Papua menjadi 6 provinsi, mobilisasi para Kepala Desa,  kasus putusan MK Nomor 90, politisasi Bansos, dan ketidaknetralan para pembantu Presiden di kabinet.

Sekali lagi, fakta-fakta itu bukan sesuatu yang baru, namun kesemuanya menjadi menarik karena diracik demikian rupa dalam satu alur cerita yang utuh dengan persitemalian antar isu yang logis dan saling mengonfirmasi antara satu kasus dengan kasus lainnya.

Narasi kunci film ini dikemukakan oleh Feri Amsari di bagian akhir (closing statement). Bahwa kecurangan-kecurangan tersebut (maksudnya kecurangan Pemilu sebagaimana dimaksud dalam film) tidak didesain dalam semalam dan tidak sendirian. Sebagian besar rencana kecurangannya terstruktur, sistematis dan masif, yang dilakukan oleh kekuatan yang selama 10 tahun terakhir berkuasa bersama.

Tesis itu kemudian dilengkapi oleh Zainal Arifin Mochtar, bahwa kecurangan yang disusun bersama ini, akhirnya jatuh ke tangan satu pihak. Yakni pihak yang sedang memegang kunci kekuasaan, yang dapat menggerakkan aparatur dan anggaran. Dirty Vote merekam secara utuh jejak syahwat para pemburu kuasa.

Jika merujuk pada narasi Feri dan Uceng, desain kecurangan Pemilu 2024 sudah lama dirancang dan secara kolektif melibatkan aktor-aktor di sentra kekuasaan negara dalam 10 tahun terakhir. Hanya saja hasil rancangan konspiratif itu kemudian jatuh ke tangan yang sedang berkuasa, dan ini tentu saja yang dimaksud adalah Presiden Jokowi.

Bahwa kemudian Dirty Vote lebih banyak mengulas dan menyoroti sosok Prabowo-Gibran dan kubu koalisinya, ini karena Prabowo-Gibran lah yang kemudian menjadi actor project konspirasi itu. Andai saja, pada tahapan pra-kandidasi Pilpres 2024 lalu terjadi titik-temu kepentingan antara Jokowi dengan Megawati boleh jadi actor project-nya adalah Prabowo-Ganjar atau Ganjar-Prabowo.

Pelajaran Berharga

Terlepas dari siapapun yang akhirnya menjadi actor project dari desain kecurangan itu. Pun terlepas dari kontroversi yang kemudian marak di tengah masyarakat. Hemat saya film ini tetap menghadirkan sejumlah sisi positif yang pantas diapresiasi.

Pertama, kehadiran Dirty Vote sangat berarti dalam kerangka menjaga kewarasan nalar publik, menghidupkan wacana kritis, sekaligus merawat kebebasan berkespresi sebagai bagian substantif dalam tradisi demokrasi.

Kedua, film ini juga penting dilihat dari sisi pendidikan politik dan penguatan pengetahuan dan kesadaran kritis masyarakat. Konten film ini memuat berbagai isu krusial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dimana publik berhak untuk tahu dan faham secara utuh. Terlebih kesemuanya terkait dengan perhelatan elektoral dimana rakyat akan memilih siapa pemimpin yang akan diberinya mandat lima tahu kedepan.

Ketiga, sebagai film dokumenter berbasis data, informasi dan fakta-fakta seputar isu-isu krusial terkait perhelatan Pemilu, Dirty Vote akan menjadi arsip sejarah yang berharga di kemudian hari. Berharga karena berisi rekaman banyak peristiwa dan jejak elektoral yang kelak bisa menjadi sumber “pembelajaran” kolektif sebagai bangsa.

Keempat, Dirty Vote mestinya juga bisa membuka pintu kesadaran nurani dan kewarasan akal budi para elit politik perancang konspirasi yang mungkin selama ini terhijabi oleh syahwat kuasa dan rupa-rupa sandera.

Kelima, yang terakhir. Film ini kiranya juga bisa semakin meningkatkan kesadaran kritis masyarakat, khususnya para pemilih yang akan turut menentukan siapa yang kelak bakal memimpin negara bangsa ini lima tahun kedepan.

 

 

 

 



 

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB

Terpopuler

Menggenggam Dunia

Oleh: Indrian Safka Fauzi (Aa Rian)

Selasa, 9 April 2024 13:46 WIB