x

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Selasa, 12 Maret 2024 19:10 WIB

Kajian Ramadan #4: Keutamaan Ramadan dan Hikmah Puasa

“Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Laylatul Qodr. Dan tahukah engkau apa lailatul qodr itu? Lailatul qodr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Turun para malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodar: 1-5)

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Artikel ini merupakan bagian keempat (terakhir) dari ulasan mengenai pentingnya memahami syariat dan fiqih puasa agar ibadah puasa serta ibadah-ibadah lain di sepanjang bulan Ramadan diterima oleh Allah SWT. Untuk melengkapi pengetahuan seputar Ramadan, berikut ini beberapa keutamaan bulan Ramadan dan hikmah yang dapat dipetik dari ibadah puasa.

Bulan Pengampunan

Dalam Kamus Bahasa Arab Mu'jam Al-Wasith (2011), arti dari kata Ramadan adalah panas membakar (ramidha - yarmadhu). Para Ulama kemudian memaknai Ramadan sebagai bulan dimana dosa-dosa manusia yang beriman dan bertaqwa akan dibakar habis oleh Allah SWT. Pemaknaan ini didasarkan antara lain pada Hadits Nabi SAW:

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

“Barangsiapa berpuasa Ramadan dan menjaga segala batas-batasnya, serta memelihara diri dari segala yang baik dipelihara dari dirinya, niscaya puasanya itu menutupi dosa-dosanya yang telah lalu,” (H.R. Ahmad dan Baihaqi). Dan Hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik, “Bahwa Rasulullah saw telah berkata: Sesungguhnya, dinamakan Ramadhan karena membakar dosa.

Menjelaskan hadits tersebut, di dalam salah satu karyanya al-Hawi al-Kabir lil Mawardi, Imam Al Mawardi mengatakan bahwa maksud dari membakar dosa pada hadits di atas adalah karena dengan beribadah puasa, semua dosa-dosa yang ada dalam diri umat Islam akan hilang. Puasa tersebut akan menghapus dan menghilangkan semua dosa-dosanya.

Di dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa yang puasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Imam Bukhori dan Imam Muslim).

Nuzulul Quran

Selain merupakan bulan pengampunan yang menjadi keistimewaan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya, bulan Ramadan juga memiliki keutamaan karena pada bulan inilah Al Quran sebagai pedoman utama (bersama Sunnah Nabi) bagi umat Islam diturunkan. Demikianlah firman Allah di dalam Al Quran Surat Al Baqoroh Ayat 185, bahwa :

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Laylatul Qodar

Keutamaan ketiga yang terdapat hanya pada bulan Ramadhan adalah adanya peristiwa Laylatul Qodar. Di dalam Al Quran Surat Al Qodr, Allah SWT menguraikan intisari Laylatul Qodar sebagai berikut:

“Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada Laylatul Qodr. Dan tahukah engkau apa lailatul qodr itu? Lailatul qodr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Turun para malaikat dan Jibril pada malam itu dengan izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh dengan keselamatan sampai terbit fajar.”

Para Ulama menjelaskan bahwa Laylatul Qodar merupakan malam yang penuh berkah (jiyadatul khoir), ketenangan dan keselamatan. Amal salih, apapun bentuknya, yang dilakukan tepat pada malam Laylatul Qodar lebih baik dari amal shalih yang dilakukan selama 1000 bulan (sekitar 83 tahun 4 bulan) tanpa lailatul qodr.

Pada peristiwa Laylatul Qodar itu pula, para Malaikat dalam jumlah yang tidak terhingga turun ke bumi dan mendoakan keselamatan bagi orang-orang yang sedang beribadah. Mereka turun bersama turunnya berkah dan rahmat (kasih sayang) Allah SWT. Di dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, “Banyaknya malaikat yang turun di malam tersebut karena keberkahannya yang melimpah, dan malaikat turun bersama dengan turunnya berkah dan rahmat.”

Lantas kapan Laylatul Qodar terjadi di bulan Ramadan? Sabda Rasulullah SAW: “Carilah lailatul qodr pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim).  Ulasan lebih detail mengenai peristiwa Nuzulul Quran dan Laylatul Qodar ini masing-masing InsyaAllah bisa dibaca pada artikel terpisah nanti.

 Beberapa Hikmah Puasa

Selain bulan Ramadannya sebagai bulan yang penuh ampunan, bulan dimana Al Quran diturunkan, dan Laylatul Qodar terjadi setiap tahun. Puasa yang dilakukan pada bulan Ramadan ini juga mengandung banyak hikmah, baik secara individual maupun sosial kehidupan seorang Muslim/Muslimah. Beberapa hikmah itu antara lain berikut ini. 

Pertama, melatih atau membiasakan praktik totalitas penghambaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Karena dalam puasa, seorang Muslim/Muslimah bahkan dengan tulus meninggalkan sesuatu (karena diharamkan) yang dalam keadaan biasa di luar ibadah puasa adalah halal, seperti makan dan minum atau menggauli istri/suami.

Kedua, meningkatkan kesadaran dan kesyukuran kepada Allah SWT. Hal ini dimungkinkan karena dengan menahan diri dari rasa lapar dan haus seorang Muslim/Muslimah bisa merasakan bertapa pedihnya orang-orang yang secara sosial-ekonomi jauh dari kecukupan makan dan minum. Kesadaran ini akan mendorongnya untuk meningkatkan rasa syukur baik dengan cara mengartikulasikannya secara bathiniyah dalam relasi ibadah personal, maupun dengan cara mengekspresikan empati sosialnya seperti menolong sesama.

Ketiga, mengendalikan syahwat alamiah biologis. Puasa yang dilakukan seseorang merupakan salah satu cara efektif untuk meredam atau mengendalikan birahi/syahwat yang secara alamiah ada pada setiap orang dewasa.

Sebagaimana diriwayatkan di dalam Hadits Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda,  “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang sudah mampu menikah segeralah menikah karena pernikahan akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu menikah maka hendaklah dia berpuasa, karena hal itu adalah benteng baginya.”

Keempat, memperkuat kesabaran. Sabar merupakan salah satu sifat dan perilaku yang disyariatkan dalam Islam. Di dalam karyanya, Latha'iful Ma’arif, Imam Ibnu Rajab memafatwakan sebagai berikut:

“Sabar itu ada tiga macam. Yakni sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan larangan Allah, dan sabar dalam menerima takdir Allah yang menyakitkan. Semua jenis sabar ini terkumpul dalam ibadah puasa karena dalam puasa terdapat sabar dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan apa yang Allah haramkan dari kelezatan syahwat, dan sabar untuk menerim apa yang dia dapat berupa rasa sakit dengan kelaparan dan kehausan serta lemasnya badan dan jiwa.”

Kelima, mempertajam empati dan kepedulian sosial. Praktik puasa yang secara ragawi adalah menahan diri dari makan, minum dan segala perilaku hedonis yang dapat membatalkan puasa, pada dasarnya merupakan media yang dapat menumbuhkan empati sosial dan kepedulian lingkungan.

Di dalam karyanya, Zadul Ma’ad, Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa, “Puasa akan mengingatkan keberadaan orang-orang yang kelaparan dari kalangan orang-orang miskin.”

Senafas dengan pesan Ibnu Qayyim, di dalam kitabnya Fathul Qadir, Ibnu Humam mengatakan, “Sesungguhnya tatkala orang yang puasa itu merasakan sakitnya rasa lapar pada sebagian waktu, hal itu akan mengingatkannya pada seluruh keadaan dan waktu yang akan membawanya bersegera untuk peduli kepada orang yang kurang mampu.”

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

4 hari lalu