x

Iklan

Christian Romario

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 11 September 2023

Rabu, 13 Maret 2024 16:42 WIB

Midas dan Cinta Duniawi

Keinginan terhadap materi semisal emas, uang, dan kekayaan dapat membuat orang menjadi serakah. Keserakahan adalah momen ketika uang menggantikan nilai etis dan religius. Karena itu, cinta duniawi (cupiditas) perlu diarahkan pada cinta rohani supaya libido terhadap uang dan kekayan tidak berkahir dengan keburukan.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Keinginan adalah gambaran nyata dari pengalaman manusia. Ada manusia yang senyata-nyatanya bertindak sesuai keinginannya. Ada manusia yang senyata-nyatanya berbicara sesuka keinginannya. Keinginan cenderung subjektif karenanya macam-macam saja keinginan manusia. Bahkan pernah muncul sajak ingin hidup seribu tahun. Pada tahun 1943, Chairil Anwar menuliskan sajak Aku. Di ujung sajaknya tertulis: Hingga hilang pedih peri / Dan Aku akan lebih tidak peduli/ Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Tak ada yang salah dengan ‘Aku mau hidup seribu tahun lagi’. Mungkin karena keinginan itu hanya ungkapan artistik yang menghiasi sajak sehingga kurang perlu mempersoalkan kebaikan ataupun keburukannya. Barangkali yang perlu dipersoalkan adalah keinginan untuk memiliki barang-barang duniawi semisal uang dan kekayaan yang telah menjadi motivasi internal dan orientasi praktis.

Sebagai orientasi praktis, adakalanya keinginan terhadap uang dan kekayaan memicu tindakan yang baik. Tetapi adakalanya orientasi pada uang dan kekayaan memicu tindakan yang buruk dan malapetaka. Barangkali kisah Raja Midas dari Firgia banyak memberi pelajaran untuk itu. Dalam satra Yunani, Raja Midas terkenal sebagai orang yang sangat menginginkan emas. Bahkan, ketika dewa anggur Dionysus menanyakan permintaannya, sang raja menjawab agar segala sesuatu yang disentuhnya berubah menjadi emas.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Raja Midas tak berpikir panjang. Raja Midas tak tahu malapetaka yang menantinya. Dionysus mengabulkannya. Dan keesokan harinya, tempat tidur, pakaian, dan apa saja yang disentuh sang raja benar-benar menjadi emas. Malangnya putrinya pun menjadi emas karena menyentuh sang raja. Beruntung Dionysus masih berbelas kasih pada Midas dari Firgia dan mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Raja Mardas dari Firgia menjadi simbol keinginan akan emas yang berakhir dengan keburukan.

Tak hanya Mardas dari Firgia. Zaman ini pun masih menyisahkan cerita-cerita tentang  sejumlah orang yang mati-matian menginginkan harta sampai-sampai menggelapkan dana haram. Begitulah korupsi dinamakan. Korupsi mengekalkan berdaulatnya uang atas manusia

Raja Mirdas dari Firgia dan sejumlah kasus korupsi adalah riwayat irasionalitas dari keinginan tak terkendali akan uang dan kekayaan. Mungkin itu yang membuat orang tidak pernah puas. Orang terus menerus mengejar uang, terus menerus mengejar harta, hingga berujung keserakahan. Inilah momen ketika nilai materialistik menggantikan nilai etis dan religius, ketika uang menggantikan kebenaran, dan ketika Raja Mirdas dari Firgia mengubah putrinya menjadi patung emas.

Rasa-rasanya keinginan tak terkendali terhadap uang dan kekayaan datang dari cinta yang salah arah. Dalam Plato and Agustine yang diedit oleh Hannah Arendt, Karl Jaspers nampak jelas menunjukkan hubungan cinta dan keinginan yang dimaksudkan oleh Agustinus. Agustinus mamandang bahwa keinginan merupakan perwujudan dari cinta, Love is desire. Berhadapan dengan keinginan, orang akan berjuang untuk memilikinya. Perjuangan itu bisa berakhir dengan tindakan terpuji. Tapi bisa juga berakhir dengan tindakan yang tidak bertanggungjawab dan tercela. Karena itu, cinta turut mempengaruhi tindakan.(Karl Jaspers, 1962)

Raja Midas dan para koruptor  jatuh dalam tindakan yang tidak bertanggung jawab karena mereka terlalu cinta hal-hal duniawi (Cupiditas).  Mereka terlalu tergila-gila terhadap emas dan uang demi dirinya sendiri. Menurut Agustinus sebagaimana diterangkan oleh filsuf eksistensialis Karl Jasperls, cinta hal-hal duniawi (Cupiditas) mengalami penyimpangan ketika tidak ditujukan pada Tuhan, ketika tidak diarahkan sesuai kehendak Tuhan.(Karl Jaspers, 1962). Keinginan tak terkendali Mirdas dari Firgia dan para koruptor terhadap emas dan uang berakhir dengan tindakan negatif karena mereka mencintai hal-hal duniawi tanpa mencintai Tuhan. Sebaliknya dengan mencintai Tuhan, orang akan melihat yang baik dan melakukan yang benar.

Memang tak ada salahnya menginginkan hal duniawi semisal uang ataupun kekayaan. Hanya saja cinta terhadap hal-hal duniawi mesti diwujudkan demi cinta kepada Tuhan supaya tidak ada yang tergila-gila, supaya tidak ada yang menyimpang.

Pustaka

Jaspers, Karl. (1962). Plato And Agustine. (Ralph Manheim, terjemahan) New York: A. Helen and Kurt WolffBook.

Ikuti tulisan menarik Christian Romario lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu

Terkini

Terpopuler

Biomorfik

Oleh: Taufan S. Chandranegara

19 jam lalu