x

Wartawan Media Elektronik. Foto: Noni Spuza dari Pixabay.com

Iklan

Ariadne Khatarina Moniaga

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 27 September 2022

Minggu, 17 Maret 2024 10:51 WIB

Membangun Ekosistem Digital ala SCTV untuk Bertahan di Era Disrupsi

Di usianya yang hampir menginjak 34 tahun, SCTV telah melakukan berbagai ikhtiar, khususnya pada era disrupsi digital. Perkembangan internet yang memunculkan berbagai pilihan media baru membuat SCTV harus beradaptasi dan menyesuaikan diri.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa yang terlintas dibenak anda ketika mendengar kata “SCTV”? Satu untuk semua atau para pencari Tuhan? Apapun itu, SCTV telah menjadi salah satu televisi yang melekat di hati dan pikiran masyarakat Indonesia. SCTV hadir sebagai televisi lokal di Surabaya pada 24 Agustus 1990. Tiga tahun kemudian, SCTV resmi menjadi televisi swasta nasional setelah mendapatkan izin untuk bersiaran secara nasional.

Di usianya yang hampir menginjak 34 tahun, SCTV telah melakukan berbagai ikhtiar, khususnya pada era disrupsi digital. Perkembangan internet yang memunculkan berbagai pilihan media baru membuat SCTV harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengannya. Menurut pemantauan penulis selama enam hari (11-16 Maret 2024), ada beberapa ikhtiar yang saat ini sudah dilakukan oleh SCTV, yaitu:

  • Membangun jaringan media

SCTV atau Surya Citra Televisi berada dibawah naungan EMTEK Group, induk perusahaan media terbesar kedua di Indonesia. Tak hanya SCTV, EMTEK juga menaungi media-media lain, yaitu Indosiar, Moji, Mentari TV, Liputan6.com, Bola.com, Bola.net, dan sebagainya. Dengan membangun jaringan media, EMTEK Group berhasil menjangkau pangsa pasar yang lebih luas karena setiap medianya memiliki karakter yang terpersonalisasi. Misalnya pada SCTV. SCTV dikenal sebagai gudangnya FTV karena FTV menjadi acara hiburan utama di stasiun ini. Untuk mendukung hal ini, grup EMTEK mendirikan rumah produksinya sendiri, yaitu Screenplay Productions pada 1 Agustus 2010. Selain Screenplay, EMTEK juga bekerja sama dengan PT Sinemart Indonesia hingga akhirnya mengakuisisi Sinemart pada tahun 2017.

  • Membangun ekosistem mandiri
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Selain menaungi perusahaan media, EMTEK Group juga menaungi beberapa perusahaan di bidang lainnya dan membentuk ekosistem mandiri. Mulai dari perusahaan agregator konten, infrastruktur, layanan kesehatan, siber, bank, hingga startup belanja online (Bukalapak). Dengan ekosistem ini, antar perusahaan dapat berkolaborasi demi menjaga kelangsungan hidup masing-masing. Kolaborasi ini terjadi dalam beberapa bentuk. Pada tahun 2019, Bukalapak pernah mengadakan acara untuk merayakan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) pada 12.12. Acara ini ditayangkan secara serempak di dua stasiun TV milik EMTEK, yaitu SCTV dan Indosiar.

Bagan Ekosistem Perusahaan EMTEK Group. Sumber:emtek.co.id

  • Mengembangkan ekosistem digital

Selain menayangkan FTV, SCTV menyeimbangkan tayangannya dengan menyajikan tayangan pemberitaan yang diberi nama Liputan6. Program ini pertama kali ditayangkan pada 20 Mei 1996. Pada Agustus 2000, Liputan6 meluncurkan situs webnya bernama Liputan6.com. Awalnya, Liputan6.com hanya menyajikan berita yang sudah ditayangkan di program Liputan6. Namun, sejak 24 Mei 2012, Liputan6.com menjadi sebuah perusahaan yang berada dibawah naungan induk yang sama. Sejak saat itulah, ekosistem digital di SCTV mulai terbentuk. Selain berita, SCTV juga melakukan siaran pada aplikasi over the top (OTT) milik EMTEK Group, yaitu Vidio.com. Dengan aplikasi ini, penonton dapat menyaksikan siaran langsung SCTV melalui gawainya. Selain itu, penonton juga dapat menyaksikan ulang FTV yang sudah pernah ditayangkan di SCTV sebelumnya karena dirilis secara lengkap di Vidio.com.

Menurut saya, ketiga ikhtiar di atas berhasil membuat SCTV bertahan sampai saat ini. SCTV telah berhasil menempati tempat khusus di hati penontonnya sebagai stasiun televisi penyedia hiburan terbaik. Satu-satunya yang menjadi evaluasi dari saya adalah konten yang ditampilkan dalam tayangan FTV. FTV SCTV kerap kali mendapatkan surat cinta dari KPI karena dianggap tidak sesuai dengan P3SPS. Salah satunya dan paling sering terjadi adalah adanya indikasi kekerasan pada kalangan remaja. Hal ini tentu harus diperhatikan oleh pihak SCTV dan pihak produksi. Apalagi, tayangan FTV juga banyak ditonton oleh para remaja. Di era gempuran drama Korea, sudah seharusnya standar tayangan FTV di SCTV ditingkatkan agar dapat menghasilkan tayangan hiburan yang berkualitas. Jadi, tidak hanya menghibur, namun juga mengedukasi masyarakat. Normalisasi adegan kekerasan juga perlu dikurangi. Adegan kekerasan seharusnya hanya menjadi bumbu pelengkap opsional yang hanya diperlukan sewaktu-waktu. Bukan menjadi bagian dari cerita yang sebenarnya tidak penting, tetapi terus-menerus ditampilkan.

Ikuti tulisan menarik Ariadne Khatarina Moniaga lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler