x

Aspal. Ilustrasi Pembangunan Jalan

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Minggu, 17 Maret 2024 10:54 WIB

Aspal Buton, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Sekarang presiden baru telah mengenal aspal Buton dengan baik. Maka presiden baru pasti akan sayang kepada aspal Buton. Sama seperti judul tulisan ini: “Aspal Buton, tak kenal, maka tak sayang”.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Fenomena aneh yang sedang terjadi di Indonesia adalah aspal Buton sampai saat ini tidak mendapatkan perhatian yang pantas dari pemerintah. Hal ini sungguh sangat melukai dan menyakiti perasaan hati rakyat. Mengapa? Karena rakyat berharap banyak dari aspal Buton. Seandainya saja pemerintah sejak lama sudah mau memanfaatkan dan mengolah aspal Buton untuk mensubstitusi aspal impor, maka mungkin rakyat Buton pada saat ini sudah bisa hidup lebih sejahtera. Mengapa pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mau berswasembada aspal? Ini adalah sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh presiden baru periode 2024-2029.

Untuk presiden baru periode 2024-2029 akan mampu menjawab pertanyaan di atas, maka presiden baru harus paham dan mengerti terlebih dahulu, mengapa harus ada pertanyaan ini?. Apa latar belakang dari pertanyaan ini? Mengapa harus presiden baru yang menjawabnya? Apa yang sedang terjadi dengan aspal Buton selama ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan, sebelum beliau akan mampu menjawab pertanyaan di atas dengan baik. Dalam artian akan mampu memberikan solusi yang tepat sasaran untuk tujuan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat Indonesia. Adapun, fokus dari seorang presiden, sejatinya adalah untuk menyejahterakan rakyatnya.

Presiden baru perlu tahu mengenai latar belakang, mengapa Indonesia sudah 78 tahun merdeka, Dan sudah 7 kali berganti presiden. Tetapi mengapa Indonesia sampai saat ini masih belum mampu berswasembada aspal? Padahal deposit aspal alam di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, jumlahnya sangat melimpah. Jumlah depositnya adalah yang terbesar di dunia. Seyogyanya, presiden baru harus mau datang berkunjung ke Pulau Buton untuk menyaksikan sendiri apa yang sekarang sedang terjadi di sana. Dan dengan demikian akan dapat memberikan solusi cerdas dan inovatif agar aspal Buton mampu mensubstitusi aspal impor.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Indonesia sampai saat ini masih belum mampu berswasembada aspal adalah karena pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mau berswasembada aspal. Hal penting inilah yang seharusnya presiden baru tanyakan kepada presiden lama. Ada apa dengan aspal Buton, sehingga pemerintah belum memiliki misi dan visi untuk mau berswasembada aspal? Apakah penyebabnya adalah masalah tehnis, ekonomis, politis, atau etika bisnis? Presiden baru harus menggali semua informasi dan data-data dari pemerintah lama mengenai upaya-upaya apa saja yang sudah pernah dilaksanakan, dan apa akar masalahnya, sehingga semua upaya-upaya pemerintah tersebut masih belum juga membuahkan hasil?

Apabila masalah, mengapa Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal adalah karena masalah tehnis, apa masalah tehnisnya? Pada saat ini teknologi ekstraksi aspal Buton yang handal, ekonomis, dan ramah lingkungan sudah ada, dan tersedia. Mengapa pemerintah tidak mau memanfaatkan teknologi ini?

Apabila masalahnya adalah karena masalah ekonomis, apa masalahnya? Indonesia sudah 45 tahun mengimpor aspal. Pada saat ini Indonesia mengimpor aspal sebesar 1,5 juta ton per tahun. Atau senilai Rp 20 triliun per tahun. Bukankah kalau Indonesia sudah mampu berswasembada aspal, maka devisa negara sebesar Rp 20 triliun per tahun akan dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan roda perekonomian di Indonesia?.

Apabila masalahnya adalah karena masalah politis, apa masalahnya? Bukankah di dalam UUD’45, Pasal 33, Ayat 3, sudah jelas-jelas dinyatakan bahwa: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara, dan dipergunakan untuk sebesar-besa kemakmuran rakyat?”. Jadi masalah politis sudah terjawab, bukan?.

Apabila masalahnya adalah karena masalah etika bisnis, apa masalahnya? Indonesia memiliki sumber daya aspal alam di Pulau Buton yang jumlah depositnya sangat melimpah. Tetapi mengapa sudah 45 tahun Indonesia mengimpor aspal dalam jumlah yang besar? Bukankah ini masalah etika bisnis? Seharusnya produksi aspal Buton harus lebih diutamakan. Dan kalau jumlahnya masih belum mencukupi untuk kebutuhan aspal di dalam negeri, maka baru pemerintah melakukan impor aspal. Mungkin kebijakan yang keliru ini harus menjadi perhatian yang seksama dari pemerintahan yang baru.

Presiden baru perlu tahu juga mengenai sejarah aspal Buton. Aspal Buton untuk pertama kali ditemukan pada tahun 1924 oleh seorang Geolog Belanda yang bernama W.H. Hetzel. Dalam 2 tahun kemudian, aspal Buton sudah mulai diproduksi dan diekspor ke luar negeri. Bandingkan dengan apa yang telah terjadi di Indonesia. Indonesia sudah 78 tahun merdeka, tetapi Indonesia masih belum mampu berswasembada aspal. Presiden baru harus tahu juga bahwa pemerintah Belanda telah bergerak cepat dalam memanfaatkan aspal Buton. Sedangkan pemerintah Indonesia, alih-alih mau memanfaatkan aspal Buton, malah justru mengimpor aspal dalam jumlah besar. Sungguh sangat ironi bukan?

Presiden baru pasti mempunyai banyak sekali prioritas. Masalah-masalah apa saja yang paling penting dan mendesak yang harus segera diselesaikan terlebih dahulu. Tetapi dari sekian banyak masalah yang telah terjadi di Indonesia selama ini, masalah yang paling mudah dan sederhana solusinya adalah masalah aspal Buton. Ah masak sih? Masalah inti dari aspal Buton adalah bahwa pemerintah tidak memiliki kemauan politik untuk mau berswasembada aspal. Oleh karena itu, presiden baru harus menyatakan bahwa pemerintahan baru memiliki kemauan politik untuk berswasembada aspl. Ya, semudah itu solusi aspal Buton.

Mungkin apabila presiden baru setuju, presiden baru bisa mengundang semua para ahli dan pakar dari perguruan tinggi, universitas, pengusaha swasta, dan pemerintahan, untuk membuat sebuah proposal agar dalam waktu 10 tahun Indonesia sudah harus mampu berswasembada aspal. Dan proposal inilah yang akan menjadi pegangan bagi presiden baru untuk membuat sebuah kebijakan strategis, Indonesia harus mampu berswasembada aspal pada tahun 2035.

Mengapa urusan aspal Buton ini harus sampai melibatkan seorang presiden? Karena masalah aspal Buton adalah masalah etika bisnis dan masalah politis. Jadi tidak akan mungkin akan dapat diselesaikan oleh pejabat-pejabat negara biasa. Harus presiden sendiri yang turun tangan, dan menyelesaikan masalahnya sampai tuntas. Karena masalah ini sudah sangat berlarut-larut, dan lama sekali terjadi, tanpa adanya upaya-upaya untuk mau mentuntaskan masalahnya secara tepat sasaran dan bijaksana.

Selamat datang presiden baru periode 2024-2029. Aspal Buton siap untuk mewujudkan kebijakan pemerintah baru, Indonesia harus mampu berswasembada aspal pada tahun 2035. Sejatinya, dimana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Sekarang presiden baru telah mengenal aspal Buton dengan baik. Maka presiden baru pasti akan sayang kepada aspal Buton. Sama seperti judul tulisan ini: “Aspal Buton, tak kenal, maka tak sayang”.

 

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan