Berjalan Bersama di Dalam Dunia yang Terluka

Rabu, 27 Maret 2024 13:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kita Memasuki Pekan Suci. Ziarah iman kita hari-hari ini bertumpuh pada situasi-situasi teramat berat, sulit dan rapuh. Terhadap Yesus yang menderita kita hanya miliki satu kesempatan untuk menjawab "YA" atau sebaliknya "TIDAK;"

Kita Memasuki Pekan Suci. Ziarah iman kita hari-hari ini bertumpuh pada situasi-situasi teramat berat, sulit dan rapuh. Terhadap Yesus yang menderita kita hanya miliki satu kesempatan untuk menjawab "ya" atau sebaliknya "tidak".

Kita mendekatiNya atau sebaliknya Menjauh dariNya atau bahkan mengenyahkanNya?

Mari menatap kisah para muridNya. Tidak kah di suatu kesempatan, memang terbaca hikayat penuh ujian bagi para murid itu? Karena perkataan-perkataanNya yang terdengar keras dan sulit dimengerti maka "banyak dari -muri-muridNya mengundurkan diri dan tidak bersama DIA lagi" ,(cf Yoh 6:66).

Dan di saat itu jua, Yesus menantang para muridNya, "Apakah kamu tidak mau pergi juga?"
Dan terhadap tantangan Yesus itu, Petrus, wakili para rekan murid, bersuara penuh yakin "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup dan kekal," (cf Yoh 6:67-69).

Namun?

Yang kita renungkan hari-hari ini adalah satu dua kisah sarat pertentangan. Kesetiaan dan ada bersamaNya tergerus di titik kelam menggetirka.

Yudas mengkhianatiNya. Yesus dihargai 30 keping uang perak (Mat 26:15). Petrus pun menyangkal (Mat 26:69-75). Dan jalan aman untuk menjauhiNya telah diambil oleh para murid lainnya.

Ingatlah!

Kita pun ternyata tak hebat dan tak kokoh iman seperti yang kita duga bahwa kita memilikinya. Sebab dalam banyak cara bukankah kita pun telah menjauhiNya?

Hari-hari ini Yesus sedikitpun tak sanggup lagi untuk memandang manusia. Untuk memandang setiap kita masing-masing. Tak seperti hari-hari kemarin: saat kita lapar dan haus, saat kita merasa terasing, ketika kita ditimpah sakit dan derita atau pun dikucilkan, ketika kita nyaris kehilangan harapan! Saat kita berkelana tanpa arah dan tiada tujuan....

Yesus, di hari-hari ini, sungguh hanya ingin layangkan perhatianNya menuju Saat kesudahanNya di Golgota. Tugas keselamatan yang mesti Ia mahkotai di tiang penyaliban. Golgota.


Sayangnya...

Kita bakal tak sanggup menemaniNya. Kita malu, takut, rasa kurang percaya diri sekiranya harus menemani, berkawan, dekat dan harus bersama Yesus, manusia yang sudah tidak indah, yang tak punya kuasa dan yang tak tunjukan lagi tanda-tanda kehebatan. Sebab, yang kita gemari dan kita cari sejadinya adalah kelimpahan, kuasa, pengaruh, nama besar serta segala keterjaminan.

Dan....

Demikianpun dunia umumnya lebih memilih untuk menjauhi sesamanya yang dianggap kosong otak. Dunia, sekali lagi, lebih terpikat pada daya tarik harta. Dunia terbius pada segala kemudahan yang tersembunyi pada kuasa.


Sementara....


Yesus adalah simbol kaum buangan dan kelompok manusia terkucil, terabaikan dan terluka.

Yesus, kini, adalah ketiadaan.- Pamornya telah redup ditelan ketidakberdayaan derita dan kematian Golgota.

Di hari-hari Pekan Suci ini, kita bahkan ditantang oleh suara Pilatus, suara seorang asing: "Lihatlah manusia itu....." (Yoh 19:5).

Namun, di saat pengadilan terhadap Yesus, hanya terdengar satu suara koor yang menggema:

"Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!"(Yoh 19:6).

Sekian banyak orang telah kita 'salibkan.' Sebab mereka jauh dari harapan kita. Sebab mereka tak layani ambisi dan syarat-syarat yang kita ingini.

Namun....

Kita masih memiliki harapan bersama Maria, Ibu Yesus itu dan para perempuan lainnya, serta murid yang dikasihi. Itulah Komunitas Kaki Salib, yang sungguh setia dan bertahan hingga pada hari kesudahanNya di kefanaan ini. Dalam spirit kaum penuh setia itu, kita berjuang untuk berbalik pada sesama dan dunia yang terluka.


Bersama Komunitas Kaki Salib, kita dituntun untuk berani, setia dan terutama rendah hati untuk 'menjumpai, berbelarasa, serta berbuat sesuatu bagi dan demi dunia yang terluka. Itulah dunia yang didera kekerasan, dunia tanpa kepastian nasib bagi para pengungsi serta dunia yang tercemar oleh pelbagai kerusakan alam dan lingkungan...


Semoga sengsara Tuhan meneguhkan dan membawa harapan bagi dunia. Dunia yang terluka. Dunia yang telah cemar dan rusak akibat ulah kita....


Kita tetap dipanggil untuk berjalan bersama, masuk ke dalam dan menyembuhkan dunia yang terluka. Biar dengan cara dan daya kita yang kecil dan sederhana.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rikhardus Roden

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler