x

Sumber: https://i0.wp.com/www.tiktak.id/wp-content/uploads/2021/09/Cara-Atasi-Kesedihan-dan-Kehilangan-Orang-Tercinta-di-Masa-Pandemi.jpg?resize\x3d660\x252C400\x26ssl\x3d1

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Sabtu, 30 Maret 2024 12:46 WIB

Gampang Banget Ngomong, Saya Sedang Diuji Allah

Gampang banget mengaku sedang diuji Allah seolah-olah Allah yang menimpakan masalah. Salah itu, masalahnya di diri sendiri. Introspeksi diri saja mumpung puasa

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ketika seseorang berkata, "Saya sedang diuji Allah". apa iya yang menguji Allah? Seolah-olah Allah-lah yang menimpakan masalah ke dia. Kesannya, Allah yang memberi cobaan. Bukan sebab kesalahan dirinya sendiri. Pernyataan “saya sedang diuji Allah” itu, menurut saya, salah. Persepsinya, menuduh Allah yang membuat masalah pada seseorang. Bukankah masalah itu hadir akibat perbuatan diri sendiri, dampak dari apa yang dilakukan? Seolah menggiring pikiran, bahwa masalah tidak bisa diatasi oleh diri sendiri.

Bukan Allah yang menguji, tapi kita yang harus bertanggung jawab. Keadaan ekonomi tidak kunjung membaik, bisa jadi karena kita kurang sedekah. Sakit, bisa jadi karena kita selalu begadang atau telat makan. Utang bertumpuk, bukankah karena ulah kita sendiri? Bahkan masalah demi masalah datang pun, bisa jadi karena kita terlalu jauh dari Allah. Dan akibatnya, seluruh potensi yang Allah titipkan pada diri kita tidak bisa dioptimalkan. Terlalu pasrah dan gampang menyerah. Tidak ada lagi kemampuan kreatif untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

Selalu menyalahkan, itulah persepsi yang banyak muncul di banyak orang. Mencari kambing hitam atas masalah yang dihadapinya. Padahal itu hanya “pembenaran” atas kelemahan diri sendiri. Terlalu pesimis dan merasa tidak berdaya. Justru mensugesti diri sendiri menjadi lemah tidak berdaya. Maka berkatalah, “Saya sedang diuji Allah”.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ada juga juga yang sering menyalahkan orang lain, "gara-gara dia saya jadi begini". Artinya kan, saya lemah tidak berdaya. Sehingga cara berpikirnya negatif, seolah-olah apa yang terjadi pada dirinya akibat ulah orang lain. Pikiran dan sikapnya selalu negatif. Hanya bisa menyalahkan orang lain. Tanpa mau instrospeksi diri, memperbaiki diri. Apa yang salah pada dirinya? Lebih senang menyalahkan orang lain daripada muhasabah diri, memperbaiki diri. Akhirnya, mau ikhtiar se-keras apa pun, selalu mentok. Sebab memang potensi dan anugerah yang diberikan Allah justru dimati-surikan. Masih bernafas dan sehat pun diabaikan begitu saja.

Jangan lagi menuduh Allah. Tuduhlah diri sendiri saja. Bila ingin benar-benar keluar dari masalah, mulailah dengan menyusun kekuatan sendiri. Ubah persepsi dari "saya lemah" menjadi "saya kuat". Caranya adalah dengan muhasabah diri dan berhenti berperilaku buruk. Kerjakan yang baik dan tebarkan terus manfaat, Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Akui saja kesalahan diri sendiri, jangan melulu menyalahkan orang lain atau menyebut Allah tidak sayang pada kita. Akui pikiran dan persepsi kita selama ini keliru. Terlalu percaya dan setuju untuk menyebut diri  lemah atau gampang menyalahkan Allah dan orang lain.

Mumpung di bulan puasa, optimalkan ibadah dan amal soleh. Instospeksi diri, jangan gampang menyalahkan siapapun. Ambil tanggung jawab dengan memperbaiki amal atau tindakan. Apapun keadaannya, percayalah pada kasih sayang Allah, percaya bahwa Allah memberi cinta terbaik-Nya. Ikhtiar yang baik, berbuat yang baik, dan tetap baik di mana pun.

 

Ubah keyakinan lama, yang hanya pasrah dan menyalahkan Allah atau orang lain. Kembalikan kepada diri sendiri, apakah kita sudah baik atau belum? Sudah benar-benar berada di dekat-Nya atau hanya sebatas omongan belaka? Man jadda wa jadda! Salam literasi #NgabubuRead #BacaBukanMaen #TBMLenteraPustaka

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan