x

Ilustrasi Mulsimah. Gambar oleh Steve Bidmead dari Pixabay

Iklan

Agus Sutisna

Penulis Indonesiana | Dosen | Pegiat Sosial
Bergabung Sejak: 6 September 2023

Senin, 1 April 2024 14:45 WIB

Kajian Ramadhan #19: Kaidah Al Quran dan Sunnah dalam Bermedia Sosial

Tidaklah ada kebaikan pada kebanyakan percakapan-percakapan mereka itu. Kecuali jika ada di dalamnya orang yang menyuruh kepada sedekah, mengajak yang makruf, atau mendamaikan manusia yang berselisih.Siapa yang melakukan itu dengan niat mencari rida Allah, niscaya Kami akan berikan kepadanya ganjaran yang besar. (QS. An Nisa: 114)

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Media sosial merupakan fenomena kontemporer yang tidak bisa lagi dihindari. Demikian pula dengan penggunaannya, baik untuk kebutuhan pribadi maupun sosial termasuk dunia kerja di dalamnya. Karena dunia saat ini sudah menjadi arena berjejaring yang tidak seorangpun bisa menghindari dan memutus mata rantainya.

Berbagai sisi manfaat dan kegunaan, atau sebaliknya deretan mudhorat dari penggunaan medsos telah banyak dikaji dan diulas para ahli. Sisi manfaatnya melimpah, mungkin semelimpah sisi mudhoratnya.

Medsos berguna sebagai alat komunikasi dan penyebar luasan informasi. Konten-konten dakwah dan syiar Islam dengan mudah meluas dan menyasar beragam audiens (jama’ah) melalui pemanfaatan berbagai platform media sosial. Ini adalah salah satu manfaat dan kegunaannya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Tetapi di sisi lain, medsos juga dengan mudah bisa memicu berbagai persoalan di tengah masyarakat. Penyebar luasan konten-konten kekerasan, ujaran kebencian (hate speech), intoleransi atau hoax dan fakenews tentang isu apapun, dengan gampang masuk ke ruang-ruang publik dan menimbulkan permasalahan sosial.

Jadi seperti sudah sering diibaratkan banyak orang, medsos itu serupa sebilah pisau bermata dua. Mata yang satu menghadirkan fungsi-fungsi positif, mata satunya lagi menghadirkan fungsi-fungsi negatif dan pastinya, bisa membahayakan.

Oleh sebab itu, oleh alasan kemanfaatan dan alasan kemudhoratan, maka isu pentingnya bukan apakah kita perlu meninggalkan medsos. Sesuatu yang nyaris tidak mungkin, kecuali dalam batasan tertentu, situasi tertentu dan bagi orang-orang tertentu. Melainkan apakah kita bisa menggunakan medsos dengan bijak dan selektif.

Berbagai pendekatan keilmuan telah dipromosikan para ahli untuk memaksimalkan sisi positif kehadiran dan penggunaan medsos sekaligus menghindari sejauh mungkin potensi negative dan destruktifnya. Berikut ini adalah beberapa kaidah prinsip di dalam Al Quran dan Sunnah yang harus dirujuk dan dipedomani dalam penggunaan media sosial sebagal sarana komunikasi dan informasi.

 

Kaidah Al Quran

Di dalam Al Quran surat An-Nisa ayat 114 misalnya, Allah mengingatkan: "Tidaklah ada kebaikan pada kebanyakan percakapan-percakapan mereka itu. Kecuali jika ada di dalamnya orang yang menyuruh kepada sedekah, mengajak yang makruf, atau mendamaikan manusia yang berselisih. Siapa yang melakukan itu dengan niat mencari rida Allah, niscaya Kami akan berikan kepadanya ganjaran yang besar"

Kemudian di dalam surat Al-Israa ayat 53, Allah berfirman: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku. Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang paling baik (benar). Sesungguhnya, setan menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Dan didalam suart Al Ahzab ayat 70, Allah menyeru: “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”

Ketiga ayat tersebut secara eksplisit merupakan perintah agar orang-orang yang beriman selalu berkata benar dan baik, terutama di ruang publik. Perkataan yang benar adalah perkataan yang sesuai fakta, bukan hoax, fakenews atau fitnah.

Itulah sebabnya dalam konteks ini para Ulama memperkenalkan kaidah atau mekanisme tabayyun (klarifikasi) terhadap suatu informasi yang diragukan kebenaran, kesahihan dan akurasinya.

Sedangkan perkataan yang baik adalah narasi-narasi yang menyejukan. Bisa berupa ajakan berderma (sedekah), mengislahkan (mendamaikan) para pihak yang sedang berkonflik atau berselisih. Atau amar ma’ruf nahyi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemunkaran atau kemaksiatan),

Sebagaimana perintah-Nya di dalam surat Ali Imron ayat 104: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

 

Kaidah Sunnah

Dalam sebuah hadits sahih yang diriwayatkan Imam Bukhori, Rosulullah SAW pernah mengingatkan tentang implikasi bagi seseorang yang berkata sembarang alias asbun (asal bunyi): “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa diteliti yang karenanya ia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ketimur."

Menurut Ibnu Hajar Hadits tersebut merupakan peringatan agar menghindari tutur kata yang buruk, yang tidak penting untuk didengarkan atau bahkan dapat menyakiti perasaan seseorang.

Di dalam hadits lain Rosulullah juga pernah menyatakan: "…dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia berkata baik atau diam” (HR. Imam Bukhori).

Kedua hadits tersebut mengandung dua pesan penting. Pertama bahwa setiap perkataan yang diucapkan, tentu saja termasuk narasi konten atau status dan komentar di berbagai platform medsos hendaknya dipertimbangkan dengan matang. Jangan asal ucap, asal komen dan share.

Kedua, sebuah pesan bijak bahwa jika tidak bisa berkata baik, maka diam adalah pilihan yang harus diambil oleh siapapun yang beriman kepada Allah dan hari Qiyamat. 

 

Wallahu ‘alam Bishowab

Ikuti tulisan menarik Agus Sutisna lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler