x

Iklan

Syarifudin

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 29 April 2019

Rabu, 10 April 2024 09:20 WIB

Kok Bisa Merasa Menang Puasa tapi Tidak Mau Memaafkan?

Kok bisa berpuasa tanpa mau memaafkan. Idul Fitri adalah momen menjadi hamba yang pemaaf. Maafkanlah orang lain!

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hubungan antarmanusia itu, di mana pun memang rumit. Ada kalanya salah paham, ada kalanya berbaik hati bahkan benci. Akibat amarah dan sikap ego, sering kali hubungan kita dengan orang lain jadi renggang. Bermusuhan atau tidak lagi bertegur sapa. Memang tidak semuah membalik telapak tangan. Tapi meminta maaf atau memaafkan adalah solusinya. Terlepas dari siapa yang salah?

 

Sayangnya, acap kali banyak orang terselip rasa gengsi untuk meminta maaf atau memaafkan. Maaf menjadi sulit karena gengsi, karena sikap ego yang merasa tinggi. Apalagi mengingat perbuatan orang lain yang telah melukai hati, sungguh memaafkan pun semakin sulit. Tapi semua terpulang kepada diri sendiri. Apa sih gunanya menyimpan amarah, benci, dan dendam kepada orang lain? Bila akhirnya membuat kita menjadi lebih menderita. Maka suka tidak suka, memaafkan siapapun memang membutuhkan ketulusan dan keikhlasan. Allah ta'ala berfirman, “Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah" (QS. Asy-Syura: 40).

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

 

Hari ini, 10 April 2024, sudah hari Idul Fitri 1445 H. Inilah momen penting jadi pemaaf. Pilihannya hanya dua, meminta maaf atau memaafkan orang lain. Maaf lahir batin, atas segala khilaf dan salah yang pernah terjadi. Atas ucapan, sikap, dan perilaku yang kurang berkenan. Disengaja atau tidak disengaja, telah membuat tersinggung. Dan manusia memang tempatnya khilaf dan salah. Bahwa yang benar hanya dapat dari Allah SWT. Jadilah pemaaf!

 

Sebulan penuh kita telah berpuasa. Menanam kesucian hati dari subuh hingga maghrib. Melatih menahan diri dari perbuatan buruk dan sia-sia. Memperoleh mahmat-Nya, memohon ampunan-Nya, dan berdoa dibebaskan dari siksa api neraka. Dan kini dianggap meraih kemenangan hakiki, kemenangan ruhaniah. Untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri. Sambil meminta maaf atau memaafkan orang lain. Lalu, untuk apa berpuasa bila tidak mau memaafkan?

 

Sungguh, tidak ada di dunia ini, manusia yang tidak berbuat salah. Tidak satupun manusia yang tidak punya masalah. Dan tidak ada pula manusia yang sempurna. Kini di momen idul fitri, kita hanya membutuhkan kelapangan hati. Untuk meminta maaf atau memaafkan. Untuk bersedia menjadi pemaaf.

 

Adalah anugerah-Nya, tiap orang pasti dikaruniai kelembutan hati. Kepekaan psikologis untuk saling memaafkan. Agar tidak ada lagi tersimpan rasa dendam, marah, benci, iri dan dengki, bahkan buruk sangka kepada sesama anak manusia. Yang sudah berlalu biarlah dan maafkanlah. Agar tidak ada lagi ganjalan dan beban yang bergelayut di hati dan pikiran. Karena benci dan marah yang tidak termaaafkan, menjadi sumber doa-doa yang terhalang. Menjadi “kerikil” yang menghalangi keluarnya keajaiban Allah SWT.  Puasa sudah, ibdaha terbaik pun sudah, amalan baik pun sudah. Berdia pun sampai menangis. Tapi apa geranagan “miracle” atau keajaiban-Nya belum datang juga?

 

Jawabnya, mungkin hati dan pikiran kita yang tidak bersih. Masih menyimpan segudang rasa dendam, marah, benci, iri dan dengki, bahkan buruk sangka kepada orang lain. Masih ada “ganjalan” yang belum dilepaskan. Maka hilangkan ganjalan dan beban itu, dengan cara jadilah pemaaf!

 

Yuk, jadilah pemaaf. Mari bersihkan “sampah-sampah” emosi dan nafsu yang tidak berujung. Buang jauh-jauh pikiran negatif dan cara berpikir yang menyalahkan orang lain. Bahwa apapun yang terjadi adalah sifat manusiawi semata dan atas kehendak Allah SWT. Kembalikan semuanya ke fitrah manusia. Untuk selalu memperbaiki hubungan dengan Allah SWT dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

 

 

Jadilah pemaaf. Agar kta tidak perlu bersusah payah untuk membalas dendam. Cukup maafkan setiap kesalahan orang lain karena memaafkan adalah pembalasan yang terbaik. Sungguh, emosi dan kemarahan hanya membuat kita lebih kecil. Sementara memaafkan menjadikan kita berkembang melampaui diri kita yang sebelumnya. Salam literasi #IdulFitri #HikmahLebaran #TBMLenteraPustaka

 

Ikuti tulisan menarik Syarifudin lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler