x

sumber: https://images.pexels.com/photos/272337/pexels-photo-272337.jpeg?auto\x3dcompress\x26cs\x3dtinysrgb\x26w\x3d600\xd

Iklan

Dinar Rahayu

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 9 November 2021

Minggu, 14 April 2024 20:20 WIB

Meninjau Kasus Retraksi Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah yang sudah diterbitkan dapat ditarik ulang (retarksi), seperti yang dialami Tim Danny Hilman dalam karyanya tentang Gunung Padang. Retraksi bukanlah aib, terkecuali pada kasus seperti plagiarism aau manipulasi data. Retraksi adalah sebuah proses yang justru taat pada kaidah keilmuan untuk membaca dan meninjau ulang guna mendapatkan simpulan yang benar.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sebuah artikel ilmiah bisa ditarik kembali (retracted) jika dinilai mengandung kesalahan. Hal ini tentu merupakan tindakan yang sangat tepat.

Belum lama berselang, sebuah artikel ilmiah yang ditulis Danny Hilman Natawidjaja,  Andang Bachtiar, Bagus Endar B. Nurhandoko, Ali Akbar, Pon Purajatnika, Mudrik R. Daryono, Dadan D. Wardhana, Andri S. Subandriyo, Andi Krisyunianto, Tagyuddin, Budianto Ontowiryo, Yusuf Maulana (untuk selanjutnya akan ditulis sebagai ‘tim Danny Hilman’) diterbitkan secara daring di situs Archaeological Prospection di situs Wiley Online Library pada tanggal 20 Oktober 2023. Tapi artikel berjudul Geo-archaeological prospecting of Gunung Padang buried prehistoric pyramid in West Java, Indonesia tersebut kemudian ditarik kembali pada 18 Maret 2024. Di situs jurnal tersebut artikel itu masih dapat diakses tetapi diberi tanda retracted.

Penjelasan sebab ditarik kembali adalah bahwa ada kesalahan yang tidak terdeteksi selama proses artikel ditinjau oleh mitra bestari (peer reviewers). Kesalahan tersebut adalah bahwa penanggalan dengan menggunakan karbon radioaktif yang diterapkan kepada sampel tanah yang tidak berhubungan dengan fitur peninggalan yang mengandung artefak buatan manusia, karenanya interpretasi bahwa situs tersebut adalah piramid kuno yang dibangun lebih dari 9000 tahun yang lalu tidaklah bisa dipertanggungjawabkan.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Adalah pihak ketiga yang merupakan pembaca yang juga ahli di bidang ilmu yang berkesusaian dengan artikel tersebut yang menyampaikan keberatan ilmiah kepada pengurus jurnal. Setelah proses investigasi maka pengurus jurnal pun memutuskan menarik artikel tersebut.

Sejak awal, memang sebuah artikel akan ditinjau oleh mitra bestari. Sistem peninjauan oleh mitra bestari ini memvalidasi kerja akademik penulis, juga meningkatkan kualitas penelitian. Bagaimana seandainya ada yang perlu diperbaiki? Bisa saja sebelum ditinjau oleh mitra bestari pun, jika si penulis artikel tersebut membaca ulang artikelnya baru menyadari ada kesalahan, ia bisa menarik kembali artikelnya dan menerbitkan ulang hasil revisi terhadap laporan penelitiannya tersebut.  Atau seperti yang terjadi pada kasus artikel dari tim Danny Hilman, pengurus jurnal melakukan investigasi mendalam sebelum menarik ulang artikel tersebut.

Kasus penarikan kembali artikel tim Danny Hilman tentu bukan kasus retraksi artikel yang pertama terjadi di dunia keilmuan. Ada banyak artikel di pelbagai keilmuan yang ditarik kembali dengan berbagai alasan.

Tetapi pada kasus artikel ilmiah tim Danny Hilman ini, kita seolah diingatkan kembali pada ingar-bingar sebelumnya di banyak media massa dan media sosial, berkenaan dengan konflik tentang situs Gunung Padang. Konflik ini muncul di tahun 2012 karena perbedaan pemaknaan berbagai pihak pada situs ini sebagai warisan budaya (Bambang Sulistyanto; 2014).

Di kanal-kanal YouTube banyak sekali wawancara mengenai perbedaan pendapat tentang situs ini. Pada laman Facebook –nya, Danny Hilman Natawidjaja mengunggah kerisauannya, mulai dari konflik penelitian ini sampai kegusarannya terhadap penarikan kembali artikel yang disusun oleh timnya.

Tentunya sangat baik bahwa dunia seperti menengok pada kasus ini. Baik konflik tentang situs Gunung Padang dan juga penarikan kembali artikel ini. Di luar terkadang bincang-bincang ini memanas ke segala arah sampai menyerempet gunjing. Tetapi temuan ilmiah memang sangat baik dibincangkan tidak hanya oleh masyarakat keilmuan, tetapi juga oleh publik.

Retraksi artikel ilmiah tentu bukanlah aib, terkecuali kasus seperti plagiarism (penjiplakan/pencontekan) atau manipulasi data. Retraksi adalah sebuah proses yang justru taat pada kaidah keilmuan untuk membaca dan meninjau ulang untuk mendapatkan simpulan yang benar.

Adalah kesempatan besar juga bagi publik untuk mengetahui dan mengikuti seluk beluk keilmuan, dan yang terpenting adalah penyebaran temuan keilmuan yang benar dan tidak menyesatkan

Ikuti tulisan menarik Dinar Rahayu lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan