x

Sumber gambar: Growing Leaders

Iklan

Suko Waspodo

... an ordinary man ...
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Kamis, 23 Mei 2024 19:01 WIB

Membina Anak-Anak yang Tangguh: Strategi untuk Memelihara Pertumbuhan dalam Iklim Budaya Saat Ini

Penelitian menunjukkan bahwa mengambil risiko yang diperhitungkan sangat penting untuk perkembangan anak. Pengalaman mandiri membantu mengembangkan keterampilan motorik dan korteks prefrontal, sehingga mendorong pertumbuhan holistik.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bagaimana orang dewasa yang peduli dapat mengurangi dampak buruk budaya terhadap anak-anak.

Wawasan Utama

  • Orang dewasa sering kali memprioritaskan perlindungan daripada mempersiapkan anak menghadapi tantangan hidup.
  • Kepemimpinan yang sehat dapat mengatasi dan memitigasi permasalahan yang menghambat perkembangan anak.
  • Pemikiran jangka panjang sangat penting untuk mendorong kedewasaan dan pertumbuhan anak.

Dalam diskusi baru-baru ini dengan sekelompok orang tua, muncul tema yang berulang mengenai perjuangan anak-anak mereka. Banyak yang berbagi kekhawatiran seperti anak atau remaja mereka:

  • Membutuhkan bantuan ekstra untuk menyelesaikan tugas.
  • Menjadi mudah marah atau tidak bisa bergerak karena kesulitan sehari-hari.
  • Ragu untuk menerima proyek atau peluang baru.
  • Sulit beradaptasi dengan situasi baru.
Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pola-pola ini sering kali digaungkan oleh para pendidik, orang tua, pelatih, dan pemberi kerja. Ada permasalahan signifikan yang menghambat proses pendewasaan banyak anak muda. Alih-alih melihat pertumbuhan yang menyeluruh, kita melihat perkembangan yang lebih terfragmentasi. Misalnya saja, semakin sedikit remaja yang berkeinginan untuk mendapatkan SIM jika memenuhi syarat, mereka cenderung tidak meninggalkan rumah orang tuanya setelah dewasa, dan mereka menunda mengambil tanggung jawab sebagai orang dewasa. Masa remaja sekarang dimulai lebih awal karena meningkatnya paparan terhadap realitas orang dewasa, namun meluas lebih lama karena remaja menunda memasuki masa dewasa.

Penting untuk dicatat bahwa perubahan ini pada dasarnya tidak bersifat negatif. Secara historis, usia mencapai usia dewasa bervariasi antar budaya. Namun, jika generasi muda kita mampu bertumbuh dan maju namun kurang puas, kita, sebagai orang dewasa yang peduli, belum memenuhi peran kita secara efektif.

Ulasan ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan yang dihadapi generasi baru saat ini dan mengeksplorasi bagaimana orang dewasa yang peduli dapat membantu mengatasi tantangan tersebut melalui respons yang sehat dan proaktif. Dalam postingan ini, kita akan membahas dua masalah utama pertama:

1. Peningkatan Eksposur, Penurunan Pengalaman

Anak-anak saat ini terpapar banyak informasi sejak usia dini, sebagian besar disebabkan oleh keberadaan perangkat portabel yang ada di mana-mana. Anak-anak prasekolah biasanya menggunakan tablet pada usia empat tahun. Namun, dalam upaya menjaga keselamatan mereka, banyak orang tua yang membatasi aktivitas tradisional yang berisiko seperti menjelajah sendiri, berjalan ke taman, atau bersepeda di luar lingkungan. Meskipun ada persepsi bahaya yang meningkat, data menunjukkan bahwa dunia kita sebenarnya lebih aman dibandingkan ketika banyak orang tua masih anak-anak. Siklus berita 24/7 telah memupuk budaya ketakutan, sehingga menyebabkan pola asuh yang terlalu berhati-hati.

Penelitian menunjukkan bahwa mengambil risiko yang diperhitungkan sangat penting untuk perkembangan anak. Pengalaman mandiri membantu mengembangkan keterampilan motorik dan korteks prefrontal, sehingga mendorong pertumbuhan holistik. Tanpa pengalaman-pengalaman ini, anak-anak mungkin akan mengembangkan apa yang disebut dengan “kematangan buatan”, yaitu kematangan kognitif dan bukan kematangan menyeluruh.

Apa yang bisa kita lakukan? Kembangkan rencana yang memungkinkan anak-anak mencoba hal-hal baru dan terlibat dalam pengalaman yang tidak terduga atau menantang. Ini harus sesuai dengan usia dan dirancang untuk memperluas kematangan sosial dan emosional mereka. Seiring pertumbuhan mereka, pengalaman-pengalaman ini seharusnya semakin tidak diawasi. Misalnya, ijinkan seorang anak untuk mendaki pusat kebugaran di hutan pada usia lima tahun, mengendarai sepeda ke tempat-tempat asing pada usia delapan tahun, mencoba pekerjaan pada usia dua belas tahun, mengendarai mobil segera setelah hal tersebut diperbolehkan, dan bepergian tanpa orang tua. Mendorong mereka untuk menghadapi pengalaman baru yang mengintimidasi membantu mereka memahami bahwa kegagalan tidak berakibat fatal dan mendorong pertumbuhan, serta mempersiapkan mereka untuk masa dewasa.

2. Stimulasi Tinggi, Berpikir Kritis Rendah

Kita hidup di era stimulasi terus-menerus dari ponsel cerdas dan perangkat lain, dengan notifikasi, pesan teks, dan peringatan yang terus-menerus menarik perhatian kita. Hal ini menjadikan kita generasi yang paling terstimulasi dalam sejarah. Sayangnya, pemboman informasi yang terus-menerus ini sering kali menyebabkan ketergantungan pada masukan eksternal dan kurangnya waktu untuk refleksi dan berpikir kritis.

Sejumlah besar orang tidak terlibat dalam pemikiran independen, melainkan mengandalkan iklan, pop-up, dan iklan lainnya untuk memandu keputusan mereka. Tren menuju konsumsi pasif dibandingkan aktif, keterlibatan kritis ini memprihatinkan. Tanpa kemampuan berpikir kritis, individu menjadi pengikut, bukan inovator.

Apa yang bisa kita lakukan? Bekerjalah bersama anak-anak Anda untuk membuat jadwal yang mencakup waktu untuk refleksi dan berpikir kritis. Kurangi kebisingan dan kekacauan dalam kehidupan sehari-hari mereka dengan menyisihkan waktu dan ruang yang “bebas teknologi”. Terlibat dalam diskusi tentang media yang mereka konsumsi, termasuk film, berita, dan buku teks. Dorong mereka untuk mengartikulasikan pemikiran dan alasan mereka. Praktik ini akan membantu mereka mengembangkan perspektif independen dan mengurangi ketergantungan mereka pada validasi eksternal.

Dengan mengatasi permasalahan ini melalui strategi yang bijaksana dan proaktif, kita dapat membantu membina generasi individu yang tangguh dan berwawasan luas yang siap menghadapi tantangan di masa dewasa. Melalui bimbingan yang cermat dan pengalaman yang disengaja, kita dapat memupuk pertumbuhan dan kedewasaan yang akan memungkinkan mereka berkembang di masa depan.

***

Solo, Kamis, 23 Mei 2024. 8:57 am

Suko Waspodo

Ikuti tulisan menarik Suko Waspodo lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler