x

sudra

Iklan

NI WAYAN WIJAYANTI | CERPEN

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 14 November 2021

Senin, 27 Mei 2024 13:31 WIB

Sudra

Wahai Bhatara Surya, Engkau pun tidak pernah memilih siapa yang pantas untuk disinari cahayaMu. Memang benar tidak ada yang kekal di dunia ini selain perubahan. Hingga hati seseorang pun bisa berubah begitu cepat. Tiyang memang hanyalah terlahir sebagai seorang sudra. Tapi bukankah semua manusia, adalah sama di mataMu?

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gadis cantik berambut lurus yang tergerai sebahu itu bernama Laras. Dia nampak berkali-kali menghembuskan nafas dengan hampa di sebuah gubuk kecil di pinggir pematang sawah.

Meski burung-burung pipit mulai menghampiri padi-padi yang menguning di hadapannya, dia tetap tidak bergeming.

Burung-burung itu seakan bersorak-sorai menyambut hamparan butiran biji padi, tak perduli seberapa terik sinar matahari kala itu. Mereka seakan meneriakkan terimakasih kepada Laras yang tidak juga mengusir keberadaan kawanan itu.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Di samping Laras duduk Gus Putra, pria yang sedari tadi menunggu jawaban gadis tersebut. Tapi bagaimana mungkin dia bisa memutuskan jawaban dengan cepat, sementara pria di hadapannya bertanya Maukah kamu menikah denganku?”

Gus Putra adalah kekasihnya, entah sejak kapan mereka menjadi sepasang kekasih. Laras tidak begitu ingat. Kedekatan mereka berjalan begitu saja tanpa ada pernyataan apapun dari kedua belah pihak. Hubungan itu terjalin dalam diam, tak seorang pun tahu. 

Selama ini Laras tidak pernah menanyakan perihal hubungan kedekatan mereka. Apakah hanya sebatas teman atau boleh menganggap lebih.

Meskipun makin lama perasaan nyaman mulai muncul dengan deras, Laras tetap enggan menanyakan. Dia sendiri takut untuk menerima kenyataan bahwa dia hanya seorang sudra. Dalam adat di desanya, sudra dianggap kasta terendah.

Bagimana tidak? Gus Putra adalah seorang keturunan brahmana. Dialah putra satu-satunya yang diharapkan kelak bisa menggantikan ayahandanya menjadi pendeta di desa itu, desa terpencil yang terletak di kaki Gunung Agung dekat dengan Pura Besakih yang saban hari ramai dikunjungi wisatawan.

Penduduk desa tersebut memang masih sangat menjaga aturan dan tradisi leluhur mereka dalam balutan adat yang kental. Tradisi yang telah bertahan selama ribuan tahun itu tetap dijunjung teguh hingga sekarang.

Dalam hal ini syarat mutlak seseorang bisa diangkat menjadi pendeta adalah, sepasang suami istri tersebut harus sama-sama berasal dari kasta brahmana. Hal ini bertujuan agar keturunan yang dihasilkan, yang nanti akan menggantikan ayah ibunya menjadi pendeta, adalah murni keturunan darah brahmana.

Aturan tadi menyebabkan sejak zaman dahulu, para calon-calon pendeta ini akan dijodohkan dengan sesama keluarga dekat yang semata-mata untuk menjaga kemurnian trah mereka.

Gus Putra tampak masih menunggu, sementara pikiran Laras tetap berkecamuk dalam kebimbangan. Hari-hari yang mereka lalui berdua begitu berarti untuk dilupakan dan diakhiri. Apalagi mengingat usia keduanya sudah layak untuk menikah.

Namun pikiran untuk mundur kadang terlintas dibenak Laras. Tak bisa dibayangkan gunjingan penduduk desa terhadap dirinya, jika Gus Putra harus menambatkan hati dengan seorang sudra tanpa kasta.

Sudra yang masih dianggap masyarakat tidak pantas menggapai cinta salah seorang anggota keluarga brahmana. Orang-orang di kasta atas itu sangat disegani dan dihormati di desa di kaki gunung itu. Ia rasa Gus Putra pun bukan orang bodoh yang tidak tahu konsekuensi tersebut.

Bli Gus… bukankah sudah jelas jawaban tiyang* kalau ini tidak mungkin? Laras berucap pelan, saking pelannya burung-burung pipit di depannya bahkan tidak kaget dan tetap asyik menikmati hamparan bulir padi di hadapan mereka.

Gus Putra memandang wajah Laras dengan lekat “Kitalah yang harus merubah tradisi itu Gek. Bukankah tidak ada yang kekal di dunia ini selain perubahan? Aturan itu pun sudah tidak sesuai lagi dengan zaman.”

Gek tau apa alasan tradisi ini dibuat?” Laras menggeleng polos, dari raut mukanya terlihat jika dia pun penasaran.

“Karena pada zaman itu, hanya kasta brahmanalah yang diperbolehkan mempelajari kitab suci. Rakyat jelata sama sekali tidak diperbolehkan mengakses pendidikan apa pun termasuk spiritual, apalagi jika dia seorang perempuan.”

Gus Putra melanjutkan, “Akses belajar yang sangat sulit dijangkau membuat para sudra terbelenggu dalam kebodohan, sehingga akan terjadi ketimpangan pengetahuan jika seorang sudra menikah dengan kasta brahmana. Apalagi kemudian bersanding dengan suaminya untuk nanti diangkat menjadi pemuka agama.”

“Pendeta dari golongan brahmana ini, punya tanggung jawab yang besar dalam hal ritual adat. Akan lebih baik seorang Ida Bagus mempersunting Ida Ayu yang memang sedari kecil sudah lekat dengan pengetahuan akan keyakinannya, karena mereka sama-sama tumbuh dan besar di lingkungan Griya*.”

“Lalu kenapa Bli Gus tidak mencari pendamping yang sepadan saja? Bukankah mudah bagi Bli Gus untuk mencari seorang Ida Ayu?” Laras menatap nanar sosok di depannya yang tampak masih sangat tenang.

Gus Putra tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang begitu manis di mata Laras. Bagaimana dia tidak mencintai senyuman itu?

“Zaman telah berubah Gek! Tak perduli apa kastamu, kita punya peluang yang sama dalam mengakses pendidikan. Kita punya peluang yang sama dalam bekerja. Bahkan banyak dari mereka yang sudra pun, sekarang bisa sukses dalam berbagai bidang pekerjaan, begitu pun sebaliknya. Tidak harus seorang Ida Ayu untuk menjadi pintar, tidak pula harus seorang Ida Ayu untuk bisa bersekolah.”

Laras tampak takjub dengan penjelasan Gus Putra. Inilah yang paling dia suka dari sosok kekasihnya itu. Gus Putra sangatlah cerdas dan berwawasan luas.

Gus Putra membelai rambut Laras dengan lembut. “Sudahlah tidak usah Gek jawab sekarang juga tidak apa-apa. Gus akan menunggu.”

Gus Putra pamit pergi meninggalkan Laras yang masih mematung. Laras bingung harus bagaimana menyampaikan hal ini kepada kedua orang tuanya. Pasti keluarganya akan sangat terkejut.

Sudah dua minggu Laras menimang-nimang sendirian. Akhirnya dia sampai pada kesimpulan besar dalam hidupnya, bahwa dia akan menerima tawaran Gus Putra untuk menikah.

Berhari-hari gadis itu menunggu di gubuk tepi pematang sawah tempat biasa mereka berjumpa. Namun sosok Gus Putra tak kunjung juga menyapa.

Laras resah, hatinya diliputi kekhawatiran. Akankah kekasihnya itu baik-baik saja?

Hingga hari ke sepuluh, Gus Putra tak kunjung muncul. Akhirnya pagi itu Laras bertekad datang langsung ke griya. Gadis itu tampak bersiap-siap mengenakan kebaya adat.

Biasanya dia dan meme* memang sesekali datang ke griya untuk ngayah*, namun kali ini tujuannya adalah menemui Gus Putra secara langsung, dan menyampaikan bahwa dia menerima tawaran Gus Putra untuk menikah!

Dua minggu lebih sepuluh hari. Waktu yang cukup baginya memberanikan diri dengan segala konsekuensi yang ada.

Laras berlari kecil dengan riang menyusuri jalanan setapak desa. Rumput ilalang di pinggir jalan ikut terlibas setiap Laras melewati mereka.

Hari itu tampak cerah. Sinar matahari yang sudah hampir meninggi seakan ikut berbahagia, mendukung kemantapan hatinya.

Laras dengan yakin masuk ke griya, menyapa beberapa parekan* yang dia temui sepanjang pintu masuk. Griya itu sangat luas dengan gaya bangunan khas Bali kuno.

Saking bersemangatnya, dia bahkan tidak memperhatikan suasana griya yang tampak ramai seperti sedang ada upacara. Banyak hiasan dan berbagai macam sesajen dari janur dan bunga, serta makanan tertata rapi di balai-balai.

Laras akhirnya baru tersadar dari khayalannya yang sudah tinggi untuk segera menikah. Dia tampak tercekat, seakan tidak percaya pada apa yang ada di depan matanya.

Di sebuah balai utama dengan ukiran yang paling megah, terlihat Gus Putra sedang memasang cincin ke jari manis seorang wanita.

Tepuk tangan riuh mengiringi ritual sakral tersebut. Terdengar pula janji suci terikrar dari bibir Gus Putra untuk mempelai wanita yang dia sebut bernama Ida Ayu Wulandari.

Selang berapa lama terdengar dentingan genta dengan aroma dupa, menutup upacara pernikahan itu dengan syahdu.

Laras berlari menjauh keluar area griya, tak sanggup dia menyaksikan lebih. Dadanya dipenuhi rasa sesak dan kekecewaan yang luar biasa.

Rasa cinta di dalam hati kini berubah menjadi amarah. Harga dirinya terasa dipermainkan. Tapi apalah daya, dia hanya bisa diam meski hatinya tersayat.

“Ah betapa beruntungnya jika terlahir sebagai Ida Ayu.”

Laras menggigit bibir, di antara celah daun pohon-pohon kelapa yang berjejeran, tangannya berusaha menghalau cahaya matahari yang kian teriknya bersinar. Sinar itu seolah berusaha mengeringkan air mata yang telah jatuh oleh rasa sakit.

“Wahai Bhatara Surya, Engkau pun tidak pernah memilih siapa yang pantas untuk disinari oleh cahayaMu. Memang benar tidak ada yang kekal di dunia ini selain perubahan. Hingga hati seseorang pun bisa berubah begitu cepat. Tiyang memang hanyalah terlahir sebagai seorang sudra. Tapi bukankah semua manusia, adalah sama di mataMu?!”

Tiada sahutan. Hanya angin menyemilir, dengan lambaian nyiur daun kelapa. Membelai rambut gadis yang sedang menangis itu.

Andaikan Sang Surya bisa menjawab, pastilah ia akan berkata, “Nak, jangan mengiba pada takdir untuk meminta dikasihani. Bukankah esok setelah malam datang akan selalu ada pagi?”.

Ni Wayan Wijayanti

Ikuti tulisan menarik NI WAYAN WIJAYANTI | CERPEN lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler