x

Gambar oleh jodeng dari Pixabay

Iklan

Indŕato Sumantoro

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 12 Juli 2020

Selasa, 28 Mei 2024 12:10 WIB

Harta Karun Buton, Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Tidak mungkin Allah SWT telah salah menciptakan harta karun aspal alam dan minyak bumi Buton menjadi satu, kalau bukan semata hanya untuk menyejahterakan rakyat Buton.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Baru-baru in rakyat Buton telah dikejutkan dengan berita viral mengenai adanya penemuan prospek di daerah Buton yang diperkirakan mengandung potensi minyak bumi mencapai 5 miliar barel. Prospek itu diindentifikasi setelah Kementerian ESDM mendorong pemetaan geoseismik sepanjang 2019 sampai 2020 lalu.

Meskipun berita penemuan potensi cadangan minyak bumi ini berada di lepas pantai (offshore) Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, dengan total potensi sebesar 5 miliar barel minyak, sungguh sangat menggembirakan hati rakyat Buton. Tetapi berita ini juga telah menimbulkan rasa kekuatiran, apakah berita ini dapat dipercaya, atau alias hoak? Apabila berita itu sejatinya adalah benar, bahwa cadangan minyak bumi yang telah ditemukan itu adalah sebesar 5 miliar barel minyak, maka rakyat Buton yang berjumlah sekitar 450.000 orang pasti akan menjadi makmur dan sejahtera.

Pulau Buton memiliki harta karun di darat yang berupa aspal alam dengan jumlah depositnya yang diperkirakan sebesar 662 juta ton. Sedangkan di daerah lepas pantai memiliki potensi cadangan minyak sebesar 5 miliar barel. Dengan adanya potensi sumber daya alam yang sangat luar biasa besar ini, apakah masa depan rakyat Buton dijamin pasti akan cerah? Atau mereka hanya akan menjadi penonton saja, seperti apa yang telah terjadi selama ini, dimana aspal impor telah melibas aspal Buton selama 45 tahun?.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Apakah potensi aspal alam dan minyak bumi yang terdapat di daerah daratan dan lepas pantai Pulau Buton ini merupakan berkah, atau musibah? Kalau itu memang merupakan berkah, maka kita pantas mengucapkan syukur dengan berkata: “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?”. Tetapi di sisi lain, kalau itu merupakan musibah, maka rakyat Buton harus berani berjuang sekuat tenaga untuk merubah takdir dari musibah menjadi berkah. Kalau tidak berani berjuang, maka harta karun Buton akan dirampas menjadi milik oknum-oknum jahat yang ingin mengeruk keuntungan besar dari kekayaan sumber daya alam yang berada di Buton.

Mungkin kekuatiran rakyat Buton ini perlu disampaikan kepada pemerintah. Apa yang akan rakyat Buton peroleh dari harta karun aspal alam dan minyak bumi yang melimpah? Apakah UUD’45, Pasal 33, Ayat 3, masih berlaku untuk rakyat Buton? Dan kapan rakyat Buton akan dapat menikmati berkah dari aspal alam dan minyak bumi tersebut? Dan berkah tersebut akan diperoleh rakyat Buton dalam bentuk apa? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang perlu ditanyakan agar pemerintah mau jujur dan berlaku adil kepada rakyat Buton.

Menurut berita mengenai ditemukannya potensi minyak bumi di lepas pantai Kabupaten Buton sebesar 5 miliar barel, mungkin pemerintah harus menjelaskan kepada rakyat Buton bahwa itu hanya merupakan data awal berdasarkan hasil seismik atau pemetaan. Kepastian apakah betul di daerah tersebut terdapat minyak atau tidak, masih perlu dilakukan proses pemboran sumur-sumur eksplorasi. Sedangkan untuk melakukan pemboran sumur-sumur eksplorasi di daerah lepas pantai adalah tidak mudah dan sangat mahal sekali. Oleh karena itu diperlukan Investor besar yang berani mengambil resiko ini. Karena setiap pemboran eksplorasi selalu saja ada kemungkinan dry hole, atau gagal ditemukan minyak.

Mengutip berita dari www.cnbcindonesia.com, tanggal 19 Aprl 2024, dengan judul: “Menteri ESDM Dorong Pertamina Garap 5 Miliar Barel Minyak di Buton”, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan akan mendorong Pertamina untuk segera mengembangkan lapangan Buton, minyaknya minyak berat, tapi jumlahnya besar, potensinya 5 miliar barel, 20% nya saja sudah 1 miliar barel. Nanti kita akan dorong supaya bisa dipercepat.

Pernyataan Bapak Arifin Tasrif di atas telah memancing pertanyaan, mengapa pak Arifin Tasrif tidak mau mendorong Pertamina untuk memanfaatkan dan mengolah aspal Buton? Aspal Buton pertama kali ditemukan pada tahun 1924. Jadi sampai saat ini sudah berusia 100 tahun. Mengapa pak Arifin Tasrif justru lebih mementingkan penemuan minyak bumi di lepas pantai Kabupaten Buton yang masih berupa data seismik? Sedang aspal Buton yang deposit nya sudah terbukti, dan lebih mudah dan cepat untuk dikembangkan, malah telah diabaikan?

Hal-hal seperti inilah yang telah membuat rakyat Buton merasa kesal dan bingung. Ada harta karun aspal alam di daratan Pulau Buton, kok malah dicuekin? Tetapi malah lebih memperhatikan harta karun minyak bumi di lepas pantai Kabupaten Buton. Apakah ada yang salah dengan harta karun aspal alam Buton?

Sikap pemerintah yang tidak adil ini, dimana lebih banyak berpihak dan mementingkan minyak bumi daripada aspal alam, perlu dipertanyakan oleh wakil-wakil rakyat di DPR. Aspal Buton sudah berusia 1 abad, dan masih belum dimanfaatkan dan diolah oleh pemerintah secara optimal. Mengapa pemerintah tidak mendorong Pertamina untuk memanfaatkan dan mengolah aspal Buton, dan sekaligus juga untuk mengembangkan lapangan minyak di lepas pantai Buton? Bukankah hal ini akan terasa lebih nasionalis, agar harta karun Buton tidak akan jatuh kepada negara-negara asing?

Seyogyanya rakyat Buton tidak tinggal diam saja dalam menghadapi perkembangan zaman, dimana harta karun Buton milik rakyat Buton akan diberdayakan tanpa melibatkan rakyat Buton sendiri. Seharusnya pemerintah harus mau mendengarkan keluhan dan keinginan dari hati nurani rakyat Buton, mengenai bagaimana seharusnya harta karun Buton ini dimanfaatkan dan dikelola.

Tidak ada salahnya kalau rakyat Buton menuntut agar putra dan putri Buton sendiri yang harus ikut mengelola harta karun aspal alam dan minyak bumi. Dan seharusnya pemerintah tidak hanya sekedar mendorong Pertamina untuk mengelola harta karun aspal alam dan minyak bumi Buton, tetapi harus lebih bijak dan tegas lagi, bahwa pemerintah harus menugaskan dan menunjuk Pertamina sebagai perusahaan BUMN untuk mengelola harta karun aspal alam dan minyak bumi Buton.

Pemerintah harus lebih berani bertindak tegas dan nasionalis dengan menunjuk Pertamina untuk mengelola harta karun aspal alam dan minyak bumi Buton, karena di dunia ini hanya di Pulau Buton saja terdapat harta karun aspal alam dan minyak bumi menjadi satu.

Mohon pemerintah dan Pertamina renungkan dalam-dalam sabda Allah SWT ini: “Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?”. Tidak mungkin Allah SWT telah salah menciptakan harta karun aspal alam dan minyak bumi Buton menjadi satu, kalau bukan semata hanya untuk menyejahterakan rakyat Buton.     

 

Ikuti tulisan menarik Indŕato Sumantoro lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terkini

Terpopuler