x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Perayaan Linguistik: Dari Avatar hingga Hashtags

Kata dan simbol lama muncul kembali dan mengalami evolusi makna. Kata dan simbol ini membentuk cara kita berkomunikasi di era digital.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bahasa bisa pudar, bahasa pun dapat tumbuh. Perkembangan teknologi internet terbukti mengayakan perkembangan bahasa, khususnya Bahasa Inggris, lantaran bahasa internasional ini yang paling banyak digunakan dalam kasanah teknologi informasi.

Tom Chatfield, yang sangat tertarik pada neologisme, telah menelisik dunia digital dan mendapati banyak kosakata yang unik, sejak dari hashtags hingga spam. Sebagian kata ini sebenarnya sudah ada, tapi sangat jarang digunakan hingga akhirnya menjadi kelaziman sehari-hari karena kerap dipakai dalam komunikasi di dunia digital.

Buku karya Tom, judulnya Netymology: A Linguistic Celebration of the Digital World mengisahkan cerita-cerita di balik kata-kata baru ini. Tom sudah kecanduan etimologi sejak remaja, dan secara khusus ia menaruh perhatian pada kata-kata berbau teknologi. Kata-kata ini memperlihatkan bagaimana manusia berpikir dan mengomunikasikan pikirannya kepada orang lain.

Avatar merupakan salah satu kata yang populer dan sebenarnya sudah ada sejak lama, tapi dalam konteks berbeda. Kata ini mengalami inkarnasi digital dari asal muasalnya yang mistis, dari kata avatara dalam bahasa Sansekerta. Kata ini menggambarkan keturunan dewa dari kahyangan yang turun menjelma dalam wujud yang membumi.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kata avatara muncul dalam Bahasa Inggris pada akhir abad ke-18, masih dalam pengertian mistisnya, hingga kemudian dalam novelnya Snow Crash (terbit pada tahun 1992), penulis Neal Stephenson mempopulerkan avatar dalam konteks teknologi.

Di Amerika, pada tahun 1920an, tanda # semula digunakan untuk menandai bobot dalam satuan pound. Ketika diadopsi oleh para insinyur yang bekerja di Bell Labs pada tahun 1960an, tanda hashtags ini dibawa ke publik yang lebih luas sebagai simbol fungsi generik produk baru telepon mereka. Di era Twitter, simbol hashtags benar-benar ‘merajalela’ dan berperan sebagai kode fungsi untuk interaksi sosial.

Kata, kalimat, simbol, hingga bahasa tumbuh karena digunakan oleh manusia—dan sebaliknya menjadi pudar tatkala manusia tidak memakainya. Ketika manusia membutuhkan pengucapan baru untuk menyampaikan suatu pesan, kata lama menjadi hidup kembali dan kata baru ditemukan. Di era teknologi digital seperti sekarang, yang menarik ialah bagaimana kata yang menjadi populer merupakan hasil kolaborasi manusia dan mesin, meski kadang-kadang jauh melampaui kolaborasi ini seperti pada kata Avatar yang muncul melalui dunia fiksi.

Kata lain yang melampaui kolaborasi itu ialah ‘meme’. Istilah ini ditemukan oleh ahli biologi evolusioner Richard Dawkins dan ia gunakan dalam bukunya yang terbit pada tahun 1976, The Selfish Gene. Ilmuwan Inggris ini mengambilnya dari istilah Yunani kuno, ‘mimeme’ atau an imitated thing.

Dawkins juga mendesain kata baru seperti ‘gene’ (bukan gen), yang menunjukkan suatu unit transmisi budaya. Istilah ini kemudian banyak digunakan dalam konteks teknologi online, yang berkaitan dengan kapasitas internet untuk bertindak sebagai sejenis gene-pool bagi pikiran dan keyakinan.

Istilah spam bermula dari serial komedi Inggris, Monty Python’s Flying Circus. Episode kunci serial ini, yang disiarkan pertama kali pada tahun 1970, berupa sketsa yang disebut SPAM—kata ini sebenarnya sudah digunakan sejak tahun 1937 oleh Hormel Foods Corporation sebagai kependekan dari frasa spiced ham. Karena di setiap item pada menu restoran selalu mengandung spam, lama-lama orang mencari mana sih hidangan yang tidak mengandung spam.

Spam kemudian dipakai pada awal tahun 1980an untuk menyindir siapapun yang mengirim kata-kata yang sama berulang-ulang hanya untuk menganggu jalannya diskusi. Terilhami oleh serial komedi Python, kata spam menjadi populer. Spamming dipakai untuk menggambarkan proses “mengusir” konten yang sebenarnya.

Karya Tom ini menarik. Buku ini menggambarkan bagaimana kata-kata dan simbol-simbol mengalami evolusi makna, dari yang lama ke makna yang baru. Cobalah iseng menghitung berapa kali sehari kita memakai tanda # atau @. Kata dan tanda ini menjadi semakin banyak ketika kita memasukkan pula apa yang dipakai di dunia games. Kata-kata ini membentuk cara kita berkomunikasi. (sbr foto: folkmedia.org) ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu

Terpopuler

Penumbra

Oleh: Taufan S. Chandranegara

2 hari lalu